Indeks dolar tertekan di awal 2026, pasar soroti risiko fiskal AS.

Jumat, 02 Januari 2026

image

SINGAPORE - Dolar Amerika Serikat mengawali perdagangan awal 2026 dengan performa lemah setelah tertekan sepanjang tahun lalu oleh penguatan mayoritas mata uang global.

Pelemahan ini terjadi di tengah menyempitnya selisih suku bunga AS dengan negara lain serta meningkatnya kekhawatiran terhadap defisit fiskal, potensi perang dagang, dan independensi Federal Reserve.

Dikutip reuters.com, indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat turun 9,4% sepanjang 2025 penurunan tahunan terdalam dalam delapan tahun. Meski demikian, sebagian analis menilai pelemahan dolar belum tentu berlanjut berkepanjangan.

“Kita telah melihat puncak supremasi dolar,” kata Kyle Rodda, Analis Pasar Senior Capital.com.

Namun, ia menambahkan, “Saya percaya kemunduran dolar telah dibesar-besarkan, dan kekuatan relatif ekonomi AS akan membuat dolar bangkit kembali tahun ini.”

Euro dan pound sterling menjadi penerima manfaat utama dari pelemahan dolar. Euro mencatat lonjakan 13,5% sepanjang 2025, sementara pound naik 7,7%, keduanya mencetak kenaikan tahunan tertajam sejak 2017. Pada awal perdagangan tahun ini, pergerakan kedua mata uang relatif stabil seiring minimnya sentimen baru.

Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS pekan depan, yang dinilai krusial untuk memetakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Fokus juga mengarah pada penunjukan ketua The Fed berikutnya, menyusul berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei.

Investor memperkirakan presiden AS Donald Trump akan memilih figur yang lebih dovish, sejalan dengan kritiknya terhadap The Fed yang dinilai terlalu lambat memangkas suku bunga. Pasar saat ini memproyeksikan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini.

“Kami memperkirakan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral akan berlanjut hingga 2026,” tulis analis Goldman, seraya menyebut perubahan kepemimpinan The Fed sebagai faktor yang mendorong risiko kebijakan lebih longgar.

Di sisi lain, yen Jepang tetap menjadi pengecualian. Sepanjang 2025, yen hanya menguat kurang dari 1% terhadap dolar dan masih bergerak dekat level terendah 10 bulan, meski Bank of Japan telah dua kali menaikkan suku bunga.

Sikap kebijakan BOJ yang dinilai terlalu hati-hati membuat investor kecewa dan memicu pembalikan posisi spekulatif.

Kekhawatiran pasar juga muncul terkait rencana ekspansi fiskal pemerintah Jepang di bawah Perdana Menteri Sanae Takaichi. Analis ING, Min Joo Kang, menilai kenaikan suku bunga BOJ berikutnya kemungkinan baru terjadi pada Oktober 2026.

“Dorongan fiskal tambahan dapat berbalik merugikan perekonomian,” ujar Kang, seraya memperingatkan bahwa kebijakan ekspansif berisiko menjadi tekanan bagi ekonomi Jepang tahun depan.

Sementara itu, dolar Australia dan Selandia Baru memulai tahun dengan penguatan. Dolar Australia mencatat kinerja tahunan terbaik sejak 2020, sedangkan dolar Selandia Baru berhasil mengakhiri tren penurunan selama tiga tahun terakhir.(DH)