Data American Consumer: Rumah tangga kelas menengah makin terjepit
Rabu, 31 Desember 2025

JAKARTA - Krisis biaya hidup di Amerika Serikat kian menghimpit rumah tangga kelas menengah. Lonjakan utang kartu kredit kini tidak lagi terbatas pada kelompok berpenghasilan rendah, tetapi juga menjalar ke kalangan berpendidikan dan berpenghasilan lebih tinggi.
Dikutip telegraph.co, data American Consumer Credit Counseling (ACCC) menunjukkan proporsi warga yang mengalami kesulitan utang dan memiliki gelar sarjana atau magister melonjak dari 34% pada 2021 menjadi 43% tahun ini. Fenomena ini menandai meluasnya tekanan ekonomi ke kelompok yang selama ini dianggap lebih tahan terhadap gejolak harga.
Kenneth Mohammed dari ACCC menegaskan bahwa masalah utang kini bersifat struktural dan telah berlangsung lama. “Inflasi telah melambat, tetapi yang tidak disadari orang adalah bahwa konsumen telah membiayai inflasi selama ini.”
“Mereka telah menggunakan utang kartu kredit untuk bertahan hidup. Kemudian Anda sampai pada titik di mana Anda terlalu banyak berutang dan Anda tidak dapat meminjam lagi.”
Lonjakan permintaan bantuan menjadi indikator seriusnya situasi. Panggilan ke ACCC mencapai 61.000 dalam 11 bulan pertama tahun ini, naik 11% dibandingkan tahun lalu dan tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2015.
Sekitar tiga perempat pencari bantuan tercatat masih bekerja, namun pendapatan mereka tidak lagi cukup menutup kebutuhan, meski rata-rata penghasilan rumah tangga yang bermasalah naik dari US$55.000 menjadi US$76.000.
Mohammed menambahkan bahwa tekanan yang dialami peminjam bukan masalah baru. “Sebagian besar orang yang menghubungi kami hari ini, masalah mereka mungkin dimulai tiga atau empat tahun yang lalu.”
“Mereka hidup dari gaji ke gaji, dan mereka melihat situasinya semakin memburuk,” lanjut dia,
Situasi ini menjadi tantangan politik bagi Presiden Donald Trump, yang sebelumnya berjanji menurunkan harga sejak hari pertama masa jabatannya.
Meski inflasi tahunan telah melambat dari puncak 9,1% pada Juni 2022 menjadi 2,7% pada November, harga-harga belum benar-benar turun.
Rencana pemerintah untuk memberikan cek “dividen tarif” US$2.000 bagi rumah tangga berpendapatan rendah pun dinilai belum cukup meredam tekanan.
Dampak ekonomi yang lebih luas juga mulai dikhawatirkan. Kepala ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, memperingatkan bahwa jika tekanan biaya hidup meluas ke kelas menengah [ Grafik: Garis Merah ] , konsumsi nasional (yang berpengaruh pada pertumbuhan PDB) bisa terganggu.
“Maka kita berbicara tentang 60% dari populas i dan mereka tentu saja menyumbang bagian yang semakin signifikan dari total pengeluaran konsumen.”
“Begitu hambatan-hambatan tersebut menjadi cukup signifikan, maka rumah tangga terkaya pun tidak akan cukup untuk mengimbangi dampak negatifnya.”
Sejumlah indikator keuangan memperkuat kekhawatiran tersebut. Tingkat tunggakan serius kartu kredit mencapai level tertinggi dalam 15 tahun, sementara kredit mobil subprime mencatat rekor gagal bayar.
Selain itu, proporsi pinjaman mahasiswa yang menunggak lebih dari 90 hari melonjak ke rekor 14,26 persen setelah berakhirnya moratorium pembayaran era pandemi.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa krisis biaya hidup di AS tidak lagi bersifat marginal, melainkan telah menggerus fondasi keuangan kelas menengah yang menjadi tulang punggung konsumsi dan stabilitas ekonomi nasional.
Padahal, Kepala Ekonom Moody’s Analytic Mark Zandi, mengungkapkan bahwa bahwa ekonomi Amerika Serikat bisa terhindar dari resesi jika orang orang dalam kondisi keuangan yang baik tetap mempertahankan belanja mereka.
Zandi menampilkan data terbaru Moody’s mengenai tingkat pengeluaran berbagai kelompok pendapatan [Grafik].
Data terbaru itu menunjukkan 10 persen pendapatan kelompok masyarakat kaya menyumbang 49,2 persen dari total pengeluaran, tertinggi sejak 1989.
“Ekonomi AS sebagian besar digerakkan oleh mereka yang berada dalam kondisi keuangan baik,” kata Zandi di platform X, Selasa (15/9). (DH)