Emas dan perak unggul di 2025, saat minyak dan pertanian melemah
Kamis, 01 Januari 2026

JAKARTA - Logam mulia menjadi komoditas dengan kinerja paling menonjol tahun 2025. Perak mencatatkan kinerja luar biasa, melampaui sebagian besar indeks saham utama dan mata uang global, sementara emas menembus rekor tertinggi baru di tengah meningkatnya risiko ekonomi dan geopolitik.
Seperti dikutip reuters.com, Rabu (31/12) logam industri juga membukukan kenaikan kuat sepanjang 2025.
Harga tembaga menyentuh level tertinggi sepanjang masa, namun komoditas seperti kakao, gula, dan minyak mentah justru masuk dalam daftar penurun terbesar tahun ini.
Ke depan, analis menilai logam mulia masih berpotensi melanjutkan penguatan pada 2026 seiring ekspektasi penurunan suku bunga.
Sebaliknya, sektor pertanian dan energi diperkirakan tetap tertekan akibat pasokan yang melimpah dan permintaan yang lesu.
“Permintaan logam terlihat solid, baik dari sisi industri maupun ritel,” kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.
Ia menambahkan bahwa pembelian bank sentral serta posisi investor menjelang potensi penurunan suku bunga AS pada 2026 masih menjadi faktor pendukung utama.
Sepanjang 2025, harga perak melonjak 161% dan untuk pertama kalinya menembus level US$80 per ons, sementara emas naik 66%.
Dukungan terhadap perak datang dari statusnya sebagai mineral kritis di AS, keterbatasan pasokan, dan rendahnya persediaan. Emas juga ditopang oleh pembelian berkelanjutan dari bank sentral. Platinum dan paladium pun berada di jalur kenaikan tahunan yang kuat.
“Kami masih melihat potensi kenaikan lanjutan pada logam mulia karena banyak risiko tahun ini berlanjut ke 2026,” ujar analis komoditas BNP Paribas, Jason Ying.
Di pasar energi, harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate masing-masing turun sekitar 15% sepanjang tahun, dengan Brent menuju rekor periode penurunan tahunan terpanjang akibat peningkatan pasokan global.
Pelemahan terjadi meski ada gangguan pasokan dari konflik Ukraina dan sanksi AS terhadap Venezuela. OPEC+ telah menunda kenaikan produksi pada kuartal pertama 2026 setelah menambah sekitar 2,9 juta barel per hari sejak April 2025.
Sementara itu, harga tembaga di Bursa Logam London melonjak hampir 44% pada 2025 dan mencapai rekor baru, didorong oleh pelemahan dolar AS, permintaan dari sektor kecerdasan buatan dan energi terbarukan, serta gangguan produksi tambang.
Timah dan aluminium juga menguat, sedangkan bijih besi relatif bertahan meski produksi baja China menurun.
Sebaliknya, pasar pertanian mengalami tekanan berat. Kakao menjadi komoditas dengan kinerja terburuk tahun ini setelah anjlok 48%, berbalik arah dari lonjakan tajam pada 2024. Gula mentah dan kopi robusta juga melemah sekitar 20%.
Gandum dan jagung diperkirakan menutup tahun dengan kinerja negatif akibat pasokan global yang melimpah.
Minyak sawit Malaysia turun 9% sepanjang 2025 karena pasokan yang tinggi, meski kebijakan biodiesel Indonesia berpotensi menjadi penopang. Harga karet juga melemah akibat meningkatnya produksi di Thailand dan lemahnya permintaan dari industri otomotif. (DK)