Equinor: Krisis Hormuz buat proyek LNG Tanzania US$42 miliar menarik
Rabu, 26 Agustus 2026
TEHERAN — Perusahaan energi asal Norwegia, Equinor, menilai proyek ekspor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) senilai US$42 miliar di Tanzania semakin menarik untuk dikembangkan di tengah konflik Timur Tengah yang mengganggu pasokan LNG melalui Selat Hormuz.
Namun, Equinor dan Shell selaku operator bersama proyek tersebut masih menghadapi negosiasi panjang dengan pemerintah dan otoritas Tanzania.
Seperti dikutip Reuters, proyek Tanzania LNG hingga kini belum mengalami banyak kemajuan pada dekade ini.
“Tidak ingin menunggu terlalu lama untuk membawa volume LNG baru ke pasar, jadi mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk melanjutkannya,” kata Philippe Mathieu, Executive Vice President Exploration & Production International Equinor, dalam konferensi energi di Stavanger, Norwegia, Selasa (25/8).
Menurut Mathieu, krisis di Selat Hormuz serta berubahnya pandangan bahwa Qatar dan produsen gas lainnya di kawasan Teluk merupakan pemasok minyak dan gas yang paling dapat diandalkan membuat proyek LNG Tanzania semakin menarik.
“Artinya, Anda memproduksi LNG di wilayah yang tidak terpapar tantangan geopolitik seperti ini,” ujarnya.
Shell dan Equinor telah bertahun-tahun mengupayakan kesepakatan untuk memulai pengembangan proyek ekspor LNG Tanzania.
Proyek tersebut dirancang untuk menghubungkan cadangan gas alam yang ditemukan di lepas pantai Tanzania dengan terminal ekspor di pesisir negara tersebut.
Namun, kedua perusahaan migas tersebut hingga kini belum mencapai kesepakatan terperinci dan definitif dengan pemerintah Tanzania terkait syarat dan ketentuan proyek.
Jika terealisasi, proyek senilai US$42 miliar itu berpotensi menjadi investasi asing terbesar dalam sejarah Tanzania.
Setelah mengakuisisi BG Group pada 2016, Shell menjadi operator dua blok lepas pantai Tanzania, yakni Blok 1 dan Blok 4, bersama mitranya Medco Energi melalui Ophir Energy dan Pavilion Energy.
Kedua blok tersebut memiliki total temuan gas sekitar 16 triliun kaki kubik (Tcf).
Sementara itu, Equinor memulai kegiatan pengeboran eksplorasi di Blok 2 lepas pantai Tanzania pada 2011.
Perusahaan tersebut telah menemukan sembilan cadangan gas dengan estimasi volume lebih dari 20 Tcf gas in place. (DK)