Jumlah satelit Starlink yang jatuh ke bumi turun dari 500 jadi 200
Minggu, 04 Januari 2026

JAKARTA -- Jumlah satelit Starlink yang jatuh kembali ke Bumi dan terbakar di atmosfer menurun dalam beberapa bulan terakhir, dari sekitar 500 menjadi sekitar 200.
Seperti dikutip dari PCMag pada hari Jumat (2/1) Penurunan ini disebutkan dalam laporan setengah tahunan terbaru SpaceX kepada FCC, dan menunjukkan bahwa perusahaan telah berhasil memensiunkan sejumlah besar satelit Starlink generasi lama.
Satelit Starlink biasanya memiliki masa operasional sekitar lima tahun sebelum akhirnya dideorbit; selama proses masuk kembali ke atmosfer, satelit tersebut dirancang untuk terbakar sepenuhnya.
Satelit lain dapat dipensiunkan lebih awal jika mengalami gangguan atau ditemukan cacat perangkat keras.
Namun, konstelasi Starlink kini telah menjadi sangat besar—mencakup lebih dari 10.000 satelit—sehingga tingkat pembakaran satelit meningkat tajam sekitar setahun lalu.
Menurut astronom dan pelacak satelit Jonathan McDowell, perusahaan sempat mendeorbit hingga empat sampai lima satelit Starlink per hari.
SpaceX kemudian mengungkapkan bahwa mereka telah mendeorbit 472 satelit antara Desember 2024 dan Mei 2025. Namun, menurut laporan tersebut, hanya 218 satelit yang dideorbit antara Juni dan November.
Sebagian besar satelit yang dideorbit, yakni 167 unit, berasal dari konstelasi Starlink generasi pertama yang mulai melayani pelanggan pertama di Amerika Serikat lebih dari lima tahun lalu. Sisanya berasal dari konstelasi generasi kedua.
McDowell mengonfirmasi melalui email bahwa SpaceX telah sebagian besar menyelesaikan pensiun massal satelit-satelit lama tersebut.
Meski begitu, ia menambahkan bahwa tingkat masuk kembali ke atmosfer masih tergolong tinggi dibandingkan, misalnya, tahun 2023.
Dalam laporan tahunan “aktivitas luar angkasa” miliknya, McDowell juga mencatat bahwa SpaceX telah meluncurkan total 10.801 satelit Starlink.
Hingga saat ini, sebanyak 1.391 satelit—atau sekitar 13% dari seluruh konstelasi—telah masuk kembali ke atmosfer Bumi, menurut perhitungannya.
Meski jumlahnya menurun belakangan ini, proses masuk kembali ke atmosfer dapat kembali meningkat seiring bertambahnya usia konstelasi dan semakin banyak satelit yang harus dipensiunkan.
Saat ini, konstelasi Starlink memiliki 9.399 satelit yang masih beroperasi. Dengan persetujuan FCC yang masih tertunda, SpaceX berencana memperluas sistem ini secara drastis hingga puluhan ribu satelit tambahan untuk menyediakan akses internet dan seluler di wilayah pedesaan dan terpencil.
Isu ini memicu kekhawatiran mengenai potensi dampak lingkungan, karena satelit yang hancur dapat melepaskan bahan kimia yang berbahaya bagi lapisan ozon Bumi.
Hal ini berpotensi memicu perdebatan regulasi mengenai apakah Amerika Serikat perlu mewajibkan peninjauan lingkungan terhadap konstelasi satelit.
Sebelumnya, SpaceX menyatakan kepada FCC bahwa operasi dan proses deorbit satelit tidak memiliki dampak berarti terhadap lingkungan manusia dalam yurisdiksi teritorial Amerika Serikat.
Perusahaan juga mengatakan bahwa kemungkinan satelit Starlink generasi barunya bertahan saat masuk kembali ke atmosfer dan menyebabkan bahaya di darat adalah “kurang dari 1 banding 100 juta.”
Hal ini terjadi seiring pengumuman SpaceX tentang rekonfigurasi signifikan konstelasi satelitnya yang berfokus pada peningkatan keselamatan luar angkasa.
Sekitar 4.400 satelit yang mengorbit pada ketinggian antara 480 km hingga 550 km akan diturunkan orbitnya, yang akan membantu mengurangi waktu peluruhan balistik lebih dari 80%, atau dari lebih dari empat tahun menjadi hanya beberapa bulan, menurut Michael Nicolls, Wakil Presiden Teknik Starlink.
“Satellit Starlink memiliki tingkat keandalan yang sangat tinggi, dengan hanya dua satelit mati dari lebih dari 9.000 satelit yang saat ini beroperasi,” tulis Nicolls di media sosial.
“Meski demikian, jika sebuah satelit gagal di orbit, kami ingin satelit tersebut dideorbit secepat mungkin. Langkah-langkah ini akan semakin meningkatkan keselamatan konstelasi, terutama terhadap risiko yang sulit dikendalikan seperti manuver dan peluncuran yang tidak terkoordinasi oleh operator satelit lain.” (BS)