S&P Global: Gold Corridor bagian dari strategi keamanan China
Jumat, 28 Agustus 2026
LONDON — China diperkirakan akan semakin memperkuat perannya di pasar emas global seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
S&P Global menilai emas kini menjadi bagian penting dari strategi ekonomi dan keamanan nasional China.
Seperti dikutip laporan S&P Global, pemerintah China memandang emas sebagai mineral strategis.
Emas tidak hanya berperan dalam kebijakan ekonomi jangka panjang, tetapi juga menjadi bagian dari strategi keamanan nasional Beijing.
Laporan tersebut membahas berbagai aspek pasar emas China, mulai dari regulasi, permintaan konsumen, pertambangan, produksi, hingga peran bank sentral.
S&P Global juga mengulas bagaimana China memanfaatkan hubungan internasional untuk menempatkan emas dalam perencanaan ekonomi dan pertahanannya.
Strategi globalisasi China sempat terhambat akibat pandemi Covid-19.
Namun, strategi tersebut kembali berjalan dengan fokus lebih besar pada emas yang diperkirakan akan membentuk kebijakan China dalam beberapa tahun mendatang.
“Dorongan globalisasi melambat selama pandemi, tetapi kembali berjalan dengan urgensi yang lebih besar pada 2022,” tulis S&P Global.
Menurut laporan tersebut, pembekuan cadangan devisa Rusia oleh negara-negara Barat setelah pecahnya perang Rusia-Ukraina pada 2022 meningkatkan kekhawatiran pembuat kebijakan China.
Kondisi tersebut memperkuat peran emas sebagai salah satu instrumen untuk menghadapi risiko tersebut.
Sejak saat itu, tujuan keamanan nasional seperti memperkuat ketahanan ekonomi dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak asing menjadi prinsip utama dalam kebijakan China.
S&P Global menilai manfaat ekonomi dari perdagangan emas, menggunakan yuan atau penyimpanan emas sebagai cadangan, masih dapat diperdebatkan.
Namun, pertimbangan tersebut diperkirakan berada di bawah kepentingan keamanan nasional yang kini semakin dominan.
Gold Corridor
Bank Rakyat China atau People's Bank of China (PBOC) kembali meningkatkan pembelian emas pada akhir 2022.
Pada saat yang sama, Shanghai Gold Exchange (SGE) kembali memperkuat komitmennya terhadap inisiatif Gold Road yang diluncurkan pada 2019.
Gold Road, yang juga dikenal sebagai Gold Corridor, bertujuan mendorong perdagangan dan penyelesaian transaksi emas menggunakan yuan secara global.
Menurut S&P Global, inisiatif tersebut sejalan dengan tujuan jangka panjang China untuk memperluas penggunaan yuan, memperkuat ketahanan ekonomi, dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
S&P Global memperkirakan implementasinya akan berlangsung bertahap, tetapi China tetap berkomitmen menjalankannya.
Gold Road menyasar negara-negara anggota BRICS dan negara peserta Belt and Road Initiative.
Inisiatif tersebut juga berkaitan dengan upaya Beijing memperkuat hubungan perdagangan dan diplomatik dengan negara-negara Global South.
Dalam tahap terbaru, Gold Road diarahkan untuk membangun jaringan penyimpanan emas di berbagai negara.
Jaringan tersebut akan mendukung perdagangan emas berbasis yuan serta konversi yuan menjadi emas yang disimpan di fasilitas tersebut.
Semakin banyak fasilitas penyimpanan emas dibangun di negara mitra, semakin luas jaringan perdagangan, konversi, dan penyimpanan emas berbasis yuan di luar sistem dolar AS.
Fasilitas penyimpanan emas luar negeri pertama dalam jaringan tersebut dibangun di Hong Kong pada 2025.
Fasilitas itu dilengkapi oleh dua kontrak emas berbasis yuan yang penyelesaiannya dilakukan menggunakan mata uang China atau melalui penyerahan emas fisik, termasuk ke fasilitas penyimpanan baru tersebut.
S&P Global menyebut sejumlah lokasi lain yang berpotensi menjadi bagian dari jaringan tersebut, antara lain Singapura, Kuala Lumpur, Dubai, Riyadh, dan Moskow.
Kota-kota tersebut merupakan pusat perdagangan emas regional.
Jaringan tersebut dapat menghubungkan China dengan pasar emas fisik terbesar di dunia.
Fasilitas itu juga berpotensi menarik negara-negara yang ingin melakukan diversifikasi serta menyimpan emas di dalam atau dekat wilayah mereka sendiri untuk meningkatkan kendali atas cadangan tersebut.
S&P Global mengatakan masih belum jelas bagaimana fasilitas penyimpanan berikutnya akan dibangun, dioperasikan, dan diterima oleh negara mitra.
Namun, fasilitas pertama di Hong Kong diperkirakan akan menjadi model.
Hong Kong International Airport Precious Metals Depository menjadi fasilitas penyimpanan emas luar negeri pertama milik SGE.
Fasilitas tersebut dimiliki dan disertifikasi oleh SGE serta dioperasikan Bank of China (Hong Kong) Ltd.
Fasilitas tersebut memiliki kapasitas awal 150 ton.
Hong Kong berencana meningkatkan kapasitas penyimpanan emas hingga 10 kali lipat menjadi lebih dari 2.000 ton dalam tiga tahun untuk membentuk pusat penyimpanan emas regional.
Kapasitas tersebut hampir menyamai seluruh cadangan emas China.
Jumlah itu juga hampir sepertiga dari emas yang disimpan di Federal Reserve Bank of New York dan sekitar 40% dari emas yang disimpan di Bank of England di London.
Fasilitas penyimpanan emas di Hong Kong beroperasi berdasarkan sistem pengelolaan SGE.
Fasilitas tersebut juga didukung sistem kliring terpusat untuk perdagangan emas yang mulai diuji coba pada 7 Juli 2026.
S&P Global memperkirakan China akan terus menjalankan berbagai strategi terkait emas, termasuk Gold Road, seiring meningkatnya ketegangan dan konflik di berbagai belahan dunia.
“Rencana-rencana tersebut mencakup tujuan kebijakan lama sekaligus pertimbangan keamanan baru,” tulis S&P Global.
Menurut S&P Global, satu hal yang dapat dipastikan di tengah ketidakpastian global adalah peran China di pasar emas dunia akan semakin besar seiring dengan berjalannya berbagai inisiatif tersebut. (ARF)