CEO Eni: Masuk Venezuela demi pulihkan piutang US$2,3 miliar

Minggu, 06 September 2026

image

MILAN – Perusahaan energi asal Italia, Eni, meningkatkan peluang untuk memulihkan piutang lebih dari US$2,3 miliar dari Venezuela setelah menandatangani kesepakatan proyek minyak baru di negara tersebut.

Seperti dikutip Reuters (04/09/2026), piutang tersebut berasal dari utang perusahaan minyak negara Venezuela, Petróleos de Venezuela SA (PDVSA), yang terakumulasi selama hampir tiga dekade Eni beroperasi di negara tersebut.

Keputusan Eni untuk tetap beroperasi di Venezuela di tengah ketidakpastian politik dan sanksi Amerika Serikat (AS) kini membuka peluang baru melalui proyek pengembangan ladang minyak berat Junin 5 di Sabuk Orinoco.

Dalam kesepakatan terbaru, proyek Junin 5 diubah menjadi perjanjian bagi hasil selama 25 tahun dengan Eni bertindak sebagai operator lapangan.

Eni dan PDVSA berencana menginvestasikan sekitar US$1,5 miliar per tahun untuk mengembangkan proyek tersebut. Produksi minyak Junin 5 yang saat ini sekitar 12.000 barel per hari (barrels per day/bpd) ditargetkan meningkat menjadi 400.000 bpd pada 2030.

Setelah penandatanganan kesepakatan di Caracas, CEO Eni Claudio Descalzi mengatakan perusahaan akan segera memulai pengembangan proyek tersebut.

"Kami akan mulai mengebor sumur pertama besok," ujar Descalzi.

Juru bicara Eni dan analis Barclays menilai proyek tersebut dapat membantu perusahaan memulihkan piutang yang belum dibayarkan secara bertahap.

Selain piutang langsung sebesar lebih dari US$2,3 miliar, Venezuela juga memiliki utang sekitar US$400 juta kepada usaha patungan gas alam di ladang Perla yang dimiliki secara seimbang oleh Eni dan perusahaan energi asal Spanyol, Repsol.

Eni tetap mengoperasikan proyek lepas pantai tersebut untuk memenuhi kebutuhan domestik Venezuela, meski pembayaran sempat terhambat akibat sanksi AS.

Kesepakatan pada Maret yang membuka peluang ekspor gas Venezuela pada masa mendatang juga dinilai dapat meningkatkan nilai aset energi Eni di negara tersebut.

Kepala konsultan Nomisma Energia Davide Tabarelli menilai proyek-proyek yang sebelumnya berisiko menjadi aset terbengkalai kini berpotensi kembali memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan produksi Eni.

Sementara itu, belum terdapat perkembangan terbaru mengenai kepemilikan Eni di ladang minyak lepas pantai Corocoro, yang produksinya dihentikan pada 2019 akibat sanksi AS.

Mengutip sumber industri, Eni saat ini memproduksi sekitar 64.000 barel setara minyak per hari (barrels of oil equivalent per day/boepd) di Venezuela. Produksi tersebut berpotensi meningkat hingga sekitar 1 juta boepd dalam jangka panjang.

Di sisi lain, Washington terus mendorong penyelesaian persoalan utang Venezuela. Menteri Energi AS Chris Wright baru-baru ini menyatakan bahwa China tidak akan memiliki klaim atas pendapatan dari ladang-ladang minyak Venezuela yang akan berada di bawah kendali sebagian pihak AS.

Langkah tersebut berpotensi membatasi salah satu mekanisme utama yang selama ini digunakan Venezuela untuk membayar kembali pinjamannya kepada China. (SF)