Kredit ngebut, DPK melambat, likuiditas perbankan makin ketat?

Senin, 31 Agustus 2026

image

JAKARTA - Pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai sekitar 13% secara tahunan terus berada di atas pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang sebesar 7,7%. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan loan to deposit ratio (LDR) sekaligus memperkuat persaingan likuiditas antarbank.

Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), Irman Faiz, menilai kondisi tersebut belum menunjukkan kelangkaan likuiditas secara sistemik. Menurutnya, tekanan lebih banyak berasal dari distribusi likuiditas dan persaingan penghimpunan dana antarbank.

“Menurut saya, kesenjangan antara pertumbuhan kredit sekitar 13% YoY dan DPK 7,7% YoY memang akan mendorong LDR industri naik dan membuat likuiditas terasa lebih ketat, terutama bagi bank yang pertumbuhan kreditnya jauh melampaui pertumbuhan funding. Namun, kami melihat ini lebih sebagai persoalan distribusi dan kompetisi likuiditas antarbank, bukan kelangkaan likuiditas secara sistemik,” ujar Irman melalui WhatsApp kepada IDNFinancials, Kamis (31/8).

Irman memperkirakan penempatan dana pemerintah serta kebijakan Bank Indonesia (BI) yang lebih akomodatif melalui instrumen non-suku bunga dapat memberikan tambahan likuiditas bagi perbankan.

“Ke depan, tambahan likuiditas dari penempatan dana pemerintah serta kebijakan BI yang lebih akomodatif melalui instrumen non-suku bunga dapat memberikan bantalan. Meski demikian, selama pertumbuhan kredit masih konsisten lebih tinggi dibandingkan DPK, kompetisi funding kemungkinan tetap cukup kuat hingga akhir tahun,” ungkapnya.

Bank Perlu Perkuat Dana Murah

Menurut Irman, bank perlu memperkuat dana murah atau current account savings account (CASA) melalui peningkatan transaksi nasabah, bukan hanya dengan menawarkan bunga deposito lebih tinggi.

Strategi tersebut penting untuk menjaga cost of fund (CoF) agar tidak meningkat dan menekan net interest margin (NIM).

Dalam kondisi seperti ini, lanjutnya, strategi CASA tidak cukup hanya mengandalkan pricing. Justru kalau bank terlalu agresif menawarkan bunga deposito untuk mengejar DPK, CoF akan naik dan pada akhirnya menekan NIM.

Strategi yang lebih sustainable adalah memperkuat transactional banking dan ekosistem nasabah, sehingga dana murah terbentuk dari aktivitas pembayaran, payroll, cash management, dan transaksi nasabah sehari-hari.

“Jadi, kompetisinya perlu bergeser dari sekadar price competition menjadi ecosystem and service competition,” katanya.

Tekanan likuiditas juga berpotensi mendorong kenaikan suku bunga kredit. Namun, Irman memperkirakan bank akan melakukan penyesuaian secara selektif berdasarkan risiko, tenor, dan profitabilitas nasabah.

Bank, lanjutnya, akan lebih dahulu melakukan repricing secara selektif berdasarkan risiko, tenor, dan profitabilitas nasabah, sekaligus mengoptimalkan komposisi funding.

“Karena itu, risiko yang lebih besar menurut kami bukan kenaikan suku bunga kredit secara agresif, melainkan perlambatan marginal ekspansi kredit dan semakin selektifnya underwriting. Jika funding tetap tumbuh jauh di bawah kredit, ruang mempertahankan pertumbuhan kredit dua digit pada kecepatan saat ini akan semakin terbatas,” tutup Irman.(DH)