Jepang dan AS sepakat lanjutkan koordinasi untuk stabilkan yen

Selasa, 01 September 2026

image

ASHEVILLE — Jepang dan Amerika Serikat sepakat melanjutkan koordinasi untuk menjaga pergerakan yen tetap teratur.

Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, mengatakan stabilitas yen penting bagi pasar keuangan global.

Seperti dikutip Reuters, kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan Katayama dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

Pertemuan berlangsung di sela-sela pertemuan para menteri keuangan negara-negara G20 di Asheville, North Carolina.

Yen kembali melemah ke sekitar 160 per dolar. Level tersebut meningkatkan perhatian pasar terhadap kemungkinan intervensi valuta asing untuk menopang yen.

“Kami pada dasarnya menegaskan kembali apa yang telah kami sampaikan saat melakukan intervensi yen bersama bulan lalu,” kata Katayama kepada wartawan pada Senin (31/8).

Katayama mengatakan tidak ada perubahan dalam posisi Jepang untuk tetap siap bertindak jika pergerakan pasar menjadi tidak teratur.

Menurutnya, koordinasi antara Jepang dan AS akan terus berlangsung.

Pertemuan tersebut menjadi pertemuan tatap muka pertama antara Katayama dan Bessent sejak intervensi bersama Jepang-AS bulan lalu.

Pertemuan G20 di Asheville dijadwalkan berakhir pada Selasa (1/9).

Katayama enggan berkomentar ketika ditanya apakah pelemahan yen mendekati 160 per dolar masih tergolong teratur.

Dia mengatakan sulit untuk dapat menilai faktor yang mendorong pergerakan nilai tukar.

Pernyataan Katayama berbeda dengan Bessent.

Dalam wawancara dengan Reuters pada Minggu (30/8), Bessent mengatakan pergerakan yen belakangan ini “cukup terkendali”. Pernyataan tersebut mengindikasikan pelemahan yen belum dianggap sebagai pergerakan tidak teratur yang memicu intervensi bersama bulan lalu.

“Kami menegaskan bahwa nilai tukar yen yang teratur sangat penting bagi stabilitas pasar keuangan global, termasuk Amerika Serikat,” kata Katayama.

Ia menambahkan bahwa koordinasi berkelanjutan antara Jepang dan AS berkontribusi terhadap tujuan tersebut.

Katayama juga mengatakan telah menjelaskan kepada mitra-mitranya, jika diperlukan, bahwa intervensi bersama dengan AS dilakukan sesuai kesepakatan internasional, termasuk kesepakatan negara-negara G7.

Diplomat valuta asing utama Jepang, Atsushi Mimura, yang hadir dalam pertemuan tersebut mengatakan kedua negara membahas kerja sama kebijakan valuta asing secara konstruktif.

Intervensi bersama sebulan lalu sempat mendorong yen menjauh dari level terlemahnya dalam 40 tahun, yakni hampir 164 per dolar.

Namun, langkah tersebut belum mampu menopang yen secara berkelanjutan.

Yen sempat turun melewati level 160 per dolar pada Jumat (28/8) setelah pernyataan Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, kembali memicu ekspektasi kenaikan suku bunga AS dalam waktu dekat.

Pada Selasa (1/9), yen berada di sekitar 159,80 per dolar di pasar Asia.

BOJ dan Yield JGB

Pelemahan yen telah meningkatkan harga barang impor dan tekanan inflasi secara lebih luas. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pembuat kebijakan Jepang .

Katayama mengatakan dirinya juga menjelaskan kepada Bessent upaya Jepang untuk menurunkan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) secara bertahap sembari mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang kuat.

Menurut Katayama, Bessent merespons penjelasan tersebut secara “sangat positif”.

Katayama enggan berkomentar mengenai kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun yang mendekati 3%.

Ketika ditanya mengenai laporan bahwa Bessent meminta Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, untuk menaikkan suku bunga dalam pertemuan bilateral terpisah, Katayama menegeskan bahwa keputusan kebijakan moneter merupakan kewenangan BOJ.

Pernyataan terbaru Bessent yang kembali menyerukan kenaikan suku bunga membuat pasar semakin memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga pada September.

Tekanan terhadap BOJ juga meningkat untuk mempercepat kenaikan suku bunga berikutnya.

Ueda turut berada di Asheville untuk menghadiri pertemuan para menteri keuangan G20.

BOJ dijadwalkan untuk menggelar rapat kebijakan pada 17–18 September mendatang.

Pasar hampir sepenuhnya memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga menjadi 1,25% dari 1% setelah kenaikan pada Juni. (ARF)