Dolar AS menguat, harga minyak naik picu kekhawatiran inflasi

Rabu, 02 September 2026

image

NEW YORK – Dolar AS bertahan menguat pada perdagangan Rabu (2/9), didukung meningkatnya permintaan aset safe haven setelah eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mendorong harga minyak dan memicu kekhawatiran inflasi.

Seperti dikutip Reuters, penguatan dolar juga ditopang kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), meski sejumlah data ekonomi terbaru berada di bawah perkiraan pasar.

AS melancarkan serangkaian serangan udara terhadap Iran pada Selasa (1/9).

Iran kemudian melakukan serangan balasan dalam eskalasi konflik paling serius dalam beberapa pekan terakhir.

Harga minyak naik hampir 1% pada perdagangan awal Rabu, melanjutkan lonjakan pada sesi sebelumnya.

Kontrak Brent naik 0,92% menjadi US$95,52 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 0,89% menjadi US$91,02 per barel.

“Pemantauan ketat masih diperlukan terhadap situasi di Timur Tengah hari ini,” kata Kumiko Ishikawa, analis senior valuta asing di Sony Financial Group.

Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama, termasuk yen dan euro, berada di level 99,67.

Data pembukaan lapangan kerja AS berdasarkan JOLTS untuk Juli serta indeks manufaktur ISM Agustus yang dirilis pada Selasa berada di bawah ekspektasi pasar.

Namun, pasar keuangan justru meningkatkan perkiraan kenaikan suku bunga The Fed setelah pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pekan lalu.

Berdasarkan CME Group FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September mencapai 67%, naik dari sekitar 40% sepekan sebelumnya.

“Untuk data AS, perlu diingat bahwa jika angkanya lemah, dampaknya dapat diimbangi oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah,” ujar Ishikawa.

Data ketenagakerjaan dan inflasi konsumen AS untuk Agustus akan dirilis sebelum pertemuan The Fed pada 15-16 September.

Laporan ketenagakerjaan yang akan dirilis Jumat diperkirakan menunjukkan penambahan 56.000 tenaga kerja pada bulan lalu berdasarkan median estimasi ekonom yang disurvei Reuters.

Gubernur The Fed Michael Barr pada Selasa mengatakan bahwa jika inflasi tidak segera mereda, sudah waktunya bagi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik tipis ke 4,8%.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun berada di sekitar 3% pada Rabu pagi setelah mencapai level tertinggi dalam 30 tahun pada Selasa.

Imbal hasil yang lebih tinggi mendorong investor mengalihkan dana ke mata uang safe haven seperti dolar AS, sekaligus mengurangi daya tarik aset berisiko seperti saham.

Di pasar valuta asing, dolar Selandia Baru melemah tipis ke US$0,5889 menjelang keputusan suku bunga Reserve Bank of New Zealand (RBNZ).

Bank sentral tersebut diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 2,75%.

Poundsterling Inggris turun 0,04% menjadi US$1,3509, sedangkan dolar Australia relatif stabil di level US$0,7143.

Di pasar kripto, bitcoin turun 0,07% menjadi US$77.376,22.

Ethereum melemah 0,08% menjadi US$2.418,26.

Sementara itu, yen Jepang relatif stabil terhadap dolar AS di level 160,21 per dolar, tetap berada di atas level psikologis 160 per dolar meski pasar memperkirakan Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga bulan ini.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan dukungan kuat terhadap langkah moneter yang “tegas” untuk mengatasi pelemahan yen dalam pertemuannya dengan Gubernur BOJ Kazuo Ueda, menurut Departemen Keuangan AS.

Ueda mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya berharap dapat berdiskusi dengan anggota dewan BOJ dalam pertemuan bulan ini mengenai apakah kondisi ekonomi berjalan sesuai perkiraan serta apakah risiko inflasi meningkat.

Salah satu anggota dewan BOJ yang dikenal hawkish juga dijadwalkan menyampaikan pidato pada Rabu.

Intervensi bersama AS dan Jepang pada akhir Juli sempat memberikan dorongan terhadap yen dan menjauhkannya dari level terendah dalam 40 tahun di 163,99 per dolar.

Namun, sejak saat itu yen telah kehilangan sekitar separuh penguatannya setelah intervensi tersebut.

“Peluang untuk kembali melakukan intervensi terkoordinasi tampaknya kecil hingga terjadi deeskalasi di Selat Hormuz yang dapat meredakan tekanan terhadap harga minyak,” kata Tony Sycamore, analis pasar di IG. (DK)