Dolar melemah, investor ragukan efektivitas buyback US Treasury

Jumat, 21 Agustus 2026

image

WASHINGTON - Dolar AS berada di posisi lemah dan menuju penurunan mingguan pada Jumat karena investor menilai langkah Departemen Keuangan AS membeli kembali obligasi pemerintah hanya merupakan solusi sementara.

Seperti dikutip Reuters, kebijakan tersebut juga memunculkan kekhawatiran baru mengenai pendekatan pemerintah AS yang semakin aktif dalam memengaruhi pasar.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada Kamis (20/8) malam bahwa pemerintah dapat kembali meningkatkan pembelian Treasury.

Sehari sebelumnya, Departemen Keuangan mengumumkan akan menggandakan nilai pembelian kembali obligasi bertenor panjang selama kuartal berikutnya sebagai upaya meredam kenaikan tajam imbal hasil.

Bessent juga mengatakan dirinya bersama Direktur Anggaran Gedung Putih Russell Vought akan menjalankan upaya baru untuk melakukan konsolidasi fiskal sesuai arahan Presiden AS Donald Trump.

Namun, berbagai langkah tersebut belum berhasil menghentikan aksi jual Treasury dan justru menekan dolar AS.

Investor semakin khawatir terhadap memburuknya kondisi fiskal AS serta kembali mempertanyakan kredibilitas institusi pemerintah.

Di tengah pelemahan dolar, euro berada di dekat level tertinggi dalam tiga bulan di sekitar US$1,1685, dan berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 1%.

Poundsterling juga mendekati level tertinggi dalam enam bulan dan naik 0,08% menjadi US$1,3643, sehingga kenaikannya sepanjang pekan mencapai sekitar 0,8%.

Indeks dolar AS berada di jalur penurunan mingguan lebih dari 0,8% dan terakhir berada di level 98,82, mendekati posisi terendah dalam tiga bulan terhadap enam mata uang utama.

Carol Kong, ahli strategi valuta asing di Commonwealth Bank of Australia, mengatakan pembelian kembali obligasi jangka panjang oleh Treasury merupakan contoh lain penggunaan instrumen tidak konvensional oleh pemerintah AS untuk mengendalikan biaya pinjaman.

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan ketika utang pemerintah dan defisit fiskal AS terus meningkat, ditambah ketidakpastian kebijakan.

Kondisi itu berpotensi semakin membebani sentimen investor terhadap aset berdenominasi dolar AS dan mendorong investor melakukan lindung nilai serta diversifikasi.

Mata uang lainnya juga menguat terhadap dolar. Dolar Australia naik 0,13% menjadi US$0,7123, sedangkan dolar Selandia Baru naik 0,23% menjadi US$0,5957 dan berada di jalur kenaikan mingguan lebih dari 1%.

Yen Jepang melemah 0,05% menjadi 159,12 per dolar, masih tertekan oleh perbedaan suku bunga yang lebar antara AS dan Jepang.

Data yang dirilis Jumat menunjukkan inflasi konsumen inti Jepang meningkat pada Juli dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut memperkuat alasan bagi bank sentral Jepang untuk menaikkan suku bunga.

Buyback Dinilai Hanya Solusi Sementara

Imbal hasil Treasury 30 tahun naik sekitar 1,4 basis poin menjadi 5,2508% pada Jumat (21/8).

Sementara itu, imbal hasil Treasury 10 tahun berada di 4,7041% setelah sebelumnya naik 4,5 basis poin, menunjukkan bahwa dampak positif awal dari rencana buyback Bessent mulai memudar.

Vitali Meschoulam, ahli strategi Goldman Sachs, mengatakan pihaknya tidak meragukan kemampuan pembuat kebijakan untuk memengaruhi imbal hasil obligasi jangka panjang.

Sejarah menunjukkan bahwa kebijakan tersebut memang dapat memberikan dampak, setidaknya untuk sementara.

Namun, menurutnya, masalah yang dihadapi AS saat ini semakin bersifat fiskal, bukan sekadar persoalan teknis di pasar obligasi.

Contoh dari negara-negara maju menunjukkan bahwa premi jangka panjang dapat ditekan.

Namun, pengalaman negara berkembang menunjukkan bahwa ketika pasar mulai berfokus pada kemampuan pemerintah membiayai utangnya, efektivitas upaya menekan imbal hasil akan semakin terbatas.

Kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS yang telah menembus US$40 triliun juga mendorong sebagian investor beralih ke aset alternatif seperti emas dan Bitcoin.

Bitcoin bahkan naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan pada Jumat.

Harganya terakhir naik 1,6% menjadi US$73.823,43 dan berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 17%, yang akan menjadi kenaikan mingguan terbesar dalam dua setengah tahun. (DK)