JPMorgan: Investor tak akan bisa lupakan Indonesia, target IHSG 7.000
Kamis, 03 September 2026
JAKARTA – JPMorgan Indonesia memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendarat di kisaran 7.000 pada akhir 2026 di tengah derasnya aliran dana asing yang keluar (outflow) dari pasar modal Indonesia.
“Kita masih memproyeksikan kenaikan sampai akhir tahun, yang didorong oleh sentimen yang lebih positif dan positioning investor, maupun lokal ataupun asing,” jelas Benny Kurniawan, Head of Indonesia Equity Research JPMorgan Indonesia, dalam sesi media briefing, Kamis (3/9).
Benny tidak menampik bahwa aksi jual asing di pasar modal Indonesia marak terjadi sejak awal tahun, menyusul pembekuan saham-saham Indonesia dalam rebalancing indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell.
Namun, ia mengaku masih optimistis dengan outlook IHSG dan pasar saham dalam negeri. Pasalnya, di balik aksi jual ini, Benny menyoroti tingginya level kas yang kini dimiliki investor.
“Sebenarnya cash level mereka pun juga cukup tinggi. Jadi, ada banyak amunisi untuk beli di market kita tahun ini,” tegasnya.
Namun, investor asing utamanya memang masih bertahan dengan sikap wait-and-see, mengingat bahwa kejelasan “nasib” dan tingkat investability saham Indonesia di indeks global baru akan terungkap pada pengumuman bulan November mendatang.
Menurut pandangannya, para investor masih menunggu hasil nyata dari berbagai langkah reformasi pasar modal yang digencarkan regulator, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Saya rasa market participant mau lihat seberapa efektifnya langkah-langkah ini,” katanya.
Di sisi lain, Benny dapat memahami bahwa investasi asing juga cenderung mengalir kepada pasar yang terpapar sektor-sektor dengan rekam jejak pertumbuhan yang tinggi, seperti sektor teknologi.
Misalnya, dibandingkan dengan IHSG yang sudah merosot 23,78% sejak awal tahun, KOSPI Korea Selatan telah melonjak hingga 52,67% ditopang saham teknologi seperti SK Hynix dan Samsung.
“Sebagai asset allocator, saya cukup paham bahwa mereka [investor] mau terpapar sektor-sektor yang pertumbuhannya lebih tinggi. Jadi untuk asing balik ke Indonesia, saya rasa kita butuh pertumbuhan yang lebih bagus,” jelasnya.
Profitabilitas perusahaan Indonesia lampaui konsensus analisNamun, hal ini bukan berarti bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak bertumbuh.
Benny mengungkapkan bahwa beberapa perusahaan yang dipantau JPMorgan masih menunjukkan peningkatan kinerja, baik top line maupun bottom line, hingga akhir semester I 2026.
Hal ini mengindikasikan resiliensi di tengah banyaknya tantangan kondisi makroekonomi, termasuk tren kenaikan suku bunga hingga inflasi akibat lonjakan harga minyak.
Padahal, lanjutnya, banyak analis yang memprediksi bahwa earnings growth perusahaan Indonesia hingga akhir 2026 ini akan berbalik ke posisi negative single-digit.
“Walaupun banyak backdrop yang kurang positif, tapi kalau kita lihat dari perusahaan-perusahaan yang kita cover tahun ini, di paruh pertama, pertumbuhan earnings mereka itu masih 6%, masih naik secara tahunan,” ujar Benny.
Ia mengatribusikan resiliensi ini kepada belanja pemerintah yang menghasilkan trickle-down effect ke sektor-sektor riil, meski beberapa sektor mengalami tekanan pada margin akibat biaya bahan baku yang membengkak.
Benny bahkan mengungkap bahwa konsensus analis memperkirakan bahwa pertumbuhan laba perusahaan Indonesia akan menyentuh 9% di tahun 2027, yang masih akan ditopang oleh pengeluaran pemerintah serta investasi.
Selama perusahaan masih mampu mempertahankan pertumbuhan top-line dan bottom-line, Benny meyakini bahwa para investor “tidak akan mungkin bisa melupakan Indonesia begitu saja.”
Faktor dalam negeri menghambat investasi masuk?Gioshia Ralie, CEO dan Senior Country Office JPMorgan Indonesia, juga menegaskan bahwa investasi menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2027.
Namun, menurutnya, investor asing harus terlebih dahulu merasa “nyaman” dengan tata kelola pemerintah, termasuk meningkatkan transparansi kebijakan.
Selain itu, pemerintah juga dinilai harus konsisten menjaga risiko defisit APBN agar tidak terus melebar.
Pasalnya, risiko defisit APBN ini menjadi sorotan berbagai lembaga pemeringka global, seperti Moody’s dan Fitch Ratings, yang telah menurunkan prospek kredit Indonesia.
“Mereka ingin paham, ingin paham mengenai state budget kita. Apakah itu 3% cap-nya mau ditahan atau tidak? Nah, bagaimana expenditure-nya terhadap revenue-nya? Jadi, ada juga masalah confidence, transparency,” jelasnya.
Selain itu, kurangnya kepastian penegakan hukum serta birokrasi yang berbelit juga semakin menggerus kepercayaan investor terhadap iklim usaha di Indonesia.
Gioshia juga menyoroti pelemahan rupiah sebagai salah satu faktor yang menekan minat investasi asing, karena investor harus menghadapi risiko kerugian nilai tukar.
Namun, ia mengapresiasi bahwa pemerintah telah menegaskan akan menjaga defisit APBN agar tidak melebihi 3% dari PDB Indonesia, yang kemudian terefleksi pada rupiah yang kini kembali bergerak menguat ke level Rp17.650, Kamis (3/9).
“Mudah-mudahan dengan sentimen yang lebih baik, dengan disiplin dari pemerintah dan eksekusi dari pemerintah yang lebih baik, akan berdampak terhadap ekonomi Indonesia,” tutupnya. (ZH)