Indonesia kembali kaji 8 fregat New FFM Jepang
Senin, 31 Agustus 2026
JAKARTA – Indonesia kembali mengkaji peluang pengadaan delapan fregat New FFM buatan Jepang di tengah meningkatnya kerja sama pertahanan dan keamanan maritim di kawasan Indo-Pasifik.
Skema pengadaan tersebut berpotensi melibatkan pembangunan sebagian kapal di Jepang dan perakitan atau produksi lanjutan oleh PT PAL di Surabaya.
Namun, hingga kini belum terdapat kesepakatan resmi mengenai kontrak, konfigurasi kapal, nilai pengadaan, skema pembiayaan, maupun jadwal pengiriman.
Seperti dikutip DefenceSecurityAsia, pembahasan mengenai New FFM kembali mencuat setelah Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi, Menteri Pertahanan Australia Richard Marles, dan Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin menggelar pertemuan trilateral pada 26 Agustus 2026.
Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama pertahanan dan keamanan kawasan, termasuk kerja sama maritim. Namun, ketiga negara tidak mengumumkan keputusan terkait rencana pembelian fregat oleh Indonesia.
Jakarta disebut lebih tertarik pada varian New FFM yang merupakan pengembangan dari kelas Mogami Jepang. Kapal tersebut juga dikenal sebagai Upgraded Mogami atau 06FFM dan memiliki kemampuan yang lebih besar dibandingkan versi Mogami yang saat ini dioperasikan Jepang.
Dibahas Sejak 2021
Minat Indonesia terhadap fregat Jepang bukan hal baru. Pembahasan mengenai pengadaan kapal kelas Mogami telah berlangsung sejak 2021 setelah Jepang dan Indonesia menandatangani perjanjian mengenai transfer peralatan dan teknologi pertahanan.
Dalam rencana awal, Indonesia disebut mempertimbangkan pengadaan delapan fregat dengan nilai sekitar US$3,6 miliar.
Empat kapal direncanakan dibangun di Jepang, sementara empat lainnya diproyeksikan dibangun di dalam negeri melalui PT PAL. Skema tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat armada TNI Angkatan Laut, tetapi juga meningkatkan kapasitas industri pertahanan nasional.
Namun, rencana tersebut belum berlanjut menjadi kontrak pengadaan.
Sejumlah persoalan seperti pembiayaan, kapasitas industri, integrasi sistem persenjataan, dukungan pemeliharaan, serta ketersediaan kapasitas produksi menjadi faktor yang perlu diselesaikan sebelum proyek dapat direalisasikan.
Pada perkembangan berikutnya, Indonesia juga mulai mempertimbangkan sejumlah desain fregat dari negara lain. PT PAL kemudian menggunakan desain Arrowhead 140 dari Babcock untuk program fregat Merah Putih yang dikembangkan di dalam negeri.
Australia Menjadi Referensi
Minat terhadap New FFM kembali mendapatkan perhatian setelah Australia memilih desain tersebut untuk program SEA 3000.
Australia berencana memperoleh 11 kapal fregat berbasis desain New FFM untuk memperbarui armada Angkatan Laut Australia.
Pilihan Canberra memberikan gambaran bagi Indonesia mengenai konfigurasi ekspor, potensi transfer teknologi, pembangunan kapal secara lokal, hingga dukungan pemeliharaan jangka panjang dari Jepang.
Bagi Indonesia, New FFM menawarkan sejumlah kemampuan yang dinilai sesuai dengan kebutuhan operasi maritim.
Kapal tersebut memiliki 32 sel peluncur vertikal atau vertical launching system (VLS) Mk 41, tingkat otomatisasi tinggi, kemampuan peperangan antikapal selam, serta kebutuhan awak sekitar 90 personel.
Kemampuan tersebut dapat mendukung operasi pengawasan laut, perlindungan jalur pelayaran, peperangan antikapal selam, serta operasi permukaan di wilayah perairan Indonesia yang sangat luas.
Namun, pengadaan platform baru juga membawa tantangan.
Penambahan jenis fregat baru dapat meningkatkan kompleksitas logistik TNI AL, mulai dari sistem tempur, persenjataan, pelatihan awak, suku cadang, pemeliharaan mesin, hingga kebutuhan infrastruktur pendukung.
Karena itu, tantangan bagi Indonesia bukan hanya mendapatkan kapal dengan kemampuan tempur tinggi, tetapi memastikan kapal tersebut dapat dioperasikan secara optimal dan dipelihara dalam jangka panjang.
Jepang Perkuat Tawaran Pertahanan
Jepang sebelumnya telah meningkatkan pendekatan pertahanan kepada Indonesia. Tokyo melonggarkan sejumlah aturan ekspor peralatan pertahanan dan memperluas peluang kerja sama teknologi serta peralatan militer dengan negara mitra.
Indonesia dan Jepang juga telah memperluas kerja sama pertahanan, termasuk di bidang teknologi, peralatan, latihan, serta keamanan maritim.
Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali sebelumnya mengonfirmasi bahwa Jepang telah memperbarui tawaran fregat kelas Mogami dan kapal selam kepada Indonesia. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah Indonesia.
Dalam proses penjajakan tersebut, pejabat Indonesia juga telah meninjau langsung fregat Jepang, termasuk JS Kumano, untuk melihat kemampuan otomatisasi, sistem tempur, serta operasional kapal.
Sementara itu, pertemuan trilateral Jepang, Indonesia, dan Australia pada 26 Agustus memberikan momentum baru bagi kerja sama pertahanan ketiga negara. Indonesia disebut juga tertarik dengan varian Mogami yang telah diperbarui, meski keputusan pembelian masih menunggu penyelesaian pembahasan mengenai kapal perusak kelas Asagiri.
Dengan demikian, rencana delapan New FFM tersebut masih berada pada tahap penjajakan.
Belum adanya kontrak berarti Indonesia masih harus menyelesaikan sejumlah persoalan, termasuk harga, pembiayaan, konfigurasi persenjataan, transfer teknologi, produksi lokal, serta dukungan pemeliharaan.
Jika terealisasi, pengadaan tersebut tidak hanya akan menjadi proyek modernisasi armada TNI AL, tetapi juga berpotensi memperdalam hubungan industri pertahanan Indonesia dengan Jepang dan Australia di kawasan Indo-Pasifik. (GA)