OPEC+ prioritaskan stabilitas pasar meski Saudi–UEA memanas
Minggu, 04 Januari 2026

LONDON - OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan kebijakan produksi minyaknya pada pertemuan Minggu mendatang, meskipun tensi politik meningkat antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) terkait konflik di Yaman.
Sejumlah delegasi OPEC+ menyebutkan bahwa faktor geopolitik tersebut sejauh ini belum memengaruhi arah pembahasan organisasi.
Dikutip reuters.com, pertemuan delapan negara kunci OPEC+ berlangsung di tengah tekanan pasar energi global, setelah harga minyak anjlok lebih dari 18% sepanjang 2025, penurunan terdalam sejak 2020. Pelemahan harga dipicu oleh kekhawatiran kelebihan pasokan, menyusul peningkatan target produksi yang dilakukan sejak April hingga Desember 2025.
Delapan negara tersebut Arab Saudi, Rusia, UEA, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman, sebelumnya telah menaikkan target produksi sekitar 2,9 juta barel per hari, setara hampir 3% dari permintaan minyak dunia. Namun pada November lalu, mereka sepakat menghentikan sementara kenaikan produksi untuk periode Januari hingga Maret.
Ketegangan antara Riyadh dan Abu Dhabi kembali mencuat setelah kelompok yang berafiliasi dengan UEA merebut wilayah selatan dari pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Meski demikian, sumber OPEC+ menegaskan perselisihan tersebut belum berdampak pada soliditas internal organisasi.
Secara historis, OPEC dikenal mampu menjaga kekompakan bahkan di tengah konflik internal besar, termasuk pada masa Perang Iran–Irak, dengan menempatkan stabilitas pasar sebagai prioritas utama.
UEA sendiri menyatakan akan menarik sisa pasukannya dari Yaman setelah Arab Saudi mendukung seruan agar pasukan Emirat meninggalkan wilayah tersebut dalam waktu 24 jam. Di sisi lain, pemerintah Yaman yang didukung Saudi meluncurkan apa yang mereka sebut sebagai “operasi damai” untuk merebut kembali posisi militer dari kelompok separatis selatan yang didukung UEA, yang mengklaim terjadi tujuh serangan udara Saudi sejak pengumuman operasi tersebut.(DH)