SBI tanam modal US$270 juta di Ajaib untuk kanal stablecoin

Sabtu, 29 Agustus 2026

image

JAKARTA – SBI Holdings menanamkan modal di platform investasi Indonesia, Ajaib Group.

Dikutip dari The Block, kelompok keuangan Jepang itu memperoleh sekitar 20% saham.

Pengumumannya disampaikan pada Jumat (28/8). Investasi dilakukan melalui salah satu anak usaha SBI.

Ajaib kini berstatus perusahaan asosiasi dengan metode ekuitas. Nilai US$270 juta itu tidak diungkapkan SBI dalam pernyataannya.

Perusahaan Jepang tersebut hanya mengonfirmasi porsi kepemilikan minoritas sekitar 20%. Angkanya dikonfirmasi Ajaib melalui unggahan di LinkedIn.

Nilai tersebut setara sekitar 43 miliar yen. Perhitungan sederhana menempatkan valuasi Ajaib di kisaran US$1,35 miliar.

Nilai valuasi hasil perhitungan itu tidak dikonfirmasi kedua pihak. Ajaib menyebutnya pendanaan teknologi terbesar Indonesia sejak 2022.

Total penggalangan dananya sejak 2019 kini melampaui US$500 juta. Konteks pendanaan teknologi Indonesia menjelaskan mengapa angka ini menonjol.

Startup Indonesia hanya menghimpun US$340 juta sepanjang tahun lalu. Angkanya turun dari US$440 juta pada 2024.

Keduanya jauh di bawah US$9,44 miliar yang terkumpul pada 2021. Ajaib sendiri bermula sebagai pialang saham daring.

Seperti dilaporkan TNGlobal, perusahaan itu berkembang menjadi platform investasi dan treasuri. Cakupannya meliputi saham domestik dan internasional, obligasi, reksa dana, serta ETF.

Aset kripto, stablecoin, komoditas, dan valuta asing juga tersedia. Layanan pembayaran dan tabungan melengkapi rangkaian produknya.

Perusahaan juga menyediakan penyelesaian stablecoin di luar bursa. Layanan itu ditujukan bagi korporasi dan investor institusional di Indonesia.

Pada 2021, Ajaib menghimpun US$245 juta dengan valuasi melampaui US$1 miliar. Seperti dikutip Forbes, platformnya kini melayani lebih dari tujuh juta pengguna.

Pendirinya adalah Anderson Sumarli dan Yada Piyajomkwan. Keduanya bertemu sebagai teman sekelas program MBA di Stanford.

Nama keduanya masuk daftar Forbes Asia 30 Under 30 pada 2020. Sebagian sumber menyebut perusahaan berdiri pada 2018, sebagian lain pada 2019.

Tujuan SBI berada di lapisan yang lebih luas dari sekadar kepemilikan saham. Kelompok itu hendak menyebarkan stablecoin yen miliknya, JPYSC, di Asia Tenggara.

Stablecoin merupakan aset digital yang nilainya dipatok pada mata uang tertentu. JPYSC dipatok pada yen Jepang dan diterbitkan di bawah pengawasan otoritas Jepang.

Infrastruktur penyelesaian lintas negara berbasis rantai blok menjadi sasarannya. Langkah ini bagian dari strategi SBI APAC Digital Economic Zone.

Fokusnya diarahkan pada kawasan Asia Tenggara. SBI sudah memiliki jaringan aset digital di beberapa negara.

Bursa kripto SBI VC Trade beroperasi di Jepang. Coinhako berjalan di Singapura, sementara B2C2 menjadi pembentuk pasar di Inggris.

Kelompok itu juga mengembangkan Strium, rantai blok lapis pertama untuk aplikasi keuangan. Dana saham Jepang berbasis rantai blok digarap bersama DigiFT.

SBI juga mengembangkan stablecoin berbentuk perwalian. Chairman SBI Holdings, Yoshitaka Kitao, menyebut era tokenisasi menuntut infrastruktur global.

Menurutnya, Ajaib cocok karena menangani produk keuangan konvensional sekaligus aset digital. Skala pasar Indonesia menjadi alasan utamanya.

Negara ini memiliki lebih dari 20 juta investor ritel. Angka itu merujuk pada keseluruhan pasar, bukan basis pengguna Ajaib. Pasar ritel konsumennya ditaksir bernilai sekitar US$375 miliar.

Langkah SBI juga sejalan dengan arah kebijakan di negara asalnya. Pemerintah Jepang berencana membangun infrastruktur penyelesaian berbasis rantai blok.

Sasarannya adalah saham dan obligasi pemerintah dengan operasi pada awal 2030-an.