Penjualan BBM China merosot, Sinopec ubah strategi bisnis

Rabu, 26 Agustus 2026

image

TIONGKOK — Sinopec, perusahaan pengolahan minyak terbesar di dunia milik negara China, berencana mengubah strategi bisnisnya di tengah anjloknya penjualan bahan bakar domestik akibat pesatnya penggunaan kendaraan listrik.

China Petroleum & Chemical Corporation, nama resmi Sinopec, akan meningkatkan alokasi modal untuk sektor energi baru dan industri kimia hingga akhir dekade.

Seperti dikutip Reuters, langkah tersebut dilakukan untuk mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba di tengah penjualan bahan bakar domestik China yang berada di level terendah dalam hampir satu dekade.

“Seiring perusahaan berkembang dalam skala, kemampuan untuk merespons perubahan pasar menjadi tidak memadai, dan ‘sindrom perusahaan besar’ masih perlu diatasi,” kata Chairman Sinopec Hou Qijun dalam sebuah majalah yang diterbitkan State-owned Assets Supervision and Administration Commission (SASAC).

Hou ditunjuk sebagai chairman Sinopec sekitar satu tahun lalu.

Pada akhir pekan, Sinopec melaporkan kenaikan laba bersih pada semester I 2026.

Namun, perusahaan memperingatkan adanya penurunan penjualan bahan bakar domestik yang telah membebani kinerja selama dua tahun terakhir.

Sinopec mencatat konsumsi produk minyak olahan domestik turun 8,6% secara tahunan akibat dampak harga minyak yang tinggi terhadap permintaan serta percepatan peralihan ke energi baru.

Penjualan bensin turun 7,9%, sedangkan konsumsi diesel merosot 11,5%.

Sebaliknya, konsumsi bahan bakar pesawat atau minyak tanah naik 1,3%, didorong perjalanan selama periode liburan dan pemulihan rute penerbangan internasional.

Permintaan domestik terhadap produk kimia utama juga melemah.

Konsumsi setara etilena tercatat turun 9,9% secara tahunan.

Di segmen pemasaran dan distribusi, pendapatan Sinopec turun 1,5% pada semester I 2026.

Sinopec mengatakan penurunan tersebut terutama disebabkan berkurangnya volume penjualan produk minyak olahan akibat tekanan harga minyak terhadap konsumsi bahan bakar serta percepatan peralihan ke energi baru.

Untuk menghadapi penurunan permintaan bahan bakar, Hou berencana mengembangkan ladang minyak serpih (shale oil), bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF), serta menekan biaya pengolahan minyak.

Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan ketahanan bisnis Sinopec terhadap perubahan pola konsumsi energi di China.

“Bensin dibuat untuk mobil, tetapi setengah dari mobil baru tidak lagi membutuhkan bahan bakar. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana memproduksi lebih banyak bensin dan diesel masih dapat menghasilkan pendapatan?” kata Hou kepada analis dalam pemaparan kinerja perusahaan pada Senin (24/8). (DK)