MGLV sasar rights issue dan pinjaman jumbo untuk garap data centre
Sabtu, 05 September 2026
JAKARTA – PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) kerahkan empat aksi korporasi sebagai persiapan masuk ke industri data centre usai diakuisisi PT Nextier Datamate Center (NDC) pada Februari 2026, yaitu divestasi, akuisisi, serta pinjaman jumbo dan rights issue.
Keempat aksi korporasi tersebut merupakan upaya restrukturisasi portofolio usaha MGLV—menyesuaikan kegiatan usaha dan aset yang dimiliki dengan berfokus pada pengembangan usaha yang baru.
Divestasi 13 anak usahaLangkah pertama transformasi MGLV adalah menyusun ulang struktur grup dengan aksi divestasi.
Dalam keterbukaan informasi, Jumat (4/9), manajemen MGLV mengumumkan rencana Perseroan untuk menjual 13 entitas anak usaha beserta aset dan liabilitasnya kepada PT Trijaya Wisesa Makmur (TWM) senilai Rp123,4 miliar.
Sebagai catatan, 13 anak usaha tersebut merupakan entitas yang sebelumnya dinaungi MGLV sebelum diakuisisi NDC, saat Perseroan masih dikenal dengan nama PT Panca Anugrah Wisesa Tbk.
Rencana divestasi ini, menurut manajemen MGLV, merupakan bagian dari strategi transformasi usaha Perseroan, seiring perubahan arah bisnis menjadi penyedia layanan data center.
“Langkah ini diharapkan dapat menyederhanakan struktur grup usaha, meningkatkan efektivitas pengelolaan bisnis, serta memungkinkan Perseroan mengalokasikan sumber daya dan investasi secara lebih optimal untuk mendukung pengembangan usaha di bidang data center,” jelas manajemen lebih lanjut.
Manajemen mengakui bahwa divestasi besar-besaran ini akan berdampak pada sumber pendapatan MGLV.
Namun, Perseroan meyakini bahwa keberlanjutan bisnis masih mampu ditopang aksi akuisisi PT Nextier Askara Center (NAC), operator data centre yang telah beroperasi secara komersial.
Akuisisi dua operator data centreUsai menjadi bagian dari Grup NexAI Data Center, MGLV akan mengakuisisi saham dua operator data centre—NAC dan PT Nextier GenAi Center (NGC)—dari pengendali barunya, NDC.
Pengembangan lebih lanjut kedua data centre tersebut akan baru mulai dijalankan MGLV pada Januari 2027 mendatang.
Menurut keterangan resmi, NAC akan mengembangkan MettaDC dengan kapasitas 36 MW di Jababeka Industrial Estate. Sementara itu, NGC dipersiapkan untuk membangun data centre 60 MW di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah.
Sebagai catatan, NAC kini telah mengoperasikan data centre dengan kapasitas 6 megawatt (MW), bahkan telah membukukan pendapatan sejak Mei 2026. Kontribusi pendapatan per Juni 2026 tercatat mencapai Rp36,3 miliar, dengan laba bersih Rp9,49 miliar.
Rencana ini juga mencakup pengalihan piutang kedua entitas tersebut dari NDC, yang disertai opsi konversi penyertaan modal. Hal ini akan membawa total nilai akuisisi mencapai Rp670,6 miliar.
“Sumber pendanaan untuk melaksanakan rencana jual beli piutang akan menggunakan dana dari PMHMETD I, adapun untuk rencana jual beli saham NAC dan NGC, Perseroan akan menggunakan pinjaman pemegang saham,” imbuh manajemen.
Dua aksi penguatan modal: Pinjaman dan rights issueManajemen MGLV berencana memenuhi modal untuk kebutuhan investasi bisnis baru ini melalui kombinasi 70% pinjaman bank, serta 30% modal mandiri.
IDNFinancials telah melaporkan rencana MGLV untuk menggelar rights issue 285,73 juta saham baru dengan asumsi awal harga pelaksanaan sebesar Rp8.400 per lembar – atau setara dengan Rp2,4 triliun.
Selain untuk pengambilalihan piutang NAC dan NGC, Perseroan juga akan menggunakan dana segar hasil rights issue ini untuk modal kerja, capex, serta kebutuhan lain untuk pengembangan data centre ke depannya.
Berdasarkan pantauan IDNFinancials, proyeksi harga rights issue tersebut lebih rendah 31,59% dari harga penutupan MGLV pada Jumat (4/9) di level Rp12.275 per lembar.
Harga saham MGLV ini memang telah meroket 407,23% sejak awal tahun, di tengah tren IHSG yang lesu.
Sementara itu, untuk keperluan akuisisi saham NAC dan NGC, Perseroan akan mengajukan pinjaman pemegang saham kepada NDC sebesar Rp4 triliun.
“Dengan jangka waktu pinjaman sampai dengan 31 Desember 2028 … di mana setiap jumlah pinjaman yang dicairkan akan dikenakan bunga sebesar 7% per tahun,” jelas manajemen dalam dokumen resminya.
Di sisi lain, dalam laporan studi kelayakan, Perseroan memproyeksikan akan baru dapat mengembalikan modal investasi dan mencetak arus kas dari pengembangan bisnis data centre ini—atau payback period—setelah 8 tahun 9 bulan.
Namun, untuk melangsungkan keempat aksi korporasi ini—termasuk perubahan kegiatan usaha—MGLV harus terlebih dahulu mendapat restu pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Luar Biasa (RUPSLB) pada Senin, 7 September 2026. (ZH)