Harga perak terus naik, tembus US$80 per ons
Senin, 29 Desember 2025

JAKARTA - Harga perak menembus level US$80 per troi ons untuk pertama kalinya pada Senin (29/12), didorong oleh keterbatasan pasokan, kuatnya permintaan industri, serta spekulasi lanjutan pemangkasan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari reuter.com, harga perak di pasar spot melonjak 3,8% ke level US$82,15 per ons setelah sebelumnya menyentuh rekor intraday di US$83,62 per ons.
Sepanjang tahun ini, harga perak telah melesat 181%, jauh melampaui kinerja emas. Pekan lalu harga perak melonjak 9% hingga menyentuh rekor tertinggi pada hari Jumat (26/12), didorong oleh berbagai faktor, termasuk defisit pasokan di pasar serta meningkatnya permintaan dari sektor industri.
Defisit pasokan di pasar juga diakibatkan oleh rencana China membatasi ekspor perak yang juga disorot oleh miliarder Elon Musk. Pada Sabtu (27/12), Musk menanggapi sebuah unggahan di platform X milik Jesse Peltan, yang membagikan kiriman dari Bull Theory.
Unggahan itu menyebut China berencana memberlakukan pembatasan ekspor perak mulai 1 Januari 2026, dengan mewajibkan perusahaan memperoleh lisensi dari pemerintah. “Ini tidak baik. Perak dibutuhkan dalam banyak proses industri,” tulis Musk sebagai respons terhadap unggahan tersebut.
Sementara itu, emas justru bergerak melemah. Harga emas spot turun 0,1% ke US$4.527,79 per ons pada pukul 11.52 GMT, 28 Desember, setelah mencetak rekor tertinggi US$4.549,71 pada sesi sebelumnya. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari stabil di US$4.553,10 per ons.
Sedangkan nilai tukar dolar AS bertahan di dekat level terendah dua bulan yang dicapai pada Rabu lalu, memberikan dukungan terbatas bagi harga logam mulia. Sepanjang 2025, emas telah mencatat reli kuat dengan kenaikan sekitar 72% dan memecahkan sejumlah rekor harga.Penguatan emas didorong oleh kombinasi berbagai faktor, mulai dari pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS dan ekspektasi pelonggaran lanjutan, ketegangan geopolitik global, hingga permintaan yang solid dari bank sentral dunia yang berupaya mengurangi ketergantungan pada aset dan mata uang AS.
Selain itu, peningkatan kepemilikan dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) turut menopang harga.Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump menyatakan pada Minggu bahwa dirinya dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky “semakin dekat, bahkan mungkin sangat dekat” untuk mencapai kesepakatan mengakhiri perang di Ukraina.
Sementara dari sisi makroekonomi, pelaku pasar masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga AS pada tahun depan, kondisi yang umumnya menguntungkan aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia.Untuk logam mulia lainnya, harga platinum spot turun 0,8% ke US$2.429,10 per ons setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi di US$2.478,50 per ons. Adapun palladium naik tipis 0,1% ke US$2.003,83 per ons. (DK)