Minyak anjlok 3%, pasar redam risiko gangguan pasokan Iran

Rabu, 26 Agustus 2026

image

JAKARTA - Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 3% pada perdagangan Selasa (25/8), tertekan meredanya kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan setelah Amerika Serikat (AS) memperluas tekanan ekonomi terhadap Iran.

Seperti dikutip Reuters, kontrak berjangka Brent turun US$3,59 atau 3,9% menjadi US$88,58 per barel. Harga tersebut menjadi level terendah sejak 14 Agustus 2026.

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$2,65 atau 3,1% menjadi US$82,36 per barel, sekaligus mencatat level terendah sejak 13 Agustus.

Pasar menilai tekanan ekonomi AS terhadap Iran membawa risiko lebih kecil terhadap pasokan minyak dibandingkan eskalasi militer. Pergeseran tersebut meredakan sebagian kecemasan di pasar energi.

Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, mengatakan pengumuman sanksi AS tidak sekeras perkiraan sebagian pelaku pasar.

Pergeseran dari konflik militer ke tekanan ekonomi dalam perang AS-Israel dengan Iran telah mengurangi sebagian kecemasan pasar minyak, kata kepala strategi komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menambahkan bahwa pengumuman sanksi AS tidak sekuat yang diperkirakan beberapa pedagang.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengumumkan langkah tersebut pada Senin, hampir enam bulan setelah perang AS-Israel dengan Iran dimulai.

Bessent tidak mengungkap negara yang menjadi sasaran sanksi maupun waktu penerapannya dan menyatakan pemerintah akan memberikan waktu bagi negara terkait untuk mematuhinya.

Tekanan ekonomi tersebut kembali memunculkan harapan terhadap pembicaraan antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik. Iran dan Oman pada Selasa juga membahas proposal mengenai "koridor navigasi sementara bersama" di Selat Hormuz sekaligus rencana pembersihan ranjau di jalur pelayaran tersebut.

Namun, penurunan harga minyak yang tajam dinilai berlebihan. Ritterbusch and Associates memperingatkan harga dapat kembali melonjak jika Iran melancarkan serangan militer terhadap instalasi AS di Timur Tengah.

Iran sendiri telah berjanji merespons sanksi AS. China, sebagai pembeli terbesar minyak Iran, menyatakan kerja sama dengan Teheran berlangsung sesuai hukum internasional dan tidak seharusnya mendapat campur tangan Washington.

"Iran masih memiliki kemampuan untuk merespons dengan mengganggu pelayaran, hal yang terus mempertahankan premi residual pada harga minyak," kata Kepala Analis Pasar KCM, Tim Waterer.

Risiko gangguan pasokan juga masih terlihat dari kondisi pelayaran di kawasan. Sebuah kapal tanker terkena proyektil yang belum teridentifikasi pada Selasa dan mengalami kerusakan sekitar 16,7 kilometer sebelah timur laut Ash Shishah, Oman, menurut United Kingdom Maritime Trade Operations.

Data pelayaran menunjukkan hanya dua kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz pada Senin. Jumlah tersebut menjadi yang terendah untuk kapal komoditas dalam sehari sejak awal Mei.(DH)