Laba emiten Boy Thohir capai Rp8,46 triliun, ini penopang utama
Senin, 31 Agustus 2026
JAKARTA - PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$473,77 juta atau sekitar Rp8,46 triliun pada semester I/2026. Nilai rupiah tersebut menggunakan estimasi kurs Rp17.857,14 per dolar AS.
Laba AADI meningkat 10,52% dibandingkan US$428,68 juta atau sekitar Rp7,66 triliun pada semester I/2025.
Laba per saham dasar juga naik menjadi US$0,06084 dari US$0,05505 pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan AADI mencapai US$2,55 miliar atau sekitar Rp45,48 triliun pada semester I/2026. Pendapatan tersebut tumbuh 6,13% dari US$2,40 miliar atau sekitar Rp42,85 triliun pada semester I/2025.
Penjualan Domestik Tumbuh 34,20%
Berdasarkan tujuan penjualan, pendapatan domestik mencapai US$721 juta atau sekitar Rp12,88 triliun, naik 34,20% dari US$537,27 juta pada semester I/2025.
Sebaliknya, sejumlah pasar ekspor utama mencatat penurunan. Penjualan ke India turun 2,46% menjadi US$453,29 juta dari US$464,70 juta. Penjualan ke China turun 8,63% menjadi US$199,65 juta dari US$218,52 juta, sedangkan Jepang turun 5,26% menjadi US$176,80 juta dari US$186,61 juta.
AADI masih mencatat pertumbuhan di sejumlah pasar ekspor. Penjualan ke Malaysia naik 4,12% menjadi US$451,15 juta dari US$433,28 juta. Penjualan ke Korea meningkat 7,42% menjadi US$219,42 juta dari US$204,26 juta.
Penjualan ke Hong Kong mencatat pertumbuhan paling tinggi sebesar 33,25% menjadi US$102,96 juta dari US$77,26 juta.
Sementara itu, penjualan ke Filipina turun 13,07% menjadi US$95,43 juta dari US$109,76 juta. Penjualan ke negara lainnya juga turun 24,43% menjadi US$126,89 juta dari US$167,90 juta.
Batu Bara Masih Jadi Penopang Utama
Penjualan batu bara kepada pihak ketiga masih menjadi sumber utama pendapatan AADI dengan nilai US$2,22 miliar atau sekitar Rp39,68 triliun.
Dari jumlah tersebut, penjualan batu bara ekspor kepada pihak ketiga mencapai US$1,82 miliar atau sekitar Rp32,53 triliun. Nilainya turun 2,15% dari US$1,86 miliar pada semester I/2025.
Sebaliknya, penjualan batu bara domestik kepada pihak ketiga meningkat 16,49% menjadi US$400,43 juta dari US$343,75 juta.
Penjualan domestik kepada pihak berelasi mencapai US$154,12 juta, naik 76,08% dari US$87,53 juta. Sementara itu, penjualan ekspor kepada pihak berelasi meningkat 41,73% menjadi US$3,77 juta dari US$2,66 juta.
Selain batu bara, bisnis logistik memberikan kontribusi pendapatan sebesar US$109,19 juta atau sekitar Rp1,95 triliun pada semester I/2026.
AADI juga mulai mencatat pendapatan dari penyewaan aset ketenagalistrikan dan jasa penunjangnya sebesar US$44,21 juta atau sekitar Rp789,46 miliar. Pendapatan tersebut terdiri dari penyewaan aset sebesar US$40,67 juta serta jasa operasi dan pemeliharaan sebesar US$3,55 juta.
Dari sisi neraca, total aset AADI mencapai US$6,32 miliar per 30 Juni 2026, naik 10,88% dari US$5,70 miliar pada akhir Desember 2025. Liabilitas meningkat 16,10% menjadi US$2,38 miliar dari US$2,05 miliar pada akhir 2025. Sementara itu, ekuitas AADI tumbuh 7,97% menjadi US$3,93 miliar dari US$3,64 miliar pada akhir Desember 2025.(DH)