Saham Asia menguat jelang data Jobs AS, KOSPI naik 1,1%

Jumat, 04 September 2026

image

TIONGKOK – Saham-saham Asia menguat pada perdagangan Jumat (4/9), mengikuti reli pasar global menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS).

Seperti dikutip Reuters, pasar obligasi juga mendapat sedikit kelegaan setelah Gubernur Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga.

Pelemahan dolar AS mendorong penguatan yen yang telah naik 2,6% sepanjang pekan ke level 155,7 per dolar AS. Posisi tersebut mendekati level 155,2 yang dicapai setelah intervensi bersama Tokyo dan Washington pada akhir Juli.

Dalam acara Reuters NEXT Newsmaker, Waller mengatakan data terbaru menunjukkan adanya tanda-tanda disinflasi.

Jika laporan ekonomi berikutnya memperkuat tren tersebut, ia menyatakan akan mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan The Fed bulan ini.

Pelaku pasar dengan cepat memangkas peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi sekitar 50%, dari 63% sehari sebelumnya.

Ekspektasi kenaikan suku bunga sebelumnya meningkat dalam beberapa sesi perdagangan terakhir seiring aksi jual global di pasar obligasi yang mendorong imbal hasil obligasi bertenor panjang ke level tertinggi dalam beberapa tahun. Kekhawatiran terhadap inflasi yang sulit turun, meningkatnya utang pemerintah, dan ketegangan geopolitik menjadi faktor pendorong.

Analis JPMorgan menilai pernyataan Waller berlawanan dengan pandangan yang disampaikan pejabat The Fed Kevin Warsh pekan lalu yang menyebut hanya terdapat sedikit bukti bahwa inflasi mendasar telah bergerak lebih rendah.

Di pasar saham Asia, indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 1%, mengikuti penguatan di Wall Street. Namun, kenaikan tersebut belum cukup untuk menghapus kerugian sebelumnya sehingga indeks masih turun 0,4% sepanjang pekan.

Indeks Nikkei Jepang menguat 0,8%, meski masih turun 2,7% dalam sepekan. Sementara itu, indeks saham unggulan China CSI 300 naik 1% dan KOSPI Korea Selatan menguat 1,1%.

Kontrak berjangka Wall Street dan EURO STOXX 50 bergerak datar karena investor menanti laporan penggajian AS untuk Agustus yang dirilis Jumat.

Ekonom memperkirakan penambahan tenaga kerja sebanyak 56.000 posisi, setelah turun mengejutkan sebesar 23.000 pada bulan sebelumnya.

Tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di 4,1%.

Data ekonomi AS yang dirilis sebelumnya menunjukkan aktivitas sektor jasa meningkat pada bulan lalu. Sementara itu, indikator harga yang dibayarkan sektor tersebut melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun.

Survei Beige Book The Fed juga menunjukkan aktivitas ekonomi meningkat tipis dalam beberapa pekan terakhir.

Obligasi AS Mendapat Kelegaan

Setelah komentar Waller yang cenderung dovish, harga obligasi pemerintah AS atau Treasury menguat, terutama pada tenor pendek.

Kurva imbal hasil mengalami bull steepening seiring meredanya kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Imbal hasil Treasury dua tahun berada di 4,3381%, setelah turun 5 basis poin pada perdagangan sebelumnya. Penurunan tersebut menjauhkannya dari level tertinggi 20 bulan sebesar 4,4102%.

Imbal hasil Treasury 10 tahun relatif stabil di 4,7620%, setelah turun 3 basis poin. Sementara imbal hasil Treasury 30 tahun berada di 5,2433%, turun 2 basis poin.

Investor obligasi bertenor panjang masih mewaspadai risiko inflasi karena belum terlihat perkembangan signifikan dalam upaya AS dan Iran mengakhiri perang serta membuka kembali Selat Hormuz.

Harga minyak juga bertahan di dekat level tertinggi enam pekan. Kontrak berjangka Brent naik sekitar 7% sepanjang pekan menjadi US$95,52 per barel.

Sementara itu, indeks dolar AS berada di 98,96 terhadap sejumlah mata uang utama setelah turun 0,6% pada sesi sebelumnya. Dolar diperkirakan mencatat pelemahan mingguan sekitar 0,7%.

Pelemahan dolar turut memperkuat yen setelah mata uang Jepang melonjak 1,8% pada perdagangan sebelumnya.

Investor meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) bulan ini.

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga BOJ pada September mencapai 75%, sedangkan kenaikan pada Oktober telah sepenuhnya diperhitungkan.

Di pasar komoditas, harga emas bertahan di sekitar US$4.470 per troi ons setelah melonjak 2% pada perdagangan sebelumnya. Namun, emas masih berada di jalur untuk mengakhiri pekan dengan pergerakan relatif datar. (DK)