Perusahaan taksi VinFast ke Amerika dan Eropa jelang IPO 2028

Jumat, 04 September 2026

image

HANOI — Green and Smart Mobility (GSM), perusahaan taksi listrik Vietnam yang menjadi mitra VinFast, berencana melakukan ekspansi ke Amerika Serikat (AS) dan Eropa sebelum menargetkan penawaran umum perdana (IPO) di Hong Kong pada 2028.

Dikutip dari Reuters, langkah tersebut menunjukkan ambisi GSM untuk memperluas bisnis ke pasar internasional setelah dengan cepat meningkatkan pangsa pasar di Vietnam sejak mulai beroperasi pada 2023.

Ekspansi GSM juga dilakukan ketika VinFast berupaya meningkatkan penjualan kendaraan listriknya di pasar internasional. Seluruh armada GSM telah menggunakan kendaraan VinFast.

Upaya tersebut dilakukan setelah VinFast sebelumnya gagal memperluas bisnis secara signifikan di Eropa dan AS.

GSM yang dimiliki oleh CEO VinFast, Pham Nhat Vuong, dan keluarganya berencana mengoperasikan armada di AS, Swedia, dan Belanda hingga akhir tahun ini. Perusahaan juga akan masuk ke sejumlah pasar Eropa lainnya pada 2027.

Juru bicara GSM mengungkapkan rencana tersebut dalam wawancara terbaru. Hal tersebut menjadi pertama kalinya perusahaan memaparkan cakupan dan waktu ekspansinya secara terperinci.

“Ekspansi ini dilakukan menjelang rencana IPO GSM di Hong Kong pada 2028,” kata juru bicara tersebut.

Ia sekaligus mengonfirmasi Hong Kong sebagai lokasi pencatatan saham, yang pertama kali dilaporkan Reuters pada Maret.

Perusahaan sebelumnya mengatakan persiapan IPO akan dimulai tahun ini melalui penawaran awal kepada sejumlah calon investor besar. Namun, GSM tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai pembicaraan tersebut.

GSM juga tidak mengungkap target valuasi maupun dana yang ingin dihimpun melalui IPO. Sebelumnya, perusahaan mengatakan penasihatnya memperkirakan valuasi GSM sekitar US$20 miliar.

GSM saat ini beroperasi di sejumlah pasar Asia dan bersaing dengan perusahaan ride-hailing asal Singapura, Grab, serta GoTo Gojek Tokopedia dari Indonesia.

Vinfast baru-baru ini juga mengoperasikan armada kendaraan di Denmark.

VinFast telah membuka pabrik perakitan kendaraan di India dan Indonesia. Awal pekan ini, Reuters melaporkan perusahaan menghentikan rencana perakitan sejumlah model kendaraan listriknya di India.

Di sisi lain, VinFast juga menghadapi gugatan di AS terkait keterlambatan pembangunan pabrik yang sebelumnya mendapatkan subsidi pemerintah.

VinFast telah menjual hampir 200.000 mobil pada 2025. Sekitar 11% dari penjualan tersebut berasal dari pasar luar negeri. Perusahaan tidak merilis rincian penjualan berdasarkan negara atau pasar.

Model bisnis

Salah satu faktor utama pertumbuhan cepat GSM adalah model bisnis yang membutuhkan modal besar. Perusahaan mempekerjakan pengemudi untuk mengoperasikan kendaraan yang dimiliki GSM, dan kendaraan tersebut dibeli oleh GSM dari VinFast dengan harga diskon.

Model ini berbeda dari skema modal yang lebih ringan, seperti yang digunakan oleh pesaing, termasuk Grab dan Uber.

Kedua perusahaan tersebut sebagian besar mengandalkan pengemudi nonkaryawan yang menggunakan kendaraan milik sendiri.

Strategi GSM membuat taksi berwarna biru kehijauan milik perusahaan semakin mudah ditemui di berbagai kota Vietnam. Model tersebut sekaligus membantu meningkatkan pendapatan VinFast yang masih membukukan kerugian.

GSM sebelumnya mengatakan akan membeli 1 juta mobil VinFast sepanjang 2026–2030.

Mehdi Jaouadi, analis industri otomotif sekaligus partner di perusahaan konsultan YCP yang berbasis di Singapura, menilai strategi pertumbuhan GSM memiliki risiko tinggi.

Menurutnya, masih perlu dilihat apakah pasar luar negeri dapat mencapai tingkat utilisasi armada yang cukup untuk menghasilkan skala bisnis yang mampu mengimbangi risiko tersebut.

“Dengan laju dan ambisi ekspansi GSM saat ini, pendanaan armada milik perusahaan di sejumlah pasar dapat meningkatkan ketergantungan pada modal eksternal. Kondisi tersebut dapat terjadi jika arus kas operasional tidak membaik atau GSM tidak berhasil mengalihkan lebih banyak belanja modal armada kepada pengemudi dan mitra,” kata Jaouadi.

Berdasarkan laporan perusahaan yang tercatat di Nasdaq tersebut, sebanyak 72% kendaraan VinFast dijual kepada pihak berelasi pada 2023. Sebagian besar penjualan tersebut ditujukan kepada GSM. Porsi GSM dalam penjualan mobil VinFast kemudian turun menjadi sekitar seperempat.

Juru bicara yang mewakili GSM dan VinFast tersebut mengatakan porsinya diperkirakan tetap di atas 20% dalam beberapa tahun mendatang.

GSM yang masih merugi kini mengubah model bisnisnya di Vietnam. Perusahaan menggabungkan pengemudi karyawan dan pengemudi lepas untuk menekan biaya sekaligus memperluas armada.

Sekitar 40% kendaraan yang saat ini beroperasi di bawah platform GSM di Vietnam merupakan milik perusahaan, kata GSM.

Untuk pasar AS dan Uni Eropa (UE), GSM awalnya hanya akan menggunakan kendaraan milik perusahaan dan pengemudi karyawan. Setelah itu, perusahaan berencana beralih ke model platform yang juga melibatkan pengemudi nonkaryawan.

GSM menolak mengungkapkan posisi utangnya maupun identitas kreditur utama perusahaan.

Vingroup, perusahaan induk VinFast yang dikendalikan oleh Vuong, memiliki total liabilitas sebesar US$42,8 miliar per Juni tahun ini. Angka tersebut mencakup utang dan kewajiban keuangan lainnya berdasarkan laporan keuangan terbaru perusahaan.

Vuong juga mengendalikan sejumlah perusahaan swasta yang tidak mengungkapkan posisi liabilitas mereka. (ARF)