Kesuksesan IPO Superbank berpotensi pacu sektor teknologi ASEAN
Senin, 29 Desember 2025

JAKARTA – Penawaran umum perdana (IPO) PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank pada Desember 2025 dinilai memberikan dorongan signifikan bagi sektor teknologi di Asia Tenggara.
Bank digital yang didukung Emtek Group, Singtel, dan Grab ini menghimpun Rp2,8 triliun dalam debut pasar modalnya, dan mengalami kelebihan permintaan (oversubscription) di Bursa Efek Indonesia.
Meski reli kini telah melandai, harga sahamnya melonjak nyaris 25% menyentuh auto-reject atas (ARA) menjadi Rp790 per lembar pada hari pertama pencatatannya.
Sebelumnya, PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) atau Fore Coffee melantai pada April. Kedua perusahaan ini termasuk beberapa startup yang tetap melangsungkan rencana IPO mereka tahun ini.
Meski FORE bukan sepenuhnya berada di sektor teknologi, namun perusahaan tersebut telah dikenal sebagai startup yang didukung oleh East Ventures, venture capital yang berfokus pada sektor teknologi.
Seperti dikutip businesstimes.com, menurut beberapa analis, pasar exit Asia Tenggara diperkirakan akan bangkit pada 2025.
Dalam 10 bulan pertama tahun ini, kawasan Asia Tenggara mencatat 102 IPO. Meski lebih sedikit dibanding periode sama 2024, total dana yang dihimpun mencapai US$5,6 miliar, naik 53%, terutama dari sektor properti, jasa keuangan, dan konsumer.
Meski begitu, banyak startup menunda IPO untuk menunggu kondisi pasar yang lebih menguntungkan. Menurut Roshan Behera dari Redseer Strategy Consultants, volatilitas tinggi akibat suku bunga dan risiko politik memengaruhi sentimen pasar.
Data Tech in Asia menunjukkan sekitar 24 startup mengumumkan niat IPO, atau setidaknya diisukan akan debut di pasar modal. Sekitar sepertiganya bergerak di sektor fintech, sisanya di e-commerce atau software-as-a-service.
Dari jumlah tersebut, sekitar sembilan perusahaan telah atau berencana melantai pada 2025 atau 2026.
Di sisi lain, analis menilai kesuksesan IPO Superbank tidak hanya karena kinerja keuangan kuat, tapi juga komposisi investornya.
Dukungan pemegang saham besar yang tidak melakukan "exit strategy" atau tetap berinvestasi setelah IPO penting untuk menjaga harga saham jangka panjang, kata Andre Benas dari BCA Sekuritas.
Misalnya, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang ambles 58% dari harga IPO-nya, setelah investor pendukung seperti Alibaba dan Softbank mendivestasikan porsinya tak lama setelah pencatatannya.
Selain itu, analis melihat bahwa fenomena ini juga menunjukkan bahwa profitabilitas yang konsisten dan berkelanjutan menjadi kian penting untuk para calon emiten, dibandingkan dengan pertumbuhan yang pesat.
“IPO di 2025 cenderung berasal dari perusahaan yang lebih besar, tahap akhir, atau sudah (hampir) menguntungkan,” kata Tay Hwee Ling dari Deloitte Asia Tenggara.
Dengan demikian, calon emiten yang datang dari latar belakang startup berbasis venture capital pun perlu menyesuaikan harga saham dengan ekspektasi publik, serta menunjukkan model bisnis yang ekonomis serta pertumbuhan berkelanjutan.
Menurut Farras Farhan, analis senior Mirae Asset Sekuritas, para startup yang ingin melangsungkan debut di pasar saham kini tengah memperkuat tata kelola perusahaannya agar siap menghadapi publik ke depannya.
Di sisi lain, ia percaya bahwa kesuksesan Superbank dapat menginspirasi startup lain seperti Traveloka dan Kopi Kenangan. Traveloka dilaporkan mencatat arus kas positif pada 2024, dengan laba bersih grup US$37,7 juta, lima kali lipat dari 2023.
Kopi Kenangan juga dilaporkan mencatat EBITDA positif di Malaysia pada tahun 2024. Namun, beberapa perusahaan masih cenderung menunggu waktu dan investor yang tepat.
Meskipun IPO Superbank dinilai sukses, Roshan Behera juga menegaskan bahwa pasar membutuhkan lebih dari satu IPO yang sukses untuk mengubah persepsi pasar terhadap debut startup atau perusahaan teknologi ke depannya.
Namun, dengan turunnya suku bunga dan ancaman inflasi, ia meyakini rencana IPO dari sektor teknologi akan mulai bermunculan dalam 12-18 bulan mendatang. (DK/ZH)