Taiwan latihan di Kepulauan Penghu bersiap hadapi China
Sabtu, 29 Agustus 2026
PENGHU — Ribuan pasukan Taiwan tengah memperkuat latihan tempur di Kepulauan Penghu untuk menghadapi kemungkinan serangan China.
Kepulauan yang berada di Selat Taiwan tersebut diperkirakan menjadi salah satu sasaran awal jika Beijing melancarkan invasi ke Taiwan.
Seperti dikutip Reuters, pasukan Taiwan dalam latihan pada awal Agustus menyiapkan peluru artileri 105 milimeter sebelum memuatnya ke dalam empat tank.
Latihan tersebut berlangsung sebelum fajar di salah satu pulau utama Penghu.
Penghu merupakan tujuan wisata yang dikenal dengan pantai dan terumbu karangnya.
Dikenal dengan lokasinya yang sangat strategis, Penghu terdiri atas sekitar 90 pulau dan pulau kecil yang berjarak sekitar 50 kilometer dari pesisir barat daya Taiwan.
Pejabat Keamanan Senior Taiwan dan sejumlah pakar militer menilai Penghu akan menjadi sasaran gelombang pertama jika China mencoba menginvasi Taiwan.
Bagi Taiwan, mempertahankan Penghu dapat membantu pasukannya dalam menghadang armada China yang bergerak menuju pulau utama Taiwan.
China perlu menguasai Penghu atau menghancurkan rudal jarak jauh di kepulauan tersebut agar kapal dan pesawatnya dapat bergerak tanpa ancaman serangan dari Penghu.
“Jika kapal PLA mencoba menyerang Taiwan dengan melewati Penghu, kapal-kapal tersebut dapat dihantam rudal dari Penghu,” kata Su Tzu-yun dari Institute for National Defense and Security Research, lembaga kajian pertahanan utama Taiwan.
Menurut Su, kondisi tersebut memaksa Tentara Pembebasan Rakyat China atau People’s Liberation Army (PLA) menyerang Penghu sebelum dapat menyerang Taiwan.
Seorang pejabat senior Taiwan mengatakan kepada Reuters bahwa penempatan senjata berjangkauan lebih jauh, seperti rudal Hsiung Feng III, juga dapat menyulitkan PLA dalam mengerahkan pasukan di sepanjang pesisir China.
Pasukan tersebut bahkan dapat menjadi sasaran sebelum menyeberangi Selat Taiwan.
Jika China berhasil menguasai Penghu, seluruh Selat Taiwan secara efektif akan berada di bawah kendali Beijing, kata pejabat tersebut. Ia berbicara tanpa menyebutkan nama karena sensitivitas isu tersebut.
Perkuat Pertahanan Penghu
Pemerintah juga menjalankan program untuk meningkatkan ketahanan sekitar 110.000 penduduk kepulauan tersebut jika perang terjadi.
China sendiri tengah menjalankan pembangunan kekuatan militer besar-besaran dan belum mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk menguasai Taiwan.
Upaya China untuk menguasai Taiwan menjadi bagian penting dari persaingan Beijing dan Washington untuk memperluas pengaruhnya di kawasan Asia-Pasifik.
China menganggap Taiwan yang diperintah secara demokratis sebagai bagian dari wilayahnya.
Presiden China, Xi Jinping, telah memerintahkan PLA untuk siap menguasai Taiwan pada 2027, menurut pejabat AS.
Sementara itu, Taipei menyatakan Taiwan telah merdeka dan masa depannya hanya dapat ditentukan oleh rakyat Taiwan.
Kementerian Pertahanan China tidak menanggapi pertanyaan mengenai Penghu.
Juru bicara kementerian, Jiang Bin, sebelumnya menyebutkan bahwa rencana Taiwan untuk memperkuat pertahanan kepulauan tersebut sebagai tindakan yang “semakin absurd dan delusional”.
Ia juga memperingatkan Taipei akan menghadapi “kehancuran total” jika memicu perang.
Kementerian Pertahanan Taiwan tidak bersedia memberikan komentar mengenai rencana tempur untuk Penghu. Pentagon juga tidak menanggapi pertanyaan terkait hal tersebut.
Dalam latihan pada 10 Agustus, suasana hening sebelum fajar di Penghu berubah ketika artileri yang disamarkan dengan jaring kamuflase menembakkan peluru penerangan ke arah laut.
