Pekerja Argentina makin buru pinjol untuk penuhi kebutuhan

Minggu, 06 September 2026

image

BUENOS AIRES — Pekerja gig di Argentina semakin mengandalkan pinjaman online (pinjol) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi sebagian pengemudi dan kurir, pinjol bahkan digunakan untuk mendapatkan kembali kendaraan yang disita agar mereka bisa kembali bekerja.

Dikutip dari Reuters, Albert Quintero, kurir berusia 41 tahun di Buenos Aires, rata-rata memperoleh 70.000 peso atau sekitar US$46 per hari dari mengantarkan makanan.

Namun, untuk mengambil kembali sepeda motornya yang disita petugas lalu lintas, ia harus membayar sekitar 140.000 peso atau US$90 dalam bentuk denda dan biaya lainnya.

Quintero mengatakan banyak pekerja tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya tersebut sehingga terpaksa mengambil pinjaman.

Penggunaan pinjol di kalangan pekerja aplikasi terus meningkat.

Pinjaman tidak hanya ditawarkan perusahaan fintech. Platform tempat mereka bekerja, seperti PedidosYa, juga menyediakan pinjaman bagi para kurir dengan bunga yang sangat tinggi.

Bunga tahunan yang dikenakan oleh platform seperti PedidosYa dapat mencapai 131% per tahun. Sementara, dompet digital Personal Pay mengenakan bunga sekitar 170%.

“Banyak yang tidak punya uang,” kata Quintero. Maka dari itu, mereka terpaksa berutang.

Di tengah kenaikan biaya hidup dan kekhawatiran terhadap lapangan kerja, pinjol semakin menjadi sumber kredit bagi rumah tangga di Argentina.

Perkembangan tersebut juga memperlihatkan bagaimana pekerja dan keluarga menghadapi reformasi ekonomi pada era Presiden Javier Milei.

Kebijakan penghematan pemerintah telah menekan rumah tangga yang sebelumnya sudah berada dalam kondisi keuangan yang sulit.

Tahun terakhir, dari sekitar 500.000 pinjaman menjadi 10 juta pinjaman.

Menurut Direktur Eksekutif Argentine Fintech Chamber, Mariano Biocca, lonjakan tersebut menunjukkan pesatnya pertumbuhan kredit digital di Argentina.

Pertumbuhan tersebut terjadi ketika reformasi Milei mulai mengubah sistem keuangan Argentina.

Selama bertahun-tahun, inflasi tinggi, resesi berulang, dan krisis utang pemerintah membuat penyaluran kredit terhambat.

Ketika inflasi mulai melambat dan kondisi ekonomi lebih stabil, bank dan platform digital meningkatkan penyaluran pinjaman.

Di saat yang sama, kebijakan penghematan pemerintah seperti pemangkasan subsidi, menekan daya beli rumah tangga. Sehingga kebutuhan terhadap kredit meningkat.

Kesulitan Bayar Utang

Hampir 6 juta orang di Argentina sudah menunggak pinjaman selama lebih dari 90 hari.

Jumlah pinjaman yang menunggak dilansir hampir mencapai sepertiga dari seluruh peminjam fintech di Argentina, menurut Argentine Fintech Chamber.

Data bank sentral menunjukkan rasio kredit bermasalah rumah tangga mencapai 12,8% pada Juni.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2010, naik tajam dari 2,8% saat Milei mulai menjabat pada akhir 2023.

Analis menilai masalah ini tidak hanya disebabkan oleh kondisi ekonomi.

Selama bertahun-tahun, inflasi tinggi membuat beban utang terasa lebih ringan. Kini inflasi telah turun, tetapi bunga pinjaman tetap sangat tinggi sehingga utang semakin sulit untuk dibayar.

Laporan konsultan Analytica menunjukkan bahwa anak muda menjadi kelompok yang paling banyak mengalami masalah utang.

“Mereka mendapatkan uang dengan mudah dari dompet digital, tetapi tidak melihat berapa bunga yang mereka harus bayarkan,” kata Enrique Tobani.

Ia menghadiri aksi protes di depan Kementerian Ekonomi di Buenos Aires pada Agustus yang menuntut keringanan utang.

“Setiap tetangga, anggota keluarga, dan pekerja yang Anda ajak bicara, semuanya mengalami situasi yang sama,” ujar Tobani.

Pemerintahan Milei sejauh ini menolak tuntutan serikat pekerja, konsumen, dan kelompok advokasi agar pemerintah memberikan keringanan utang.

Pemerintah lebih memilih menganggap peningkatan utang rumah tangga sebagai persoalan antara individu dan pihak swasta.

Pejabat pemerintah menyebut kredit bermasalah sebagai dampak sementara dari upaya memperluas pasar kredit swasta Argentina.

Penyaluran kredit swasta saat ini baru setara dengan 12% dari produk domestik bruto (PDB), jauh di bawah Brasil yang mencapai sekitar 80%.

Pembuat kebijakan di Brasil pekan lalu juga menyampaikan kekhawatiran terhadap peningkatan utang rumah tangga.

Persoalan tersebut dipicu oleh mahalnya produk kredit dan lemahnya standar penyaluran pinjaman.

Kekhawatiran terhadap lapangan kerja kini mulai mengalahkan inflasi dalam survei opini publik Argentina.

Analis menilai tingginya utang pribadi dapat menjadi persoalan politik bagi Milei menjelang pemilu 2027.

“Penguatan neraca eksternal tidak akan membawanya meraih kesuksesan dalam kampanye 2027 jika utang rumah tangga, konsumsi yang lemah, dan pekerjaan yang tidak pasti terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” kata Mariano Machado dari konsultan risiko Verisk Maplecroft.

Meski inflasi telah mereda, banyak warga mengatakan pendapatan mereka belum mampu mencukupi biaya hidup.

Kondisi tersebut membuat rumah tangga semakin bergantung pada pinjaman untuk memenuhi pengeluaran sehari-hari.

Menurut Biocca, perusahaan fintech telah memberikan pinjaman kepada masyarakat yang tidak memiliki pendapatan tetap atau pekerjaan formal.

“Bank tradisional meminta persyaratan yang terlalu sulit,” kata Marcelo De Mattei, kurir berusia 44 tahun. Ia menjadi kurir untuk menambah penghasilan dan memperoleh sekitar US$13 per hari.

Asosiasi perbankan dan perusahaan fintech mendorong penurunan pajak atas pinjaman untuk menekan biaya kredit.

Asosiasi perbankan ABAPPRA pada 28 Agustus mengusulkan perubahan aturan bank sentral.

Perubahan tersebut akan memberikan fleksibilitas lebih besar kepada pemberi pinjaman dalam mengklasifikasikan debitur yang menunggak dan mencatat pinjaman yang telah jatuh tempo.

Dalam aksi protes di Buenos Aires, Oriana Fernández dari kelompok advokasi Organized Debtors mengatakan pinjaman online semakin banyak digunakan oleh masyarakat untuk bertahan hidup.

“Kami melihat orang-orang berutang untuk memenuhi kebutuhan dasar dan pengeluaran sehari-hari,” jelasnya. (ARF)