Peluang The Fed naikkan bunga jadi 57%, dolar kembali menguat
Senin, 31 Agustus 2026
JAKARTA - Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dua pekan pada Senin (31/8), setelah pernyataan hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mendorong pasar meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada September.
Peluang kenaikan suku bunga The Fed bulan depan kini mencapai 57%, naik setelah Warsh menegaskan bank sentral AS masih perlu bertindak jika inflasi belum menunjukkan keyakinan menuju target 2%.
"Bank sentral AS akan 'memiliki pekerjaan yang harus dilakukan' jika para pembuat kebijakan tidak mendapatkan keyakinan yang mereka butuhkan bahwa inflasi sedang bergerak turun menuju 2%," ujar Warsh pada Jumat (28/8), seperti dikutip Reuters.
Pernyataan tersebut turut menopang imbal hasil obligasi Treasury AS tenor dua tahun yang sensitif terhadap kebijakan moneter. Yield surat utang tersebut bertahan di sekitar 4,33%, level tertinggi lebih dari satu bulan.
"Pembelaan Warsh terhadap target inflasi telah mengurangi tekanan besar pada dolar AS dan mengalihkan kembali fokus ke fundamental ekonomi," kata Sim Moh Siong, ahli strategi valuta asing OCBC.
Menurut dia, pernyataan Warsh membantu memulihkan kredibilitas The Fed sekaligus meredakan kekhawatiran terkait pelemahan nilai mata uang.
Pasar kini menanti data ekonomi AS, terutama laporan tenaga kerja nonpertanian atau nonfarm payrolls pada Jumat serta data inflasi konsumen pekan depan. Kedua indikator tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar menjelang rapat The Fed September.
Indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama turun tipis ke 99,6 setelah melonjak 0,6% pada Jumat dan mencapai level tertinggi sejak 17 Agustus.
Meski menguat dalam beberapa sesi terakhir, indeks dolar masih berada di jalur penurunan bulanan untuk dua bulan berturut-turut. Rencana pembelian kembali obligasi Treasury AS sebelumnya kembali memicu kekhawatiran pelemahan nilai dolar.
Di pasar valuta asing, euro naik sekitar 0,1% menjadi US$1,1590, sementara pound sterling relatif stabil di US$1,3545. Kedua mata uang tersebut masih berpotensi mencatat penguatan bulanan untuk dua bulan berturut-turut.
Yen Dekati Level 160 per DolarYen Jepang masih berada di bawah tekanan dan kembali mendekati level 160 per dolar AS. Pada Senin, yen menguat tipis ke 159,78 setelah pada Jumat menembus level 160.
Level tersebut menjadi perhatian pasar karena pelemahan yen yang berlanjut dapat meningkatkan risiko intervensi pemerintah Jepang.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan pergerakan yen belakangan ini masih “cukup terkendali” dan berharap Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda “melakukan hal yang benar” dalam kebijakan moneter.
“Secara historis, intervensi hanya dapat dilakukan ketika kondisi fundamental bergerak ke arah yang sama,” kata Carlos Casanova, ekonom senior Asia UBP.
“Yen masih berada di bawah tekanan akibat kesenjangan suku bunga yang masih lebar, suku bunga riil yang negatif, dan langkah Bank of Japan yang berhati-hati.”
Pasar juga mencermati pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G20 yang berlangsung di AS pada Senin dan Selasa. Investor akan mengamati langkah bersama terkait Iran serta upaya meredakan kekhawatiran terhadap kenaikan utang dan yield obligasi AS.
Sementara itu, yuan China menguat ke 6,72 per dolar setelah data menunjukkan aktivitas manufaktur China membaik pada Agustus, meski masih berada dalam zona kontraksi.
Dolar Selandia Baru stabil di sekitar US$0,5918, sedangkan dolar Australia naik 0,1% menjadi US$0,7165. (DH)
Terkait: Profesor Wharton School bedah pidato Kevin Warsh via grafik obligasi