Perang subsidi e-commerce China ubah kebiasaan belanja konsumen
Jumat, 04 September 2026
BEIJING/SHANGHAI — Perang subsidi layanan pesan-antar makanan di China mulai mereda. Namun, dampak terbesarnya justru terlihat dari perubahan ekspektasi konsumen.
Kini, berbagai barang seperti elektronik, bunga, hingga obat-obatan dapat diantar dalam waktu satu jam setelah dipesan.
Dikutip dari Reuters, Meituan, Alibaba, dan JD.com telah menghabiskan miliaran dolar AS selama setahun terakhir untuk memberikan kupon, layanan pengiriman gratis, dan insentif bagi pedagang.
Persaingan tersebut kini memasuki babak baru melalui bisnis yang disebut instant retail. Layanan ini menjadi medan persaingan berikutnya dalam industri belanja online China.
Belanja instan mulai mengubah kebiasaan konsumen.
Analis menilai perubahan tersebut menjadi taruhan yang lebih besar dibandingkan sekadar meningkatkan jumlah transaksi makanan dan minuman.
Persaingan subsidi sebelumnya membuat miliaran produk minuman dapat dibeli konsumen dengan harga lebih murah. Namun, tujuan yang lebih besar adalah membentuk kebiasaan belanja baru, terutama di kota-kota besar.
Konsumen di wilayah tersebut kini semakin mengharapkan berbagai produk, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga kosmetik, tiba dalam waktu kurang dari 60 menit.
Layanan pesan-antar makanan dan minuman memang dapat mendorong konsumen menjadi lebih sering untuk membuka aplikasi. Namun, peluang yang lebih besar terletak pada kemampuan perusahaan untuk mengubah kunjungan tersebut menjadi pembelian produk nonmakanan yang memiliki margin lebih tinggi.
“Layanan perdagangan cepat telah mengubah ekspektasi konsumen secara mendasar terhadap kemudahan dan keandalan. Ini merupakan perubahan gaya hidup yang tidak dapat dibalik,” kata Chief Financial Officer Meituan, Shaohui Chen, dalam konferensi paparan kinerja perusahaan. (ARF)