Perselisihan di kilang BP menjadi ujian bagi posisi pekerja AS

Jumat, 04 September 2026

image

WASHINGTON — Industri minyak Amerika Serikat mulai menunjukkan perubahan strategi dalam menghadapi serikat pekerja.

Dilansir dari Reuters, langkah BP yang lockout sekitar 800 pekerja dari kilang minyak Whiting di Indiana menjadi salah satu contoh terbaru dari pendekatan yang lebih keras dalam negosiasi ketenagakerjaan.

BP melakukan lockout pada 19 Maret 2026 setelah negosiasi kontrak baru dengan United Steelworkers (USW) menemui jalan buntu.

[[ Lockout adalah tindakan perusahaan menutup akses kerja bagi karyawannya, kebalikan dari mogok kerja (strike) yang inisiatifnya datang dari pekerja. Lockout biasanya ditempuh perusahaan saat negosiasi kontrak dengan serikat pekerja menemui jalan buntu, sebagai taktik tekanan agar pekerja yang kehilangan penghasilan lebih cepat menerima syarat yang ditawarkan. ]]

Perselisihan tersebut kini menjadi ujian penting bagi kekuatan serikat pekerja di industri minyak AS, terutama jika perusahaan mampu mempertahankan operasional kilang dengan mengandalkan supervisor, pekerja kontrak, dan tenaga pengganti.

Bagi pekerja seperti Don Skalka, perselisihan tersebut telah berdampak langsung pada kehidupan mereka. Skalka telah bekerja selama dua dekade sebagai spesialis operasional di kilang Whiting dan bahkan membawa kedua anaknya bekerja di industri tersebut.

Namun sejak lockout diberlakukan, Skalka kehilangan penghasilan.

Anak laki-laki dan perempuannya kemudian mengambil pekerjaan dengan upah lebih rendah di pabrik baja di dekat lokasi.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Skalka kini mengandalkan bantuan bahan makanan dan dana dari serikat pekerja.

"Orang-orang kecil yang terus menerima pukulan. Saya tidak tahu apa yang kami lakukan sampai semua orang begitu membenci kami," kata Skalka kepada Reuters.

Sekitar 800 pekerja terdampak dalam perselisihan antara BP dan serikat pekerja minyak terbesar di AS tersebut.

Pakar ketenagakerjaan, perwakilan serikat, dan pekerja kilang menilai hasil perselisihan ini dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan antara perusahaan minyak besar dan tenaga kerja terorganisasi.

Jika BP mampu menjalankan kilang dalam waktu lama tanpa pekerja serikat, posisi perusahaan dapat semakin kuat dalam perundingan.

Kondisi tersebut berpotensi melemahkan salah satu argumen utama serikat pekerja bahwa perusahaan pada akhirnya tetap membutuhkan tenaga kerja berpengalaman untuk menjalankan fasilitas secara aman dan efisien.

Robert Bruno, Direktur Labor Studies Program di University of Illinois, mengatakan perusahaan besar di industri biasanya menjadi penentu standar dalam perundingan ketenagakerjaan berikutnya.

"Hal ini semakin menegaskan pentingnya hasil negosiasi ini dan berapa besar bagian keuntungan yang akan dibagikan kepada tenaga kerja," ujarnya.

BP mengatakan lockout dilakukan untuk memastikan kilang tetap kompetitif.

"Untuk memastikan pekerjaan tersebut tetap ada di masa depan, kami harus memiliki kilang yang kompetitif di pasar tempat kami beroperasi.

Jika tidak, pekerjaan tersebut justru berada dalam risiko," kata Chris DellaFranco, Vice President of Refining BP di kilang Whiting.

Mengikuti Strategi Exxon dan Marathon

Dengan memberlakukan lockout, BP bergabung dengan sejumlah perusahaan penyulingan minyak besar di AS, termasuk Exxon dan Marathon, yang dalam beberapa tahun terakhir menggunakan strategi keras untuk mendapatkan konsesi dari serikat pekerja sebagai bagian dari upaya memangkas biaya dan meningkatkan daya saing.

Exxon sebelumnya melakukan lockout selama 10 bulan di kilangnya di Beaumont, Texas, pada 2021.

Perselisihan tersebut berakhir setelah serikat pekerja menerima sejumlah ketentuan utama yang diajukan perusahaan.

