Menteri Energi Amerika: Produksi minyak Venezuela akan naik 100%
Rabu, 02 September 2026
CARACAS — Menteri Energi Amerika Serikat (AS), Chris Wright, mengatakan produksi minyak Venezuela berpotensi untuk naik lebih dari dua kali lipat dalam beberapa tahun ke depan.
Proyeksi tersebut muncul setelah sejumlah perusahaan minyak AS dan negara lain bersiap meneken kesepakatan proyek energi di Caracas.
Dikutip dari Reuters, Wright menyampaikan proyeksi tersebut setelah tiba di Venezuela pada Selasa (2/9). Dia melakukan kunjungan selama satu hari ke negara anggota pendiri OPEC tersebut.
Produksi minyak Venezuela pernah mencapai lebih dari 3 juta barel per hari (bph) pada akhir 1990-an. Namun, produksinya kemudian anjlok akibat minimnya investasi, salah kelola, dan sanksi AS.
Dalam beberapa bulan terakhir, produksi minyak Venezuela berada pada kisaran 1,1 juta-1,2 juta bph. Angka tersebut sedikit meningkat sejak pemimpin Venezuela Nicolas Maduro, ditangkap oleh pasukan AS pada Januari.
Wright juga memperkirakan harga bensin di AS akan turun dalam beberapa pekan mendatang.
Pemerintahan Presiden Donald Trump telah mengambil sejumlah langkah untuk melonggarkan regulasi bagi perusahaan kilang.
“Investasi dari kesepakatan-kesepakatan ini akan meningkatkan pasokan minyak secara signifikan. Kondisi tersebut akan menekan harga minyak,” kata Wright kepada wartawan setelah tiba di Venezuela.
Namun, menurut Wright, kapasitas pengolahan minyak masih menjadi kendala utama bagi harga bensin dan solar di AS.
Wright melakukan perjalanan bersama sejumlah pejabat dari Departemen Keuangan dan Departemen Luar Negeri AS.
Chevron, produsen minyak AS terbesar di Venezuela, dijadwalkan untuk meneken kesepakatan proyek energi bersama Eni dari Italia, ONGC dari India, GeoPark dari Kolombia, dan GE Vernova dari AS di Venezuela pekan ini.
Kunjungan Wright berlangsung beberapa hari setelah Trump mengumumkan kesepakatan terpisah yang memberikan AS akses jangka panjang terhadap seperlima dari cadangan minyak terbukti Venezuela. Negara tersebut memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia.
Melalui kesepakatan tersebut, perusahaan minyak swasta yang didukung AS, North American Blue Energy Partners (NABEP), akan memperoleh hak kelola selama 100 tahun atas 17 ladang minyak di Venezuela.
Ladang-ladang tersebut memiliki sekitar 65 miliar barel cadangan minyak.
Kesepakatan NABEP dikendalikan oleh pengusaha Venezuela, Alejandro Betancourt. Kesepakatan tersebut dirancang oleh Washington dan Caracas tanpa melalui proses tender kompetitif.
Kondisi tersebut, dikarenakan riwayat Betancourt yang pernah diselidiki oleh otoritas AS dan Eropa terkait transaksi sebelumnya di Venezuela, memicu kekhawatiran sejumlah perusahaan minyak yang tengah mempertimbangkan investasi di negara tersebut.
Namun, Betancourt tidak pernah didakwa dan sebelumnya telah membantah segala tuduhan terhadap dirinya.
NABEP mengatakan Betancourt telah berkecimpung di industri minyak Venezuela selama lebih dari 15 tahun dan memiliki rekam jejak yang baik.
Ladang Rusia dan China
Seorang pejabat AS mengatakan Betancourt bukan pihak yang bermasalah. Pejabat tersebut berbicara secara anonim karena tidak berwenang memberikan pernyataan kepada publik.
Pejabat tersebut juga mengatakan banyak ladang minyak yang masuk dalam kesepakatan NABEP sebelumnya dikuasai oleh perusahaan dari China dan Rusia.
Menurutnya, Betancourt juga membawa rig minyak dari Texas ke Venezuela. Langkah tersebut dinilai akan menciptakan lapangan kerja di AS maupun di Venezuela.
Pejabat AS tersebut juga menilai China kemungkinan tidak akan keberatan dengan keterlibatan AS dalam pengelolaan minyak Venezuela.
“Kami jelas memiliki hubungan bilateral yang sangat kuat dengan China dan saya rasa ini bukan sesuatu yang tidak mereka perkirakan,” ujar pejabat tersebut.
Saat ditanya mengenai pengambilalihan ladang minyak oleh perusahaan yang didukung AS, juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan kerja sama China dengan Venezuela dilindungi hukum internasional.
Dia menegaskan kepentingan China di negara tersebut harus tetap dijamin.
Wright juga mengatakan sekitar 17 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz pada Senin (31/8)
Menurutnya, volume tersebut merupakan yang tertinggi sejak perang AS-Israel dengan Iran menyebabkan arus pengiriman minyak melalui jalur tersebut menurun. (ARF)