Peluru tersebut meledak di kejauhan dan menerangi perairan di sekitar kepulauan.
Dalam rangkaian manuver berikutnya, empat tank dan kendaraan pengangkut personel lapis baja bergerak maju menembus debu, asap knalpot, dan gas ledakan.
Pasukan menembaki sasaran yang menggambarkan pasukan penyerang yang mencoba mendarat.
Saat matahari mulai terbit, artileri, mortir, dan pasukan infanteri menembakkan senjata ke arah laut.
Peluru pelacak berwarna merah-oranye dari senapan mesin membentuk lintasan di udara.
Latihan tembak langsung tersebut berlangsung pada hari keenam latihan militer tahunan Han Kuang.
Latihan tersebut menjadi bagian dari persiapan Taiwan untuk menghadapi pendaratan pasukan melalui jalur udara dan laut.
Pada pekan yang sama, Coastal Operations Command Angkatan Laut Taiwan untuk pertama kalinya dikerahkan ke Penghu.
Sejumlah kendaraan peluncur rudal Hsiung Feng ditempatkan di wilayah pesisir untuk latihan menghadapi kapal dan pasukan yang mencoba mendarat, menurut pejabat militer Taiwan kepada Reuters.
Menurut Su, posisi strategis Penghu dan keberadaan berbagai sistem senjata membuat kepulauan tersebut menjadi sasaran utama PLA.
Dua pulau lepas pantai utama Taiwan lainnya, Kinmen dan Matsu, dinilai terlalu dekat dengan China sehingga kurang efektif menjadi bagian dari jaringan pertahanan.
Pasukan Taiwan juga dapat menjebak kapal China dalam serangan silang menggunakan rudal dari Penghu dan pulau utama Taiwan.
Rudal yang ditempatkan di Penghu juga dapat digunakan untuk melancarkan serangan balasan ke wilayah yang lebih jauh di China, kata Su.
Kementerian Pertahanan Taiwan mendorong penggunaan kendaraan udara nirawak atau unmanned aerial vehicles (UAV) untuk mempertahankan Penghu.
Militer Taiwan membentuk satuan drone pertama di kepulauan tersebut pada Juli dan mengerahkan drone dalam latihan Han Kuang.
Amerika Serikat, mitra keamanan terpenting Taiwan, juga menekankan pentingnya drone dalam pertahanan Taiwan.
China membatasi ketat pembahasan publik mengenai rencana militer spesifik terkait Taiwan. Namun, sejumlah pakar strategi China sebelumnya telah menyoroti pentingnya Penghu.
Purnawirawan Letnan Jenderal Wang Hongguang, misalnya, pada 2019 mengusulkan agar PLA “menekan Taiwan secara strategis” dengan menduduki Kepulauan Penghu.
Dalam simulasi perang yang diikuti sejumlah purnawirawan pejabat militer AS, Taiwan, dan Jepang pada tahun lalu, Penghu jatuh hanya sehari setelah China melancarkan serangan jarak jauh secara mendadak terhadap target militer dan infrastruktur di Taiwan.
Kecepatan Penghu menyerah kepada PLA mengejutkan peserta Taiwan dalam simulasi tersebut.
Ketika ditanya mengenai simulasi tersebut, Kementerian Pertahanan Taiwan merujuk pada pernyataan Menteri Pertahanan Wellington Koo tahun lalu.
Koo mengatakan pemerintah mempertimbangkan hasil latihan semacam itu ketika menyesuaikan rencana pertahanan.
Selain mempersiapkan pasukan untuk menghadapi pendaratan China, pemerintah dan warga Penghu juga mulai mempersiapkan peran mereka jika perang terjadi.
Yen Min-ching merupakan salah satu dari sekitar 1.200 warga Penghu yang telah mengikuti program “whole-of-society defense resilience” pemerintah Taiwan.
Para relawan dilatih untuk memberikan dukungan, termasuk pertolongan pertama, dalam keadaan darurat seperti gempa bumi dan invasi.
Yen merupakan mantan polisi yang kini menjadi kepala lingkungan terpilih.
Lokasi Pertama Diserang China
Ia memahami posisi Penghu yang berada di antara pesisir China dan Taiwan serta mendorong warga setempat mengikuti program tersebut.
