Goldman Sachs cermati aksi bank sentral borong emas

Sabtu, 29 Agustus 2026

image

JAKARTA - Goldman Sachs Research memperkirakan harga emas dapat melanjutkan kenaikan pada paruh kedua 2026 dan mencapai US$4.900 per troy ounce pada akhir tahun.

Proyeksi tersebut didukung pembelian emas oleh bank sentral yang terus meningkat serta berkurangnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) pada 2026.

Seperti dikutip dari GoldmanSachs, harga emas telah naik sekitar 15% dari level terendah pertengahan Juli menjadi sekitar US$4.600 per troy ounce pada 25 Agustus.

Lina Thomas, Senior Commodities Analyst Goldman Sachs Research, dan Daan Struyven, co-Head of Global Commodities Research, menilai akumulasi emas oleh bank sentral menjadi faktor struktural yang menopang harga dalam jangka panjang.

“Kami terus melihat peningkatan akumulasi emas oleh bank sentral sebagai tren jangka panjang, seiring langkah bank sentral mendiversifikasi cadangan mereka untuk memitigasi risiko geopolitik dan keuangan, yang sejalan dengan bukti survei terkini,” tulis Thomas dan Struyven.

Goldman Sachs Research memperkirakan bank sentral akan membeli rata-rata 50 ton emas per bulan sepanjang 2026. Angka tersebut jauh di atas rata-rata 17 ton per bulan sebelum 2022.

Pembelian Bank Sentral Meningkat

Diversifikasi cadangan menjadi salah satu alasan bank sentral meningkatkan kepemilikan emas. Aset tersebut dinilai lebih sulit dibekukan dibandingkan cadangan dalam mata uang asing.

Pembelian emas meningkat sejak 2022 setelah negara-negara G7 membekukan aset bank sentral Rusia di Eropa sebagai respons terhadap invasi Rusia ke Ukraina.

Menurut estimasi Goldman Sachs Research, pembelian bank sentral mencapai 100 ton per bulan pada Juni 2026 berdasarkan basis tiga bulan yang telah disesuaikan secara musiman. Angka tersebut naik dari 66 ton pada Mei.

Bank sentral China menjadi pembeli terbesar yang dapat diidentifikasi pada Juni.

Ekspektasi Suku Bunga Jadi Penopang

Ekspektasi suku bunga AS juga menjadi faktor penting bagi pergerakan harga emas.

Permintaan dari sebagian investor mulai pulih setelah pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada 2026. Secara historis, kenaikan suku bunga cenderung menekan emas karena meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil seperti obligasi.

“Kami memperkirakan hambatan terkait The Fed akan semakin mereda, seiring dengan perkiraan para ekonom kami bahwa tren inflasi yang lebih rendah akan membuat The Fed mempertahankan suku bunga tahun ini,” tulis Thomas dan Struyven.

Goldman Sachs juga melihat peluang harga emas melampaui target US$4.900 per troy ounce. Porsi emas dalam portofolio investor swasta masih relatif rendah, sementara ketegangan geopolitik, termasuk konflik Iran, dapat mendorong investor memperbesar diversifikasi aset.

Derivatif Picu Volatilitas

Di balik prospek kenaikan harga, Goldman Sachs memperingatkan meningkatnya penggunaan derivatif emas dapat membuat pergerakan harga semakin volatil.

Permintaan terhadap call options emas meningkat karena investor menggunakan instrumen tersebut untuk melindungi portofolio dari perubahan kebijakan pemerintah dalam skala besar.

Ketika harga emas mendekati level strike tertentu, dealer opsi yang menjual call options dapat meningkatkan pembelian emas untuk melakukan lindung nilai. Kondisi ini berpotensi mempercepat kenaikan harga.

Sebaliknya, penurunan harga dapat membuat dealer membalikkan posisi lindung nilai dengan menjual emas, sehingga memperbesar tekanan terhadap harga.

Proyeksi Goldman Sachs sebesar US$4.900 per troy ounce pada akhir 2026 belum memperhitungkan tingginya permintaan terhadap instrumen lindung nilai berbasis derivatif.(DH)