Yield obligasi Jepang 10 tahun naik capai level tertinggi sejak 1996

Selasa, 01 September 2026

image

TOKYO — Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun menembus level 3% untuk pertama kalinya sejak September 1996.

Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan inflasi, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, serta perubahan arah kebijakan moneter Jepang.

Seperti dikutip Reuters, kenaikan yield terjadi di tengah kekhawatiran inflasi global akibat krisis Timur Tengah.

Pasar juga semakin memperkirakan Bank of Japan (BOJ) akan mempercepat kenaikan suku bunga.

Yield JGB 10 tahun telah meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir.

Pada tenor lima tahun, yield berada di level tertinggi sepanjang masa.

Sementara itu, yield tenor dua tahun mencapai level tertinggi dalam 31 tahun karena pasar hampir sepenuhnya memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan bulan ini.

Tekanan inflasi dan nilai tukar yen yang berada di sekitar level terlemah dalam hampir empat dekade turut mendorong BOJ untuk mempercepat kenaikan suku bunga.

Bank sentral tersebut juga menghadapi kritik dari dalam maupun luar negeri karena dinilai terlambat dalam menormalisasi kebijakan moneter. Proses normalisasi tersebut mencakup pengurangan bertahap kepemilikan JGB dalam jumlah besar.

Tekanan jual di pasar obligasi Jepang menjadi perhatian karena tingginya beban utang membuat negara tersebut rentan terhadap kenaikan biaya pinjaman. Permintaan dalam lelang JGB tenor 10 tahun pada Agustus juga menjadi yang terlemah dalam setahun terakhir.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mendorong strategi pertumbuhan berbasis investasi dengan fokus pada sektor-sektor strategis sejak menjabat pada Oktober.

Rencana belanja tersebut, ditambah pemangkasan pajak, memicu kekhawatiran kondisi fiskal Jepang akan semakin memburuk. Rasio utang Jepang saat ini telah melampaui 200% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Tekanan di pasar obligasi juga terjadi di sejumlah negara lain.

Di tengah konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir serta harga minyak yang masih tinggi, yield obligasi AS, Jerman, dan Prancis naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Kenaikan tersebut didorong oleh ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan potensi pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral. (ARF)