Pasar obligasi global dilanda aksi jual, investor cermati 5 hal
Minggu, 06 September 2026
LONDON — Data inflasi Amerika Serikat (AS) dan rapat Bank Sentral Eropa (ECB) akan menjadi perhatian utama pasar pada pekan depan.
Keduanya berlangsung ketika pasar obligasi global tengah mengalami aksi jual yang mendorong biaya pinjaman ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari Tokyo, Sydney, hingga London, dan New York.
Dikutip dari Reuters, berikut lima hal yang perlu diperhatikan di pasar keuangan global pekan depan.
1. Obligasi Tertekan
Imbal hasil obligasi terus naik di berbagai negara dan tenor.
Kondisi ini meningkatkan biaya pinjaman bagi pemerintah, perusahaan, dan rumah tangga sekaligus menekan valuasi saham yang sudah tinggi.
Sejumlah faktor mendorong kenaikan tersebut. Perang di Timur Tengah membuat harga energi naik dan meningkatkan ekspektasi inflasi. Pasar juga mulai bersiap untuk menghadapi kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Kondisi tersebut mendorong imbal hasil obligasi bertenor pendek di AS dan zona euro ke level tertinggi dalam beberapa tahun.
Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun mulai mendekati level-level penting.
Sebagian besar obligasi tenor 30 tahun di negara-negara utama juga berada di sekitar level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
Investor khawatir kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar selama bertahun-tahun akan semakin sulit dipenuhi.
Pemerintah mulai mengambil langkah untuk meredam kenaikan imbal hasil.
Bulan lalu, Departemen Keuangan AS mengatakan akan setidaknya menggandakan pembelian kembali obligasi pemerintah tenor panjang.
Operasi pertama dijadwalkan berlangsung pada Rabu (2/9).
Namun, meski level imbal hasil sudah tinggi, pergerakan pasar sejauh ini masih berlangsung teratur.
2. Yen Jadi Sorotan
Jepang berada di pusat gejolak pasar utang global.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun telah menembus 3% untuk pertama kalinya dalam tiga dekade.
Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap kemungkinan repatriasi besar-besaran modal Jepang dari pasar obligasi AS, Eropa, dan Australia.
Investor kini menunggu apakah Government Pension Investment Fund (GPIF), dana pensiun Jepang senilai US$2 triliun, akan mengalihkan lebih banyak dananya ke obligasi domestik.
Langkah tersebut berpotensi mengurangi investasi GPIF pada saham dan obligasi luar negeri.
Kondisi keuangan pemerintah Jepang juga menjadi perhatian.
Pengajuan anggaran dari kementerian-kementerian Jepang untuk tahun fiskal berikutnya telah mencapai level era pandemi.
Bank of Japan (BOJ) juga berpotensi mempercepat kenaikan suku bunga.
Prospek tersebut mendorong suku bunga jangka pendek naik.
Kenaikan suku bunga akhirnya dapat membantu menopang yen yang selama ini tertekan.
Yen menguat hampir 3% sepanjang Rabu (2/9) dan Kamis (3/9) setelah sentimen pasar berubah.
Pergerakan sebesar itu belakangan ini hanya terjadi ketika otoritas Jepang dan AS turun tangan bersama di pasar valuta asing.
3. Data Inflasi AS
Di AS, data inflasi yang akan dirilis pekan depan dapat menentukan apakah Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada akhir bulan ini.
Data harga produsen akan dirilis pada Kamis (3/9), sehari sebelum data indeks harga konsumen (CPI) yang menjadi perhatian utama pasar.
Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan CPI Agustus naik 0,4%.
Inflasi AS telah berada di atas target tahunan The Fed sebesar 2% selama beberapa tahun.
Namun, data CPI sebelumnya hanya menunjukkan kenaikan yang moderat.
Pasar sebelumnya meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyampaikan pidatonya pada konferensi Jackson Hole.
Namun, kontrak futures Fed Funds kini menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada rapat The Fed 15-16 September hampir berimbang.
Gubernur The Fed, Christopher Waller, mengatakan pada Kamis (3/9) bahwa jika data terbaru mengonfirmasi tekanan inflasi mulai mereda, dirinya cenderung mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga.
Laporan keuangan Oracle (ORCL.N) sebagai salah satu perusahaan penyedia infrastruktur cloud skala besar juga akan menjadi perhatian pekan depan.
Hasil tersebut dapat kembali mengangkat sentimen terhadap saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI).
4. ECB Naikkan Bunga
ECB hampir dipastikan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Kamis (3/9).
Kenaikan tersebut akan sama dengan langkah yang diambil pada Juni.
Para pembuat kebijakan tentu tidak ingin melihat inflasi kembali menembus 3% ketika harga energi meningkat.
Maka dari itu, perhatian pasar akan tertuju pada langkah ECB setelah kenaikan tersebut.
Para pembuat kebijakan tidak memiliki kepastian mengenai perkembangan ke depan.
Durasi perang Iran juga masih sulit diprediksi, sehingga ECB kemungkinan tidak akan memberikan sinyal yang terlalu jelas mengenai langkah berikutnya.
Pasar masih memperkirakan satu kenaikan suku bunga lagi pada Desember dan satu kenaikan tambahan tahun depan.
Namun, para ekonom menilai ECB mungkin sudah selesai menaikkan suku bunga untuk sementara.
Kenaikan tajam imbal hasil obligasi pada musim panas ini juga dinilai telah membantu ECB menekan kondisi keuangan tanpa perlu banyak langkah tambahan.
Pernyataan Presiden ECB Christine Lagarde mengenai kemungkinan AS menjual euro untuk membeli yen juga patut diperhatikan.
5. Utang Senegal
Gejolak tidak hanya terjadi di pasar obligasi negara-negara besar.
Dua tahun setelah Senegal menemukan lebih dari US$10 miliar utang yang sebelumnya tidak tercatat, pemerintah negara tersebut mulai menerima kemungkinan bahwa mereka membutuhkan bantuan Dana Moneter Internasional (IMF).
Sebagai imbalannya, Senegal harus melakukan pembenahan agar utangnya tetap berkelanjutan dalam jangka panjang.
Namun, langkah tersebut tidak mudah. Hal tersebut disebabkan karena Senegal merupakan bagian dari serikat moneter.
Sebelumnya, Yunani pernah menghadapi persoalan serupa.
Pemerintah Senegal di Dakar tidak ingin memasukkan utang dalam mata uang franc CFA Afrika Barat yang dimiliki bank dan lembaga keuangan multilateral di kawasan tersebut ke dalam restrukturisasi.
Artinya, beban penyesuaian akan lebih besar ditanggung oleh utang lainnya, terutama obligasi pemerintah yang diterbitkan di pasar modal internasional.
Proses tersebut kemungkinan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Namun, pekan depan dapat menjadi titik penting.
Dewan IMF dijadwalkan membahas Debt Sustainability Framework untuk negara berpendapatan rendah.
Perubahan terhadap aturan tersebut dapat membuat posisi utang Senegal terlihat semakin buruk. (ARF)
Terkait: Lonjakan yield obligasi AS mulai berdampak, bunga KPR AS naik ke 6,71%