Dominasi dolar terendah sejak 1994, risiko pembiayaan defisit AS naik
Senin, 29 Desember 2025

JAKARTA – Peran dolar Amerika Serikat sebagai mata uang cadangan global utama terus mengalami penurunan bertahap. Laporan terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan bahwa porsi aset berdenominasi dolar AS dalam total cadangan devisa global turun menjadi 56,9% pada kuartal ketiga 2025, berdasarkan posisi cadangan hingga akhir September 2025, level terendah sejak 1994.
Data tersebut tercantum dalam laporan Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserves (COFER) IMF yang dirilis pada Desember 2025. Laporan ini mencerminkan tren jangka panjang di mana bank sentral dunia semakin mendiversifikasi pertumbuhan cadangan devisa mereka ke berbagai mata uang selain dolar AS.
Seperti dilaporkan wolfstreet.com (26/12), penurunan pangsa dolar tersebut bukan disebabkan oleh aksi jual besar-besaran aset berdenominasi USD. Kepemilikan nominal bank sentral asing terhadap aset dolar—termasuk surat utang US Treasury, sekuritas lembaga pemerintah AS, sekuritas berbasis hipotek (MBS), dan obligasi korporasi—justru naik tipis menjadi sekitar US$7,41 triliun pada akhir September 2025.
Namun demikian, secara historis sejak pertengahan 2014, total kepemilikan aset dolar oleh bank sentral asing relatif stagnan, sementara akumulasi cadangan devisa dalam mata uang lain tumbuh lebih cepat. Kondisi inilah yang menyebabkan porsi dolar dalam total cadangan global terus menyusut secara persentase, meskipun nilai nominalnya tidak turun.
IMF mencatat bahwa diversifikasi cadangan devisa tersebut terutama mengalir ke puluhan mata uang cadangan yang diklasifikasikan sebagai “non-tradisional”, yang secara kolektif kini menyumbang sekitar 5,6% dari total cadangan devisa global per akhir September 2025. Sementara itu, pangsa euro relatif stabil di kisaran 20%, dan pangsa renminbi China kembali turun ke level sekitar tahun 2019 di tengah berbagai kendala struktural, termasuk kontrol modal dan keterbatasan konvertibilitas.
Wolf Richter, Founder dan PublisherWolfStreet.com, menjelaskan bahwa penurunan bertahap status dolar sebagai mata uang cadangan utama memiliki implikasi struktural bagi Amerika Serikat. Selama beberapa dekade, permintaan kuat dari bank sentral asing terhadap aset berdenominasi dolar membantu menekan imbal hasil obligasi AS, sehingga memungkinkan pemerintah AS mendanai defisit anggaran dan defisit perdagangan (“twin deficits”) dengan biaya relatif murah.
Apabila tren penurunan porsi dolar ini berlanjut dan mendekati ambang psikologis 50%, Richter menilai permintaan terhadap utang berdenominasi dolar berpotensi melemah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan meningkatkan biaya pembiayaan defisit fiskal pemerintah Amerika Serikat. (SF)