Sementara itu, Marathon menghadapi dua aksi mogok berkepanjangan di fasilitasnya sejak 2024, termasuk aksi yang masih berlangsung di fasilitas bahan bakar terbarukan di Martinez, California.

Penggunaan strategi tersebut menjadi perhatian karena perusahaan minyak dan kilang mencatat peningkatan laba dalam beberapa bulan terakhir di tengah kenaikan harga bahan bakar akibat perang Iran.

Presiden AS Donald Trump juga mengkritik perusahaan penyulingan karena dinilai memperoleh keuntungan berlebihan ketika harga bensin tetap tinggi.

Kondisi tersebut menjadi semakin sensitif menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November.

Kilang Penting bagi Midwest

Kilang Whiting berada di tepi Danau Michigan, di luar Chicago.

Fasilitas dengan kapasitas sekitar 440.000 barel per hari tersebut merupakan salah satu kilang minyak besar tertua di AS sekaligus kilang terakhir BP di negara itu yang memiliki tenaga kerja serikat.

Kilang tersebut selama bertahun-tahun menjadi salah satu penopang ekonomi wilayah barat laut Indiana dan menyediakan sekitar seperempat kebutuhan bahan bakar di kawasan Midwest.

Perselisihan antara BP dan USW terjadi setelah perusahaan menyimpang dari pola perundingan nasional industri dan meminta sejumlah konsesi terkait upah, jumlah pekerja, hak mogok, serta penggunaan otomatisasi.

Pola perundingan nasional sebelumnya digunakan USW dengan satu perusahaan utama sebagai acuan bagi negosiasi dengan perusahaan lain di industri. Kesepakatan terbaru antara USW dan Marathon pada Februari memberikan kenaikan upah 15% selama empat tahun.

Namun, proposal BP menawarkan kenaikan upah yang lebih rendah dibandingkan kesepakatan tersebut. Perusahaan juga meminta pekerja melepaskan hak perundingan terkait dampak operasional dari kecerdasan buatan dan otomatisasi.

Selain itu, BP mengusulkan penghapusan sejumlah posisi dan fleksibilitas yang lebih besar dalam penentuan jumlah pekerja. Pimpinan serikat menilai perubahan tersebut dapat membuka jalan bagi penggunaan pekerja dari pihak luar dan pengurangan jumlah tenaga kerja.

Eric Schultz, Presiden United Steelworkers Local 7-1, mengatakan BP menggunakan "strategi yang sama persis" dengan Exxon dalam perselisihan pada 2021.

Schultz juga mencatat BP menunjuk Jordan Marcks, mantan pejabat manajemen Exxon yang mengawasi lockout selama 10 bulan di Beaumont, sebagai negosiator utama.

Pekerja Terjebak dalam Ketidakpastian

Perselisihan yang berlangsung berbulan-bulan mulai memberikan tekanan finansial kepada para pekerja.

Joe Trevino, salah satu pekerja kilang Whiting, mengatakan dirinya mulai mengetatkan pengeluaran beberapa bulan sebelum lockout karena telah memperkirakan perselisihan akan terjadi.

Namun, situasinya semakin sulit setelah tornado menghantam rumahnya pada Juni. Kini Trevino harus menyewa tempat tinggal sambil mengurus klaim asuransi, rencana pembangunan kembali rumah, dan tugas piket bersama serikat pekerja.

"Pada akhirnya, jika memang perlu, saya akan keluar dan mencari pekerjaan lain," ujarnya.

Namun, tidak semua pekerja merasa memiliki pilihan tersebut.

Renee Pleitner, 46 tahun, telah bekerja di Whiting selama lebih dari dua dekade dan merupakan generasi ketiga keluarganya yang bekerja di kilang tersebut.

"Saya benar-benar merasa tidak punya pilihan. Saya tidak tahu apa-apa lagi," katanya.

Pleitner mengatakan dirinya harus bertahan selama perselisihan berlangsung, bahkan jika harus menggunakan tabungan dan dana pensiunnya.

Perselisihan di Whiting kini menjadi salah satu pertarungan ketenagakerjaan paling penting di industri penyulingan minyak AS.

Hasilnya berpotensi menjadi acuan bagi negosiasi antara perusahaan minyak besar dan serikat pekerja di masa mendatang. (DK)