Amerika dan Chevron akan meraup minyak dengan mudah dari Venezuela?

Minggu, 04 Januari 2026

image

JAKARTA - Venezuela diperkirakan tidak akan alami lonjakan dalam produksi minyak mentah selama bertahun-tahun ke depan, bahkan jika perusahaan minyak besar Amerika Serikat  benar-benar menanamkan investasi miliaran dolar di negara itu seperti yang dijanjikan Presiden Donald Trump, hanya beberapa jam setelah Nicolás Maduro ditangkap.

Negara Amerika Selatan tersebut mungkin memiliki cadangan minyak terbesar di dunia berdasarkan estimasi. Namun, seperti dikutip Reuters, setelah Venezuela menasionalisasi operasi minyak pada 2000-an, termasuk aset Exxon Mobil dan ConocoPhillips, produksinya telah merosot tajam selama beberapa dekade terakhir akibat salah kelola dan minimnya investasi dari perusahaan asing.

Para analis mengatakan kepada Reuters bahwa perusahaan mana pun yang ingin berinvestasi di sana harus menghadapi berbagai persoalan, mulai dari masalah keamanan, infrastruktur yang rusak parah, pertanyaan mengenai legalitas operasi AS dalam menangkap Maduro, hingga potensi ketidakstabilan politik jangka panjang.

Perusahaan-perusahaan AS tidak akan kembali sampai mereka yakin akan dibayar dan setidaknya memiliki tingkat keamanan minimal, kata Mark Christian, direktur pengembangan bisnis di CHRIS Well Consulting. Ia juga mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut tidak akan kembali sebelum sanksi terhadap Venezuela dicabut.

Venezuela juga harus mereformasi undang-undangnya untuk memungkinkan investasi yang lebih besar dari perusahaan minyak asing.

Venezuela menasionalisasi industri minyaknya pada 1970-an, dan pada 2000-an memerintahkan migrasi paksa ke usaha patungan yang dikendalikan oleh perusahaan minyak negara PDVSA. Sebagian besar perusahaan menegosiasikan jalan keluar dan beradaptasi, termasuk Chevron, sementara sejumlah kecil lainnya gagal mencapai kesepakatan dan mengajukan arbitrase.

Bisa Gagal?

“Jika Trump dapat menghasilkan transisi yang damai dengan sedikit perlawanan, maka dalam lima hingga tujuh tahun akan terjadi lonjakan produksi minyak seiring perbaikan infrastruktur dan terselesaikannya investasi,” kata Thomas O’Donnell, pakar energi dan geopolitik.

Ia menambahkan bahwa minyak berat Venezuela cocok dengan kilang di Pantai Teluk AS dan juga dapat dicampur dengan minyak ringan hasil fracking.

Namun, hal itu bergantung pada semua berjalan dengan baik dan ada banyak hal yang bisa gagal.

“Transisi politik yang gagal dan terasa didominasi AS dapat memicu perlawanan selama bertahun-tahun,” kata O’Donnell, seraya menyinggung keberadaan kelompok bersenjata sipil dan kelompok gerilya yang beroperasi di negara tersebut.

Chevron diperkirakan akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari potensi pembukaan sektor minyak Venezuela, kata Francisco Monaldi, Direktur Program Energi Amerika Latin di Baker Institute, Rice University, Houston. Perusahaan minyak AS yang lain, lanjutnya, akan mencermati stabilitas politik dan menunggu perkembangan lingkungan operasional serta kerangka kontrak.

Venezuela, anggota pendiri OPEC bersama Iran, Irak, Kuwait, dan Arab Saudi, pernah memproduksi hingga 3,5 juta barel per hari pada 1970-an, yang saat itu mewakili lebih dari 7% produksi minyak global. Produksi turun di bawah 2 juta barel per hari pada 2010-an dan rata-rata sekitar 1,1 juta barel per hari tahun lalu, atau hanya sekitar 1% dari produksi global.

Peluang Chevron?

Chevron saat ini merupakan satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela. ConocoPhillips telah menuntut miliaran dolar atas pengambilalihan tiga proyek minyak hampir dua dekade lalu, sementara Exxon juga terlibat dalam proses arbitrase panjang setelah meninggalkan negara tersebut hampir dua dekade lalu.

“Perusahaan yang kemungkinan besar sangat tertarik untuk kembali adalah Conoco, karena mereka masih berhak atas lebih dari US$10 miliar, dan kecil kemungkinan mereka akan dibayar tanpa kembali ke Venezuela,” kata Monaldi. Exxon juga berpotensi kembali, meski nilai klaimnya lebih kecil.

“ConocoPhillips sedang memantau perkembangan di Venezuela dan potensi implikasinya terhadap pasokan dan stabilitas energi global. Terlalu dini untuk berspekulasi mengenai aktivitas bisnis atau investasi di masa depan,” kata Juru Bicara ConocPhillips derusahaan dalam penjelasan tertulis kepada Reuters.

Chevron, yang mengekspor sekitar 150.000 barel per hari minyak mentah dari Venezuela ke Pantai Teluk AS, selama setahun terakhir harus bermanuver hati-hati dengan pemerintahan Trump demi mempertahankan keberadaannya di negara tersebut.

CEO Chevron Mike Wirth mengatakan pada Desember bahwa ia telah berbicara dengan pemerintahan Trump mengenai pentingnya mempertahankan kehadiran AS di Venezuela lintas siklus politik.

Perusahaan minyak tersebut telah beroperasi di Venezuela selama lebih dari 100 tahun dan mengatakan pada hari Sabtu bahwa fokusnya adalah keselamatan dan kesejahteraan karyawan serta integritas asetnya. “Kami terus beroperasi dengan mematuhi sepenuhnya semua hukum dan peraturan yang berlaku,” kata Juru Bicara Chevron.

Sejarah Berulang?

OPEC dan sekutunya dijadwalkan bertemu pada hari Minggu dan diperkirakan akan mempertahankan kebijakan produksi minyak saat ini. Kelompok tersebut telah meningkatkan produksi sejak tahun lalu, memicu kekhawatiran kelebihan pasokan global, namun sepakat untuk menunda kenaikan produksi pada Januari, Februari, dan Maret.

Ed Hirs, peneliti energi di University of Houston, mengatakan peristiwa terbaru di Venezuela untuk saat ini hanya akan berdampak kecil terhadap harga minyak dan bensin di AS, karena sebagian besar produksi Venezuela saat ini dikirim ke Kuba dan China. Ia juga menilai sejarah penuh dengan contoh intervensi AS yang tidak memberikan hasil nyata bagi perusahaan AS.

“Trump kini bergabung dengan daftar presiden AS yang menggulingkan rezim negara kaya minyak. Bush dengan Irak. Obama dengan Libya. Dalam kasus-kasus tersebut, Amerika Serikat tidak memperoleh manfaat apa pun dari minyaknya. Saya khawatir sejarah akan terulang di Venezuela,” kata Hirs.

Kapal tanker yang disewa Chevron termasuk di antara sedikit kapal yang berlayar dari Venezuela dalam sebulan terakhir, menyusul pengumuman Trump pada Desember tentang “blokade” terhadap kapal tanker yang dikenai sanksi masuk dan keluar dari negara itu.

Venezuela mengekspor sekitar 921.000 barel per hari pada November, dengan sebagian besar dikirim ke China.

Di situlah mungkin muncul satu keuntungan cepat, jika Trump mampu menghidupkan kembali aliran minyak Venezuela ke Pantai Teluk AS, yang berpotensi menguntungkan kilang seperti Valero. Namun untuk saat ini, yang tampak justru sebaliknya. (YS/MT)