Tingkatkan likuiditas, BTPS siapkan buyback saham hingga Rp1 triliun

Jumat, 04 September 2026

image

JAKARTA - PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) melakukan aksi pembelian kembali (buyback) saham perseroan dengan mengalokasikan dana sebanyak-banyaknya Rp1 triliun.

Manajemen BTPS, mengungkapkan bahwa langkah ini ditujukan untuk menjaga stabilitas perdagangan dan nilai fundamental perseroan di pasar.

"Rencana pembelian kembali saham diharapkan dapat meningkatkan likuiditas perdagangan saham Perseroan sehingga harga saham Perseroan diharapkan dapat mencerminkan nilai fundamental Perseroan," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, Jumat (4/9).

Dalam aksi korporasi tersebut, jumlah saham yang akan dibeli kembali dibatasi maksimal 10% dari total modal yang ditempatkan dalam perseroan.

Manajemen BTPS memastikan pelaksanaan buyback tidak akan mengganggu kinerja operasional maupun tingkat kecukupan modal perseroan karena pendanaannya bersumber dari ekuitas internal.

"Perseroan meyakini bahwa pelaksanaan Pembelian Kembali Saham tidak akan mempengaruhi kegiatan usaha dan operasional, serta pertumbuhan usaha Perseroan di masa mendatang karena Perseroan telah memiliki kecukupan modal (CAR) yang cukup untuk menjalankan kegiatan usaha Perseroan," lanjut manajemen.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, pelaksanaan buyback berpotensi meningkatkan Laba per Saham Dasar (Earnings Per Share/EPS) BTPS dari Rp85,09 menjadi Rp94,54 per saham.

Kepastian pelaksanaan buyback akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 13 Oktober 2026.

Sebelumnya, pemanggilan pemegang saham akan dilakukan pada 21 September 2026.

Jika mendapat persetujuan RUPSLB, pembelian kembali saham akan dilakukan secara bertahap melalui pasar sekunder dalam jangka waktu paling lama 12 bulan sejak disetujui oleh RUPSLB Perseroan.

Pada perdagangan sesi dua hari ini, Jumat (4/9), hingga pukul 16.20 WIB, harga saham BTPS naik tipis 0,50% ke level Rp1.015 per lembar.

Dalam sebulan terakhir saja, saham BTPS naik 2,53%. Sementara sejak awal 2026 anjlok hingga 16,12%. (DK)