TLKM bidik kontribusi eksternal bisnis fiber Infranexia capai 30%

Senin, 07 September 2026

image

JAKARTA — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menargetkan kontribusi pelanggan eksternal terhadap pendapatan bisnis fiber Infranexia mencapai 15%-30% dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Saat ini, pelanggan eksternal menyumbang sekitar 10%-15% pendapatan Infranexia. Perseroan akan meningkatkan kontribusi tersebut melalui skema open access network yang membuka jaringan bagi penyedia layanan internet (ISP), operator jaringan, dan pelanggan eksternal lainnya.

Target tersebut sejalan dengan penyelesaian tahap kedua pembentukan FiberCo atau Infranexia yang ditargetkan rampung pada akhir September hingga awal Oktober 2026.

Tahap kedua mencakup pengalihan aset, kontrak, dan sumber daya operasional. Penyelesaian proyek sedikit bergeser karena adanya pekerjaan tambahan setelah penjadwalan ulang laporan keuangan tahun buku 2025 serta proses dokumentasi transaksi.

Sebelumnya, perseroan menyelesaikan tahap pertama pembentukan FiberCo pada Desember 2025. Tahap ini mencakup lebih dari 50% aset fiber terpilih Telkom dengan nilai transaksi sekitar Rp35,8 triliun.

Bidik kontribusi enterprise hingga 40%

Di sisi lain, Direktur Enterprise & Business Service TLKM, Veranita Yosephine, mengatakan segmen tersebut saat ini menyumbang kurang dari 15% terhadap total pendapatan grup.

Perseroan melihat peluang untuk meningkatkan kontribusi bisnis enterprise hingga mendekati kisaran 20%-40%, mengikuti porsi segmen tersebut di sejumlah perusahaan telekomunikasi global.

“Ini menjadi benchmark dan menunjukkan peluang bagi Telkom untuk terus meningkatkan skala B2B ICT secara bertahap sebagai salah satu sumber pertumbuhan revenue ke depannya,” ujar Veranita dalam public expose live 2026, Senin (7/9).

Perseroan juga memperkuat bisnis B2B ICT melalui akuisisi Digiserve. Setelah transaksi rampung, Digiserve akan masuk ke dalam segmen B2B ICT dan berada di bawah pengendalian langsung.

Evaluasi kemitraan data center

Selain fiber dan enterprise, perseroan mengevaluasi kemitraan strategis untuk mengembangkan bisnis data center. Prosesnya telah memasuki tahap evaluasi binding offers dan berpotensi mencakup pelepasan kepemilikan mayoritas.

Perseroan menargetkan proses kemitraan tersebut selesai pada akhir 2026. Masuknya mitra strategis diharapkan mengurangi kebutuhan pendanaan ekspansi sekaligus mengoptimalkan valuasi bisnis data center.

Sementara itu, bisnis seluler masih mencatat pertumbuhan. Average Revenue per User (ARPU) seluler pada semester I 2026 naik 9% secara tahunan menjadi Rp45.600, terutama didorong peningkatan monetisasi layanan data. (DH)