Jangan salah pakai AI, peraih Nobel Saul Perlmutter beri tipsnya

Minggu, 28 Desember 2025

image

JAKARTA – Fisikawan peraih Nobel, Saul Perlmutter, memperingatkan risiko integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam kehidupan sehari-hari dan memberi tips bagaimana menggunakan AI dengan cara yang benar.

Ia menekankan bahwa bahaya terbesar AI bukan ancaman fisik, melainkan risiko psikologis berupa "ilusi pemahaman" yang dapat melemahkan penilaian dan ketajaman intelektual manusia, terutama saat teknologi ini semakin menyatu dengan pekerjaan dan proses belajar.

Dikutip dari businessinsider.com (24/12), dalam diskusi podcast bersama CEO Norges Bank Investment Group, Nicolai Tangen, Perlmutter mengatakan AI sering kali berbicara dengan nada terlalu percaya diri (overly confident), sehingga pengguna cenderung langsung mempercayai jawabannya tanpa memverifikasi. Ia menyebut kondisi ini sebagai "korsleting skeptisisme" (short-circuit skepticism), mirip bias kognitif manusia ketika mendengar informasi dari otoritas.

“Hal yang berbahaya dari AI adalah ia memberi kesan bahwa Anda telah memahami dasar-dasarnya, padahal sebenarnya belum,” kata Perlmutter, yang dikenal karena penemuannya mengenai percepatan ekspansi alam semesta. Ia mengingatkan bahwa mahasiswa yang terlalu cepat bergantung pada AI berisiko kehilangan kemampuan melakukan pekerjaan intelektual secara mandiri.

AI sebagai alat, bukan pengganti berpikir

Daripada menolak AI sepenuhnya, Perlmutter menyarankan memperlakukan teknologi ini sebagai alat bantu berpikir, bukan pengganti proses berpikir manusia. Menurutnya, AI hanya bermanfaat jika penggunanya sudah terbiasa berpikir kritis.

“Ketika Anda mengetahui berbagai pendekatan dan alat untuk memecahkan masalah, AI bisa membantu menemukan informasi yang dibutuhkan,” ujarnya.

Di Universitas California, Berkeley, Perlmutter dan rekan-rekannya mengembangkan kurikulum berpikir kritis berbasis metodologi ilmiah. Mata kuliah ini mengajarkan penalaran probabilistik, pemeriksaan kesalahan (error-checking), skeptisisme, dan ketidaksepakatan terstruktur melalui permainan, latihan, dan diskusi agar kebiasaan berpikir ini menjadi otomatis dalam kehidupan sehari-hari.

Masalah kepercayaan diri AI

Salah satu kekhawatirannya adalah nada percaya diri AI yang berlebihan. Nada otoritatif ini bisa menurunkan skeptisisme alami manusia, sehingga pengguna lebih mudah menerima jawaban AI begitu saja tanpa mempertanyakan kebenarannya.

Untuk mengatasinya, Perlmutter menekankan pentingnya mengevaluasi keluaran AI sebagaimana kita menilai klaim manusia: menimbang kredibilitas, ketidakpastian, dan kemungkinan kesalahan, bukan menerima begitu saja.

Belajar mengenali kapan kita dibohongi

Dalam ilmu pengetahuan, ilmuwan membangun sistem untuk mendeteksi kesalahan mereka sendiri, misalnya dengan blind analysis—menyembunyikan sementara hasil penelitian dari diri sendiri hingga pemeriksaan menyeluruh selesai. Prinsip serupa harus diterapkan pada AI: selalu ada kemungkinan AI menyesatkan dirinya sendiri atau penggunanya.

“Literasi AI bukan hanya soal cara menggunakannya, tetapi juga mengetahui kapan tidak mempercayainya, dan nyaman dengan ketidakpastian, alih-alih menganggap hasil AI sebagai kebenaran mutlak,” jelas Perlmutter.

Baca selengkapnya di sini. (SF).

(SF)