Bursa Asia menguat tipis, Nvidia jadi penopang jelang pidato The Fed

Jumat, 28 Agustus 2026

image

SINGAPURA – Bursa saham Asia bergerak hati-hati pada perdagangan Jumat (28/8) setelah reli saham teknologi yang dipicu Nvidia, sementara pasar valuta asing dan obligasi menanti pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengenai arah suku bunga Amerika Serikat (AS).

Seperti dikutip Reuters, harga minyak berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan setelah Iran dan Oman menyepakati pengaturan lalu lintas kapal serta pembagian pendapatan di Selat Hormuz.

Namun, Washington menunjukkan sedikit minat untuk menghidupkan kembali pembicaraan langsung dengan Teheran.

Harga minyak Brent turun 0,1% menjadi US$89,63 per barel dan menuju penurunan lebih dari 5% sepanjang pekan.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik tipis 0,1%, sementara Nikkei Jepang menguat 0,5%.

Saham Taiwan naik 1,2% setelah Nvidia melonjak hampir 9% pada perdagangan Kamis (27/8) Produsen chip tersebut melaporkan kinerja yang kuat dan memberikan sinyal bahwa ledakan belanja AI masih akan berlangsung selama beberapa tahun.

Namun, KOSPI Korea Selatan turun 1% dan Hang Seng Hong Kong melemah 0,3%.

Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 0,1%, sedangkan EURO STOXX 50 futures naik 0,3%.

Investor Tunggu Pidato Warsh

Perhatian utama investor tertuju pada simposium Jackson Hole yang digelar Federal Reserve, tempat Warsh dijadwalkan menyampaikan pidato pada Jumat.

Tiga pejabat The Fed sebelumnya telah memperingatkan mengenai inflasi yang masih tinggi.

Namun, Warsh sejauh ini menahan diri untuk memberikan panduan mengenai arah suku bunga.

Pasar berjangka memperkirakan peluang sekitar 35% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 16 September.

Pasar sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga paling lambat pada Desember.

“Meski kami tidak memperkirakan dia akan memberikan panduan ke depan, pasar berharap dia dapat mengurangi sebagian ketidakpastian mengenai bagaimana The Fed merespons kondisi ekonomi,” kata analis ANZ dalam catatan kepada klien.

Analis ANZ menilai Warsh kemungkinan tidak akan memberikan kepastian tersebut.

Namun, mengingat volatilitas pasar suku bunga baru-baru ini, pidato yang terlalu minim petunjuk dapat memicu reaksi negatif pasar.

Imbal hasil obligasi AS bertenor panjang melonjak setelah pertemuan The Fed pada Juli. Warsh dinilai belum memberikan langkah konkret yang cukup untuk mengatasi inflasi yang terus tinggi.

Warsh juga memimpin The Fed yang terpecah, dengan sejumlah pejabat menyerukan kenaikan suku bunga untuk meredam tekanan harga.

Pada Jumat, imbal hasil Treasury AS 30 tahun relatif stabil di 5,1973%. Imbal hasil tersebut turun 8 basis poin sepanjang pekan setelah sempat menembus 5,3%, level tertinggi sejak 2007, yang kemudian mendorong Departemen Keuangan AS melakukan intervensi dengan meningkatkan program pembelian kembali obligasi.

Imbal hasil Treasury 10 tahun stabil di 4,6723% dan turun 7 basis poin sepanjang pekan.

Sementara itu, imbal hasil surat utang 2 tahun bertahan di 4,2279% dan relatif tidak berubah sepanjang pekan.

Dolar Stabil, Dolar Australia Menguat

Indeks dolar AS relatif tidak berubah terhadap mata uang utama di level 99,12 pada Jumat. Namun, dolar AS masih menguat 0,3% sepanjang pekan.

Dolar Australia menjadi salah satu mata uang G10 dengan kinerja terbaik setelah laporan inflasi yang tinggi pekan ini memicu perubahan tajam dalam ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga Reserve Bank of Australia.

Dolar Australia menyentuh level tertinggi tiga bulan di US$0,72 dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan 0,4%.

Jika terealisasi, ini menjadi kenaikan selama sembilan pekan berturut-turut.

Di pasar komoditas, harga emas turun 0,3% menjadi US$4.587 per ons dan diperkirakan mencatat penurunan tipis 0,2% sepanjang pekan. (DK)