China dominasi pembelian minyak, pengaruh OPEC atas harga melemah

Senin, 29 Desember 2025

image

JAKARTA - Selama hampir satu dekade terakhir, pasar minyak global menjadikan keputusan OPEC sebagai penentu utama arah harga.Hirarki itu kini mulai diuji, seperti dikutup Reuters, meski belum tergantikan. Perubahan yang terjadi bukan pada siapa yang memegang kendali akhir, melainkan pada ke mana pelaku pasar mencari sinyal jangka pendek.Semakin sering, sinyal tersebut datang dari China. Bukan karena Beijing mengendalikan pasokan, tetapi karena pola pembeliannya kini mendominasi permintaan marjinal dan pembentukan harga dalam jangka pendek.

China kini telah melampaui OPEC sebagai kekuatan paling berpengaruh dalam pembentukan harga minyak, terutama melalui skala dan timing pembelian minyak mentahnya, bukan melalui upaya formal mengatur harga.Perubahan ini mencerminkan bagaimana pasar minyak semakin digerakkan oleh sisi permintaan, dengan China berada tepat di pusatnya.China memang merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia, namun pengaruhnya jauh melampaui angka volume impor yang sering menjadi sorotan.Analis Refinitiv baru-baru ini mencatat bahwa pandangan tradisional yang menempatkan produsen, seperti OPEC+, sebagai penentu utama harga minyak telah ditantang pada 2025 oleh China.Mereka menjelaskan bahwa penggunaan cadangan strategis oleh Beijing untuk menciptakan batas bawah dan batas atas harga minyak secara efektif menggantikan arah yang biasanya ditetapkan oleh kelompok produsen.Pandangan serupa juga disampaikan oleh sejumlah analis pasar lainnya. Berbeda dengan pembeli OECD, sistem minyak China menggabungkan BUMN energi, kilang independen, serta entitas pengelola cadangan strategis.Pola pembelian mereka cenderung tidak transparan dan sering kali tidak tercermin secara akurat dalam data real-time.

Kargo minyak bisa masuk ke penyimpanan komersial, cadangan strategis, atau bahkan floating storage dengan visibilitas yang terbatas. Ketidakpastian inilah yang kini menjadi variabel pasar tersendiri.Ketika pembelian China meningkat, harga cenderung menguat meskipun pasokan global relatif longgar. Sebaliknya, saat impor melambat, harga melemah bahkan ketika OPEC menahan produksi.Pola ini telah berulang selama dua tahun terakhir, cukup sering hingga para trader kini memperlakukan momentum impor China sebagai pendorong harga yang lebih langsung dibanding target produksi OPEC, yang kerap sudah diantisipasi atau hanya diterapkan sebagian.OPEC, khususnya Arab Saudi, masih menguasai sebagian besar kapasitas cadangan global. Kapasitas ini tetap menjadi jangkar ekspektasi jangka menengah hingga panjang.Namun, dalam kondisi pasar yang didominasi fluktuasi permintaan, kapasitas cadangan menjadi kurang relevan untuk pergerakan harga jangka pendek.Di pasar saat ini, barel marjinal lebih ditentukan oleh apakah China secara aktif menarik minyak dari pasar.Margin kilang di China juga telah menjadi indikator awal arah harga. Ketika margin membaik, terutama di kalangan kilang independen, impor minyak mentah biasanya meningkat.Saat margin tertekan, pembelian melambat dengan cepat. Karena kilang-kilang ini beroperasi dengan siklus perencanaan yang pendek dan fleksibilitas neraca yang terbatas, perilaku mereka menciptakan volatilitas yang sulit dihaluskan oleh kebijakan OPEC.Faktor geopolitik turut memperkuat dinamika ini. Peningkatan impor China dari Rusia dan pemasok lain yang terkena sanksi, melalui skema harga alternatif, melemahkan keterkaitan antara keputusan OPEC dan harga spot.

Sebelumnya,  Clyde Russell, Kolumnis Reuters, menjelaskan bahwa China kini menjaga harga minyak bukan lewat produksi, melainkan melalui strategi pengelolaan stok.

Mekanismenya relatif sederhana: ketika harga minyak turun, China meningkatkan impor dan menyimpan minyak. Sebaliknya, saat harga naik terlalu tinggi, China mengurangi pembelian.

Dengan pola ini, China secara tidak langsung menciptakan batas bawah dan batas atas harga minyak global.

(DK)