Bessent peringatkan gejolak yen bisa guncang pasar global

Senin, 31 Agustus 2026

image

JAKARTA – Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent memperingatkan bahwa pergerakan yen Jepang volatil dapat memicu likuidasi paksa sejumlah posisi keuangan dan berisiko mengganggu stabilitas pasar global.

Peringatan tersebut disampaikan Bessent dalam surat tertanggal 27 Agustus yang dipublikasi setelah menanggapi permintaan Senator AS Elizabeth Warren terkait dengan alasan Washington ikut melakukan intervensi di pasar valuta asing bersama Jepang pada akhir Juli.

Seperti dikutip Reuters, menurut Bessent, gejolak tajam di pasar yen dapat memicu pelepasan posisi secara paksa (forced unwinds).

Kondisi tersebut berpotensi menyebar ke pasar keuangan global dan pada akhirnya meningkatkan biaya pinjaman bagi rumah tangga maupun pelaku usaha di Amerika Serikat.

AS-Jepang intervensi pasar

Amerika Serikat dan Jepang sebelumnya melakukan intervensi bersama untuk membeli yen pada 31 Juli. Langkah tersebut menjadi salah satu intervensi mata uang yang paling jarang dilakukan dalam beberapa dekade dan ditujukan untuk mencegah pelemahan yen serta aksi jual obligasi pemerintah Jepang menyebar ke pasar global.

Yen sebelumnya sempat melemah hingga mendekati 164 per dolar AS, level terendah dalam sekitar 40 tahun. Setelah intervensi, yen sempat menguat hingga sekitar 155,20 per dolar AS sebelum kembali melemah mendekati level 160.

Pada Jumat, dolar AS kembali menembus level 160 yen dalam perdagangan New York. Pergerakan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga dalam waktu dekat setelah komentar Ketua The Fed Jerome Powell.

Risiko terhadap pasar global

Bessent menilai volatilitas yen yang perlu diperhatikan karena Jepang merupakan salah satu pemegang utama surat utang pemerintah Amerika Serikat.

Perubahan tajam pada nilai yen dapat mendorong investor melakukan penyesuaian posisi dengan cepat. Dalam kondisi pasar yang tertekan, aksi tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas di berbagai kelas aset dan memberikan tekanan terhadap biaya pendanaan.

Karena itu, Bessent membela keputusan Washington untuk ikut mendukung Tokyo dalam menstabilkan yen. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan sebagai tindakan pencegahan agar tekanan di pasar valuta asing tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.

Gunakan Exchange Stabilization Fund

Dalam suratnya, Bessent menjelaskan bahwa Departemen Keuangan AS melakukan intervensi dengan menukar aset valuta asingnya yang dimiliki melalui Exchange Stabilization Fund (ESF) dengan yen.

ESF merupakan dana cadangan yang dikelola Departemen Keuangan AS dan digunakan untuk membantu menjaga stabilitas pasar valuta asing serta pasar keuangan domestik.

Bessent membandingkan langkah tersebut dengan penggunaan ESF dalam membantu menstabilkan pasar peso Argentina pada tahun sebelumnya. Menurut dia, prinsip yang digunakan ialah mencegah masalah likuiditas jangka pendek berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

Meski demikian, Bessent tidak mengungkapkan secara rinci nilai intervensi yang dilakukan Amerika Serikat dalam operasi pembelian yen tersebut.

Perkembangan yen selanjutnya masih menjadi perhatian pelaku pasar, terutama karena pergerakan mata uang Jepang dapat berpengaruh terhadap arus modal, obligasi pemerintah Jepang, serta kondisi pasar keuangan global. (GA)