Imbal hasil obligasi Jepang naik, investor mulai tarik dana dari luar
Rabu, 02 September 2026
TOKYO — Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang mulai mengubah arah aliran modal global.
Yield obligasi Jepang tenor acuan menembus level 3% untuk pertama kalinya dalam tiga dekade. Hal tersebut membuat aset domestik semakin menarik bagi investor Jepang dan berpotensi mengurangi aliran dana ke pasar obligasi luar negeri.
Dikutip dari Reuters, level 3% tidak hanya penting bagi biaya pendanaan di Jepang.
Ambang tersebut juga dapat membalikkan arus investasi yang selama ini menjadikan Jepang sebagai pemilik terbesar US Treasury dan salah satu pembeli surat utang pemerintah paling konsisten di dunia.
Ketika aksi jual di pasar obligasi global semakin dalam pada Rabu (2/9), para trader mengatakan sebagian tekanan berasal dari spekulasi bahwa investor Jepang akan mengurangi kepemilikan aset luar negeri.
Belum ada indikasi Jepang akan melepas seluruh portofolio surat utang luar negeri senilai US$2,4 triliun.
Namun, manajer investasi global dan sejumlah data terbaru menunjukkan pengurangan kepemilikan tersebut mulai berlangsung secara lebih konsisten.
Dealer obligasi dan manajer aset di Sydney, London, dan Singapura mulai melihat penurunan permintaan dari investor Jepang.
Data resmi menunjukkan investor Jepang telah menjual secara neto obligasi luar negeri senilai ¥3 triliun atau sekitar US$18,7 miliar hingga 22 Agustus.
Arus keluar tersebut menjadi yang terbesar sejak awal tahun dalam periode yang sama sejak pasar obligasi anjlok pada 2022.
“Saya mengetahuinya secara langsung dari pembicaraan dengan investor Jepang. Mereka kurang berinvestasi pada surat berharga berdenominasi yen selama sekitar 25 tahun. Sekarang aset tersebut menjadi lebih menarik dan mereka mulai mengalokasikan kembali dananya,” jelas Michael Weidner, Co-Head of Global Fixed Income di Lazard Asset Management.
Toshinobu Chiba, fund manager berbasis di Tokyo Simplex Asset Management, menjadi salah satu investor yang mengubah strateginya.
Dia mulai bersikap bearish terhadap US Treasury dan membeli obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun sesaat sebelum yield-nya mencapai level tertinggi baru-baru ini.
“Mudah untuk membeli obligasi tenor 10 tahun ketika yield-nya di atas 3%. Sebagian besar perusahaan asuransi jiwa memiliki insentif kuat untuk membeli sekarang. Ini merupakan pergerakan alami bagi investor Jepang untuk menarik dana dari AS dan mengembalikannya ke Jepang,” ungkap Chiba.
Di Australia, investor Jepang sebelumnya menjadi pemegang asing terbesar surat utang negara tersebut sebelum pandemi.
Kini, pelaku pasar melihat perubahan dari pola akumulasi menjadi sekadar mempertahankan kepemilikan.
“Tahun ini, investor Jepang lebih banyak mempertahankan eksposurnya pada level yang relatif konsisten, bukan menambah kepemilikan,” kata Ryan Ellis, Head of Markets Sales Australia and New Zealand di Citi.
“Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, mereka memiliki bias terhadap pasar domestik,” ujarnya. Pasar Australia juga berada di bawah tekanan akibat kenaikan suku bunga bank sentral.
“Ini sangat dipengaruhi oleh keputusan berdasarkan imbal hasil,” kata Ellis.
Pergeseran Dana Pensiun
Pasar surat utang global sempat bergejolak pada Juli setelah Jepang membuka kemungkinan perubahan alokasi Government Pension Investment Fund (GPIF) ke aset domestik.
Belum ada tanda-tanda bahwa lembaga raksasa dengan aset US$1,8 triliun tersebut akan mengubah portofolionya.
Namun, sejumlah dana institusi Jepang lainnya mulai menilai kembali peluang investasi di pasar domestik.
Survei J.P. Morgan Asset Management terhadap 82 dana pensiun perusahaan Jepang yang dirilis pada Rabu (2/9), menunjukkan porsi bersih dana pensiun yang berencana meningkatkan kepemilikan obligasi domestik mencapai level tertinggi sejak survei dimulai pada 2008.
Survei tersebut juga menunjukkan dana pensiun terus mengurangi kepemilikan surat utang luar negeri karena tingginya biaya lindung nilai valuta asing.
Perubahan tersebut penting karena investor Jepang memiliki peran besar di berbagai pasar obligasi, mulai dari US Treasury hingga surat utang Prancis dan Australia.
“Ketika yield JGB naik, daya tarik relatif obligasi domestik meningkat setelah memperhitungkan lindung nilai mata uang. Kondisi ini berpotensi mendorong peralihan aset luar negeri kembali ke instrumen pendapatan tetap Jepang,” kata Masayuki Nakajima, Senior Strategist di Mizuho Bank di London, dalam sebuah catatan.
Yield JGB tenor 10 tahun mencapai 3% pada Selasa(1/9), pertama kalinya sejak 1996.
Dalam dua tahun terakhir, yield tersebut telah meningkat lebih dari tiga kali lipat.
Pada periode yang sama, yield US Treasury tenor 10 tahun naik sekitar 1 poin persentase.
Selisih yield antara kedua obligasi tersebut menyempit lebih dari 100 basis poin.
“Ketika yield obligasi Jepang terus naik, pembeli marginal US Treasury dan obligasi internasional tiba-tiba berkurang,” kata Justin Onuekwusi, Chief Investment Officer di St. James’s Place di London.
“Pada akhirnya, selisih nilai relatif antara obligasi Jepang dan obligasi internasional kini semakin kecil. Faktor itu sangat penting,” ujarnya.
BOJ Lebih Hawkish
Dampak terhadap pasar valuta asing masih belum terlalu jelas karena posisi investor di luar negeri sering kali dilindungi oleh nilai.
Pembelian aset Jepang juga masih tertahan karena yield JGB belum menunjukkan tanda-tanda kestabilan.
Untuk membalikkan pelemahan yen, bank sentral Jepang perlu menaikkan suku bunga “lebih cepat dari perkiraan pasar”, kata Kevin Thozet, anggota komite investasi perusahaan manajemen aset Carmignac yang berbasis di Paris.
Yield JGB juga terdorong naik oleh dorongan Perdana Menteri Sanae Takaichi, untuk meningkatkan belanja fiskal secara signifikan.
Menteri Keuangan, Satsuki Katayama, kembali menolak berkomentar mengenai ambang yield 3% pada Rabu (2/9).
Dia hanya menegaskan komitmen pemerintah terhadap pengelolaan utang yang tepat serta menyebutkan permintaan anggaran pemerintah berada pada level yang wajar.
Portofolio aset luar negeri investor besar Jepang juga tidak akan berubah dalam waktu singkat setelah dibangun selama puluhan tahun.
Namun, ketika negara-negara besar menghadapi beban utang yang tinggi dan risiko valuta asing meningkat, pasar domestik Jepang kini terlihat lebih menarik dibandingkan mengejar imbal hasil di luar negeri.
“Ini bukan cerita tentang repatriasi dana dalam skala besar. Jepang secara bertahap berhenti menjadi pembeli marginal obligasi asing,” kata Masahiko Loo, Senior Fixed Income Strategist di State Street Investment Management di Tokyo.
“Berkurangnya permintaan tambahan dari salah satu kumpulan dana terbesar di dunia membantu mendorong kenaikan term premium di pasar global,” ujarnya. (ARF)