Ketegangan Selat Taiwan memanas, China gelar latihan tembak langsung
Sabtu, 03 Januari 2026

JAKARTA - Taiwan kembali melaporkan peningkatan aktivitas militer China di sekitar wilayahnya. Pada Sabtu pagi, Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan mendeteksi empat sorti pesawat China, enam kapal angkatan laut, serta satu kapal resmi yang beroperasi di sekitar perairan teritorial Selat Taiwan (Selat Formosa).
Satu dari empat sorti pesawat tersebut diketahui melintasi garis median Selat Taiwan dan memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Taiwan.
[[ Selat Taiwan atau Selat Formosa adalah perairan strategis yang memisahkan Pulau Taiwan dari pesisir tenggara Tiongkok daratan (Provinsi Fujian), menghubungkan Laut Cina Selatan di barat daya dengan Laut Cina Timur di timur laut, dan merupakan lokasi geografis penting serta pusat konflik geopolitik. ]]
Dikutip indiatimes.com, aktivitas ini menyusul temuan sehari sebelumnya, ketika Taiwan mendeteksi enam kapal angkatan laut China, satu kapal resmi, serta dua balon yang melintas di sekitar wilayahnya. Seluruh pergerakan tersebut, menurut otoritas pertahanan Taiwan, telah dipantau dan direspons oleh angkatan bersenjata.
Ketegangan meningkat seiring latihan militer tembak langsung China di sekitar Taiwan yang berlangsung selama dua hari dan berakhir pada 31 Desember. Latihan tersebut melibatkan pengerahan besar-besaran kekuatan laut dan udara, dan dipandang sebagai bentuk unjuk kekuatan Beijing terhadap pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu.
Amerika Serikat menilai latihan militer China tersebut memperburuk situasi kawasan. Washington menyatakan bahwa aktivitas dan retorika militer Beijing meningkatkan ketegangan secara tidak perlu, serta mendesak China untuk menahan diri dan menghentikan tekanan militernya terhadap Taiwan.
Dampak latihan itu juga dirasakan di sektor penerbangan. Otoritas Penerbangan Sipil Taiwan mencatat sedikitnya 857 penerbangan internasional dan 84 rute domestik terdampak akibat penyesuaian rute dan pembatalan penerbangan selama latihan tembak langsung berlangsung.
Situasi ini terjadi beriringan dengan pengumuman pemerintah AS terkait usulan paket penjualan senjata ke Taiwan senilai lebih dari US$11 miliar, yang jika disetujui Kongres akan menjadi bantuan militer terbesar bagi pulau tersebut.
Menurut laporan Focus Taiwan, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) menggelar latihan bertajuk “Justice Mission-2025” di lima wilayah perairan dan ruang udara sekitar Taiwan. China menyebut latihan tersebut sebagai “peringatan keras” terhadap apa yang mereka klaim sebagai kekuatan separatis pendukung kemerdekaan Taiwan.
Pada hari kedua latihan, PLA dilaporkan meluncurkan 27 roket, dengan 10 di antaranya jatuh di perairan dalam zona tambahan 24 mil laut Taiwan. Insiden ini tercatat sebagai aktivitas tembakan langsung China terdekat yang pernah terjadi di sekitar Taiwan.
Latihan militer China tersebut memicu keprihatinan luas dari komunitas internasional. Uni Eropa, Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan Filipina secara terbuka menyuarakan kekhawatiran mereka.
Dinas Tindakan Eksternal Eropa menegaskan bahwa perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan sangat krusial bagi keamanan dan kemakmuran global, serta memperingatkan bahaya upaya sepihak untuk mengubah status quo melalui paksaan atau kekuatan militer. (DH)