Pemerintah Taiwan menargetkan sekitar 200.000 orang di seluruh Taiwan telah menyelesaikan pelatihan tersebut pada akhir tahun.
“Kita mutlak perlu memiliki kesadaran akan krisis,” kata Chen Chen-chung, Kepala Wilayah Huxi.
Wilayah yang dipimpinnya memiliki sejumlah infrastruktur penting, termasuk pelabuhan bongkar muat dan bandara yang digunakan untuk keperluan sipil serta militer.
Pembangkit listrik utama Penghu juga berada di wilayah tersebut.
“Kepulauan Penghu pasti menjadi salah satu tempat pertama yang diserang,” kata Chen.
Ia memimpin sekitar 100 orang dalam kelompok pertahanan sipil yang bertugas memberikan dukungan selama perang.
Tugas kelompok tersebut antara lain mendistribusikan makanan, membangun fasilitas pertahanan, dan menangkal propaganda musuh.
Pelaku usaha lokal juga mulai bekerja sama dengan pemerintah Taiwan. Salah satunya pemilik bengkel mobil, Ho Chi-hua, yang telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan pemerintah.
Dalam latihan pada Agustus yang mensimulasikan kerusakan fasilitas logistik militer, pasukan bersenjata senapan bergabung dengan staf Ho untuk berlatih melakukan perbaikan darurat kendaraan militer.
Ho mengakui kegiatan tersebut dapat membuat usahanya menjadi sasaran dalam situasi perang. Namun, ia menerima risiko tersebut.
“Kita memiliki tanggung jawab untuk melindungi tanah dan cara hidup kita sendiri,” kata Ho.
Penghu juga mempersiapkan diri untuk menghadapi tekanan China yang tidak sampai pada serangan militer.
Beijing dapat memberlakukan blokade terhadap Taiwan yang berpotensi dengan cepat menghambat perekonomian Taiwan yang bergantung pada perdagangan.
Blokade juga dapat membuat pulau-pulau lepas pantai seperti Penghu terisolasi.
Kao Yu-jou, pelajar berusia 15 tahun di Penghu, menilai warga yang kekurangan pasokan dapat dengan cepat menyerah.
“Orang mungkin berpikir, mari menyerah dulu, cari sesuatu untuk dimakan. Setelah kenyang, baru kita lihat,” kata Kao.
Namun, sopir taksi William Chen mengatakan dirinya akan melawan.
“Jika tanah air saya diserang, tidak mungkin saya hanya diam,” katanya.
Magong, pusat perkotaan Penghu, juga telah mempersiapkan respons terhadap situasi darurat.
Pemerintah kota menggelar latihan yang mensimulasikan blokade dan perang skala penuh, kata Wali Kota Huang Jian-zhong.
Pemerintah daerah juga telah menandatangani perjanjian dengan toko bahan makanan, apotek, dan perusahaan konstruksi. Kerja sama tersebut bertujuan menjaga ketersediaan pasokan darurat dan kemampuan perbaikan jika terjadi krisis, menurut dokumen pemerintah.
Chen, Kepala Wilayah Huxi, juga meminta warga menyimpan persediaan kebutuhan pokok di rumah untuk lebih dari setengah bulan.
Jika perang benar-benar terjadi, Penghu bukan pertama kali menjadi medan konflik.
Kepulauan tersebut memiliki pelabuhan alami yang dalam dan telah menjadi titik awal invasi ke Taiwan selama berabad-abad.
Ketika Taiwan masih menjadi koloni Jepang pada Perang Dunia II, pelabuhan Penghu juga menjadi sasaran serangan udara Sekutu menjelang akhir perang.
Sejumlah analis memperkirakan Penghu akan memberikan perlawanan sengit.
Ian Easton dari U.S. Naval War College, yang merupakan salah satu peneliti terkemuka mengenai rencana invasi China ke Taiwan, mengatakan tingginya potensi korban selama Perang Dunia II pernah mendorong perencana perang AS membatalkan rencana serangan terhadap kepulauan tersebut sebagai bagian dari invasi yang lebih luas ke Taiwan.
“Perkiraan saya, jika situasi buruk itu benar-benar terjadi, PLA akan menghadapi perlawanan keras untuk menaklukkan kepulauan ini,” kata Easton. (ARF)