Dolar tertekan kekhawatiran utang AS, bertahan di level terendah

Senin, 24 Agustus 2026

image

NEW YORK - Dolar yang bergerak tidak menentu bertahan di dekat level terendah dalam beberapa bulan pada Senin (24/8), di tengah pasar yang gelisah setelah Departemen Keuangan AS berjanji untuk membeli kembali lebih banyak obligasi berjangka panjang.

Seperti dikutip Reuters, para trader juga menunggu rincian sanksi terhadap Iran serta pidato kebijakan dari para pejabat AS dan Jepang pekan ini.

Dolar Kanada (CAD) melemah 0,3% dalam perdagangan Asia menjadi C$1,3807 per dolar AS, setelah perundingan perdagangan dengan AS gagal dan Washington memberlakukan tarif 50% terhadap barang-barang Kanada. Kanada membalas dengan tindakan serupa.

Dolar Australia (AUD) dan dolar Selandia Baru (NZD) diperdagangkan sedikit di bawah level tertinggi tiga bulan, masing-masing pada US$0,7166 dan US$0,5972.

Euro (EUR) bertahan nyaman di atas US$1,16 pada US$1,1680, sementara yen (JPY) tetap berada di sisi yang relatif kuat, di sekitar 159 yen per dolar.

Data yang dirilis Jumat menunjukkan pertumbuhan sektor jasa AS pada Agustus merupakan yang terkuat dalam hampir dua tahun.

Hal ini membuat para pelaku pasar menahan aksi jual dolar, tetapi belum cukup untuk mendorong dolar naik secara signifikan.

Pada Minggu, dolar mencatat penurunan mingguan terbesar terhadap bitcoin (BTC) dalam hampir 3,5 tahun.

Dolar juga melemah tajam terhadap emas (XAU), di tengah kembali munculnya kekhawatiran bahwa mata uang AS akan tertekan jika pemerintah AS berusaha menahan imbal hasil obligasi tetap rendah.

Imbal hasil obligasi jangka panjang meningkat secara global akibat kombinasi prospek pertumbuhan ekonomi yang solid, meningkatnya ekspektasi inflasi, serta kekhawatiran terhadap utang pemerintah yang terus membengkak.

Pekan lalu, setelah imbal hasil obligasi AS bertenor 30 tahun mencapai hampir level tertinggi dalam dua dekade, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menggandakan program pembelian kembali obligasi jangka panjang menjadi US$4 miliar per operasi.

Nilai tersebut memang kecil dibandingkan pasar obligasi yang bernilai US$32 triliun. Namun, sinyal bahwa pemerintah melakukan intervensi membuat para trader khawatir dan menekan dolar.

“Dengan berupaya mempertahankan harga surat berharga berdurasi panjang agar tidak jatuh, dolar menjadi saluran penyesuaian yang tersisa untuk mendorong arus dana asing guna membiayai defisit transaksi berjalan AS,” kata analis Goldman Sachs dalam sebuah catatan.

Pound sterling (GBP) menguat tipis pada US$1,3650 dalam perdagangan pagi. Sementara itu, yuan China (CNY), yang mencatat kenaikan mingguan kedelapan berturut-turut pekan lalu, bergerak di dekat level tertinggi 3,5 tahun pada 6,7232 yuan per dolar AS.

Pada Senin pukul 18.00 GMT, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan mengadakan konferensi pers setelah mengancam akan menjatuhkan “sanksi terberat dalam sejarah” terhadap Iran. Pasar terutama mencermati apakah sanksi tersebut akan menargetkan China.

Menteri Luar Negeri Iran menepis ancaman sanksi baru AS dan menyebutnya sebagai tanda keputusasaan.

Pelaku pasar juga mengharapkan kejelasan mengenai prospek suku bunga AS ketika Ketua Federal Reserve Kevin Warsh berbicara di Jackson Hole, Wyoming, pada Jumat.

Warsh juga dipastikan akan menghadapi pertanyaan mengenai program pembelian kembali obligasi oleh Departemen Keuangan AS.

“Setiap komentar mengenai neraca, pasokan obligasi berdurasi panjang, atau term premium dapat menggerakkan imbal hasil obligasi jangka panjang lebih besar daripada data ekonomi itu sendiri. Namun, mengingat gaya Warsh yang biasanya berhati-hati, kami tidak terlalu berharap banyak,” kata ahli strategi BNY, Geoff Yu.

Penampilan Wakil Gubernur Bank of Japan (BOJ) Ryozo Himino pada Kamis juga akan menjadi perhatian, sebagai petunjuk awal menjelang rapat kebijakan bulan depan.

Investor khususnya ingin melihat apakah ia akan menentang perubahan ekspektasi pasar yang mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga BOJ dengan laju yang lebih cepat.

“Himino mungkin memberi sinyal bahwa BOJ semakin dekat dengan kenaikan suku bunga berikutnya,” kata ahli strategi Commonwealth Bank of Australia, Joe Capurso.

“Namun, komentar yang bernada hawkish kemungkinan hanya akan memberikan tekanan turun yang moderat terhadap USD/JPY. Perkembangan di pasar obligasi AS merupakan faktor yang lebih penting bagi pergerakan USD/JPY.” (DK)