Volkswagen hadapi ancaman tutup pabrik, Lower Saxony turun tangan
Rabu, 26 Agustus 2026
JAKARTA - Pemerintah negara bagian Lower Saxony mendorong seluruh pemangku kepentingan Volkswagen untuk menyusun solusi bersama guna mencegah penutupan pabrik dan menjaga industri otomotif di wilayah tersebut.
Seperti dikutip Reuters, Perdana Menteri Lower Saxony, Olaf Lies, menyampaikan hal itu saat mengunjungi pabrik Volkswagen di Hanover pada Senin (24/8). Hanover menjadi salah satu dari lima fasilitas Volkswagen di Jerman yang menghadapi potensi penutupan.
“Lower Saxony adalah wilayah industri otomotif... dan hal ini harus tetap demikian,” kata Lies.
Lies merupakan anggota dewan pengawas Volkswagen bersama keluarga pemilik dan perwakilan pekerja. Pernyataannya disampaikan menjelang rangkaian pertemuan pekerja yang berlangsung pekan ini.
Pertemuan tersebut menjadi kesempatan pertama bagi pekerja untuk menanyakan langsung kepada CEO Volkswagen Oliver Blume mengenai rencana restrukturisasi perusahaan.
Volkswagen Hadapi Tekanan Biaya
Blume sebelumnya memperingatkan Volkswagen membutuhkan pengurangan sekitar 50.000 pekerjaan untuk meningkatkan daya saing perusahaan. Jumlah tersebut berada di luar sekitar 50.000 pengurangan tenaga kerja yang telah disepakati sebelumnya di seluruh grup.
Volkswagen tengah berupaya menekan biaya di tengah meningkatnya persaingan dari produsen otomotif China serta beban tarif Amerika Serikat (AS) yang mencapai miliaran dolar.
Tekanan tersebut mendorong manajemen mengusulkan restrukturisasi yang lebih agresif, termasuk kemungkinan penutupan sejumlah pabrik di Jerman.
Namun, dewan pengawas Volkswagen menolak sejumlah elemen penting dalam rencana restrukturisasi Blume. Dewan pengawas dijadwalkan kembali menggelar pertemuan pada 4 September 2026.
Lies menilai penyelesaian persoalan Volkswagen membutuhkan keterlibatan seluruh pihak.
“Kini, penting bagi saya agar kita menemukan solusi bersama,” ujar Lies.
Pekerja Tolak Penutupan Pabrik
Ketua dewan pekerja Volkswagen Daniela Cavallo mengakui besarnya tantangan yang dihadapi perusahaan. Namun, ia kembali menolak penutupan pabrik maupun pemutusan hubungan kerja (PHK) wajib.
Cavallo menilai strategi pemulihan Volkswagen tidak bisa hanya mengandalkan pemangkasan biaya tenaga kerja dan jumlah pekerja.
“Program untuk masa depan tidak bisa diciptakan atau dipertahankan hanya dengan membicarakan pengurangan biaya tenaga kerja, pemangkasan jumlah staf, dan mempertanyakan kelayakan lokasi," kata Cavallo.
"Sebenarnya ke mana arah perusahaan kita?"(DH)