Transformasi DOOH: Bidik data centre hingga PLTS, siap rights issue?
Sabtu, 05 September 2026
JAKARTA – Usai menyambut pengendali baru, PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) siap bertransformasi menjadi pemain ekosistem AI dengan membidik pasar data centre dan infrastruktur penunjangnya, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi bersih.
“Kami melihat ada potensi pasar yang sangat besar di Indonesia, sehingga akan amat disayangkan jika kami tidak merespon potensi pasar tersebut,” jelas manajemen DOOH dalam gelaran Public Expose Insidentil, Jumat (4/9).
Menurut manajemen Perseroan, DOOH akan mengembangkan ekosistem AI melalui entitas anak yang berfokus pada lima pilar: Data Center, High Speed Internet, Fiber Optic, Submarines Cable, dan PLTS.
“Kami sudah melakukan asesmen, di mana kebutuhan data centre di Indonesia diproyeksikan akan naik signifikan dalam beberapa tahun ke depan,” imbuh manajemen.
DOOH juga akan mencari potensi bisnis di sektor konektivitas internet, yang menjadi tulang punggung dari ekosistem AI tersebut.
Tak hanya itu, manajemen juga menyadari bahwa kebutuhan energi dari ekosistem AI yang berkembang di Indonesia akan memicu kebutuhan energi hijau, yang dapat diakomodasi oleh PLTS.
Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan untuk menambah 100 GW kapasitas PLTS hingga 2029. Presiden Prabowo Subianto juga baru meresmikan 14 proyek PLTS dengan taksiran nilai investasi mencapai US$7,62 miliar, atau sekitar Rp135 triliun, pada akhir Agustus lalu.
Selain pengembangan bisnis secara organik, manajemen juga mempertimbangkan untuk berekspansi secara non-organik, melalui penyertaan modal atau akuisisi perusahaan yang mendukung visi baru DOOH.
“Perseroan memiliki strategi, yaitu berencana untuk mengakuisisi perusahaan yang memiliki bisnis ataupun yang sudah menjalankan kelima-limanya, sehingga nanti kita bisa melakukan proses percepatan,” jelas manajemen.
Peluang rights issue?Dengan rencana pengembangan bisnis ini, manajemen DOOH pun mengaku membuka peluang aksi korporasi untuk memperkuat struktur modal.
“Aksi korporasi ini sedang didiskusikan dan dipertimbangkan atas beberapa opsi pendanaan, termasuk salah satunya pendanaan bersifat ekuitas, seperti right issue,” kata manajemen dalam Public Expose, Jumat (4/9).
Namun, untuk saat ini, aksi korporasi tersebut masih dalam tahap diskusi.
Di sisi lain, seiring perubahan arah bisnis ini, manajemen DOOH menegaskan bahwa Perseroan tidak lantas “mengesampingkan kegiatan usaha yang sebelumnya.”
Menurut data IDNFinancials.com, DOOH dahulu lebih dikenal sebagai perusahaan periklanan Out-of-Home (OOH) dengan jenama SSPACE.
Pada Maret 2026 lalu, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) bahkan menggandeng Perseroan untuk mengoptimalkan pemasaran berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung target 40 juta pelanggan program Internet Rakyat (IRA) murah miliknya.
Sebagai catatan, usai akuisisi oleh PT Sinergi Internasional Investama, DOOH belum mengungkapkan rencana tender offer wajib.
Data IDNFinancials mencatat bahwa kini, pemilik manfaat akhir kepemilikan saham DOOH dan WIFI merupakan sosok yang sama, yaitu Tinawati. (ZH)