Lahan dibabat data centre, DMAS kesulitan sasar land bank baru
Senin, 07 September 2026
JAKARTA – Manajemen PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) mengaku tengah menghadapi tantangan ketersediaan lahan, usai mencatat penyusutan lahan industrial hingga 50% dalam setahun, didorong aksi borong land bank oleh operator data centre.
Sebagai pengelola Kota Deltamas, kawasan industri terbesar di koridor Jakarta-Cikampek, Perseroan mencatat bahwa ketersediaan lahan industrial menyusut dari 119 hektare (Ha) menjadi hanya 60 Ha dalam setahun.
Tondy Suwanto, Direktur DMAS, juga menyadari bahwa kini penjualan land bank melampaui laju penambahan land bank Perseroan.
“Setiap tahun kita merencanakan untuk menambah land bank yang cukup signifikan, hanya saja memang tidak mudah—kita mengakui hal itu,” kata Tondy dalam acara Public Expose Live 2026, Senin (7/9).
Menurut Tondy, akuisisi lahan untuk pengembangan kawasan baru membutuhkan kesempatan atau timing yang tepat, harga yang terjangkau, serta alokasi capex atau belanja modal yang memadai.
Selain itu, skala land bank yang dibutuhkan pun tidak kecil. “Kalau untuk kawasan industri, setidaknya, minimal itu harusnya di atas 500 hektare,” jelasnya.
Meski posisi kas dan setara kas DMAS kini menyentuh level Rp2,1 triliun, Tondy menegaskan bahwa Perseroan belum akan melancarkan perluasan kawasan, akuisisi lahan baru, maupun aksi korporasi lainnya dalam waktu dekat.
“Tetapi tetap saja, kita akan berusaha supaya ada tambahan land bank. Fokus utama saat ini adalah memang di sekitar kawasan industri sekarang atau di sekitar Delta Mas,” ujarnya.
Pasalnya, akuisisi lahan baru dan pengembangan kawasan industri di luar Delta Mas akan membutuhkan modal yang lebih besar untuk membangun infrastruktur jaringan penunjang dan utilitas, termasuk listrik, air, konektivitas internet, dan pengolahan limbah.
“Kalau misalkan kita menambah land bank di sekitar kawasan Delta Mas, itu lebih memudahkan untuk menyambung infrastruktur yang ada … lebih mudah dan lebih murah sebenarnya,” imbuh Tondy.
Kini, DMAS mencatatkan sisa land bank untuk segmen industrial sebesar 60 Ha, diikuti segmen residensial 164 Ha, dan segmen komersial 357 Ha.
Manajemen menilai bahwa dengan total cadangan lahan seluas 581 ha tersebut, DMAS juga masih memiliki fleksibilitas dan opsi untuk melakukan konversi penggunaan lahan, baik dari sektor komersial maupun dari sektor residensial.
Data centre dorong kinerja, revisi naik target 2026?IDNFinancials.com sebelumnya melaporkan bahwa marketing sales atau prapenjualan DMAS per akhir Juni 2026 mencapai Rp1,15 triliun, sekitar 55% dari target tahun 2026 sebesar Rp2,08 triliun.
Sebagian besar dari permintaan lahan tersebut memang datang dari segmen industrial, terutama operator data centre.
Head of Investor Relations and Corporate Sustainability DMAS, Esther Meilia Nathaniel, kemudian mengungkapkan bahwa 75% dari pipeline lahan hingga 85 hektare tahun ini berasal dari sektor data centre.
DMAS kini sudah mencatat 16 tenan data centre kelas dunia di kawasan industri Greenland International Industrial Center (GIIC). “Yang keseluruhannya merupakan data center tier 4,” imbuh Esther.
Dengan permintaan lahan hingga 85 Ha di tangan, manajemen DMAS mengaku cukup optimistis untuk merevisi naik target kinerjanya di tahun ini—meski belum dapat mengungkapkan angka pastinya.
Sebagai catatan, permintaan lahan industrial yang tinggi di Delta Mas juga tercermin pada kinerja pendapatan DMAS yang meroket 194,13% secara tahunan menjadi Rp1,8 triliun hingga semester I 2026.
Sementara itu, laba bersih DMAS melonjak 175,34% menjadi Rp1,19 triliun.
Namun, karena masih ditopang nyaris 97% oleh segmen industrial, komposisi pendapatan berulang (recurring income) DMAS tercatat masih cukup moderat di level Rp300-400 miliar.
“Kabar baiknya adalah, bahwa dengan recurring income yang sudah tercapai saat ini, sebenarnya seluruh opex sudah bisa kita cover,” kata Tondy.
Namun, DMAS juga menargetkan agar porsi recurring income terhadap pendapatan Perseroan terus bertumbuh ke depannya. Salah satunya adalah melalui biaya utilitas, termasuk air, sebagai fasilitas unggulan bagi pelanggan operator data centre.
Selain itu, DMAS juga lebih percaya diri mervisi target 2026 lebih tinggi, seiring posisi keuangannya yang stabil, dengan aset mencapai Rp8,79 triliun, serta liabilitas yang hanya Rp1,78 triliun.
“Kalau dari sisi fundamental, kalau kita lihat, kita loan-free [tidak memiliki pinjaman], jadi kami lihat ini cukup untuk capex,” tegasnya. (ZH)