Iran blacklist 45 kapal, kilang India perketat pengiriman minyak

Kamis, 27 Agustus 2026

image

JAKARTA - Iran memperketat pengawasan pelayaran di Selat Hormuz setelah memasukkan 45 kapal ke daftar hitam.

Seperti dikutip Reuters, empat sumber yang mengetahui langsung persoalan tersebut mengatakan keputusan itu diambil karena meningkatnya risiko keamanan.

Iran sebelumnya memperingatkan akan mengambil tindakan terhadap kapal yang melakukan transfer muatan dengan kapal dalam daftar hitam. Kapal-kapal tersebut terancam denda, penahanan, hingga penyitaan muatan.

Produsen minyak seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) menggunakan tanker khusus untuk membawa minyak melewati Hormuz sebelum melakukan transfer STS di Teluk Oman ke kapal yang mengangkut komoditas menuju konsumen akhir.

Salah satu sumber dari kilang India mengatakan perusahaan akan menghindari kapal yang tidak memenuhi ketentuan Iran.

"Kami akan memastikan kapal-kapal sewaan kami tidak melakukan transaksi, operasi Ship-To-Ship (STS), atau aktivitas apa pun yang melibatkan kapal-kapal yang tidak patuh terkait kargo dari Timur Tengah," kata sumber tersebut.

Risiko Pengiriman Meningkat

Sejumlah kapal dalam daftar Iran terkait dengan Saudi Aramco dan Abu Dhabi National Oil Co. (ADNOC). Data pelayaran menunjukkan kapal-kapal tersebut mengangkut minyak mentah, produk olahan, dan liquefied natural gas (LNG) dari Teluk untuk kemudian melakukan transfer STS di sekitar Fujairah, UEA, atau Sohar, Oman.

Saudi Aramco dan ADNOC tidak memberikan komentar.

Ana Subasic, trade risk analyst di perusahaan pelacakan kapal Kpler, mengatakan pembeli yang memiliki standar kepatuhan ketat kemungkinan akan menghindari kapal-kapal tersebut.

Namun, perdagangan minyak kemungkinan tidak berhenti. Pelaku industri dapat mengalihkan pengiriman ke kapal, mitra dagang, atau lokasi transfer alternatif.

Sejumlah perusahaan penyewa kapal dan perusahaan pelayaran juga mulai mengevaluasi kelanjutan operasi STS mereka setelah Iran mengeluarkan peringatan tersebut.

Salah satu pembeli minyak mentah dari kawasan Teluk menilai pembelian dengan skema delivered basis, yaitu penjual bertanggung jawab mengirim minyak hingga tujuan akhir, lebih aman dibandingkan skema free-on-board (FOB) di lokasi STS di Teluk Oman.

Formosa Petrochemical Corp juga masih mengevaluasi strategi pengiriman minyak melalui Hormuz.

"Departemen internal kami masih mendiskusikan langkah selanjutnya terkait pengiriman minyak mentah dari Selat Hormuz melalui metode transfer antar-kapal untuk jangka panjang," kata Presiden Formosa Petrochemical Corp, KY Lin.

Iran sebelumnya telah menyerang sejumlah kapal tanker, termasuk Wedyan, Mombasa B, dan Al Bahyah.

Risiko terhadap pelayaran juga terlihat dari sistem pelacakan kapal. Dua dari 12 kapal very large crude carrier (VLCC) dalam daftar hitam Iran tidak lagi mengirimkan posisi melalui automatic identification system (AIS) pada Selasa setelah daftar tersebut dirilis. Kapal lainnya telah mematikan transponder AIS selama beberapa pekan.

Biaya Logistik Berpotensi Naik

Subasic menyebut risiko penyebaran dampak ke pelaku industri sebagai persoalan utama.

"Masalah utamanya adalah penularan," kata Subasic.

Jika Iran benar-benar menjatuhkan sanksi kepada kapal yang melakukan STS dengan tanker dalam daftar hitam, jumlah pemilik kapal, penyewa, dan pembeli yang bersedia mengambil risiko akan berkurang.

"Jika Iran merealisasikan ancamannya untuk menjatuhkan sanksi terhadap kapal-kapal yang melakukan transfer Ship-To-Ship (STS) dengan kapal tanker yang masuk daftar hitam, hal tersebut diperkirakan akan mempersempit jumlah pemilik kapal, penyewa, dan pembeli yang bersedia terlibat terutama di kalangan perusahaan yang memiliki eksposur signifikan di kawasan Teluk sekaligus meningkatkan persyaratan uji tuntas (due diligence) serta berpotensi menaikkan biaya angkut, asuransi, dan premi risiko."

Kondisi tersebut dapat meningkatkan kebutuhan due diligence, biaya angkutan, premi asuransi, dan biaya risiko bagi perusahaan yang masih mengandalkan jalur perdagangan melalui kawasan Teluk.(DH)