Yield obligasi Jepang melonjak, dekati level tertinggi sejak 1999

Rabu, 31 Desember 2025

image

TOKYO – Pasar obligasi pemerintah Jepang menutup perdagangan tahun ini dengan tekanan kuat setelah imbal hasil acuan melonjak tajam, mencatat kenaikan tahunan terbesar dalam tiga dekade terakhir. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Jepang dan arah kebijakan moneter menjadi faktor utama pelemahan harga obligasi.

Dikutip dari Reuters, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 2 basis poin ke level 2,075%, mendekati posisi tertinggi sejak Februari 1999. Sepanjang 2025, imbal hasil tersebut melonjak hampir satu poin persentase, menjadi kenaikan tahunan paling tajam sejak 1994, seiring turunnya harga obligasi.

Volatilitas pasar obligasi meningkat setelah Bank of Japan (BOJ) mulai mengurangi pembelian obligasi, tekanan inflasi semakin mengakar, dan pemerintah mendorong strategi pertumbuhan berbasis stimulus fiskal besar-besaran.

Lonjakan imbal hasil jangka panjang semakin tajam sejak awal November, dipicu kekhawatiran pasar atas besarnya rencana belanja Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Sementara itu, imbal hasil obligasi jangka pendek juga naik menyusul pengetatan kebijakan moneter. Yield obligasi dua tahun, yang paling sensitif terhadap perubahan suku bunga, naik menjadi 1,165% setelah BOJ menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 30 tahun.

Bank sentral Jepang menaikkan suku bunga kunci menjadi 0,75% dari 0,5% dan memberi sinyal kemungkinan kenaikan lanjutan untuk menahan inflasi. Risalah rapat menunjukkan sejumlah anggota dewan menilai pengetatan lebih lanjut masih diperlukan.

Mizuho Securities menilai peluang kenaikan suku bunga berikutnya terbuka pada pertemuan Juli, meski waktu kebijakan dapat berubah jika pelemahan yen berlanjut. Ekonom pasar senior Mizuho Securities, Yusuke Matsuo, mengatakan:

"Pertahanan mata uang bisa menjadi prioritas de facto. Hal ini dapat mempercepat laju kenaikan suku bunga yang telah disebutkan sebelumnya, sehingga memerlukan kewaspadaan."

Di sisi lain, imbal hasil obligasi tenor panjang bergerak melemah pada akhir perdagangan, dengan yield 20 tahun turun ke 2,985% dan tenor 30 tahun melemah ke 3,41%. (DH)