Penjualan emas anjlok 78%, UNTR ungkap masa depan Martabe dan Doup
Senin, 07 September 2026
JAKARTA – PT United Tractors Tbk (UNTR), anak usaha Grup Astra di bidang alat berat dan industri pertambangan, mengungkap nasib lini bisnis tambang emasnya, yang mencatatkan penjualan anjlok hingga 78% secara tahunan per Juli 2026.
Hingga akhir Juli (7M) 2026, UNTR hanya mampu membukukan penjualan emas 32 ribu ons, hanya sekitar seperempat dari penjualan yang menyentuh 143 ribu ons pada akhir Juli 2025 lalu.
“Penurunan tersebut disebabkan oleh minimnya penjualan emas dari tambang Martabe, dikarenakan penghentian sementara operasional tambang tersebut,” jelas Arie Setiawan, Corporate Secretary UNTR, dalam Public Expose Live 2026, Senin (7/9).
Seperti telah diberitakan IDNFinancials akhir 2025 lalu, operasional tambang emas Martabe sempat dihentikan usai banjir dan tanah longsor melanda sebagian wilayah Aceh dan Sumatra Utara.
Presiden Prabowo kemudian mencabut izin operasional 28 perusahaan yang terbukti melanggar regulasi pemanfaatan hutan di Pulau Sumatra, termasuk pengelola Martabe, PT Agincourt Resources.
Namun, setelah lima bulan berlalu, Arie mengonfirmasi bahwa tambang emas Martabe telah kembali melanjutkan operasinya pada periode pelaporan kuartal II 2026.
Namun, Presiden DIrektur UNTR Iwan Hadiantoro mengaku bahwa tambang tersebut belum beroperasi 100%.
“Untuk suatu tambang itu untuk mulai beroperasi itu, tidak bisa langsung 100% recovery. Jadi, kita harus menyiapkan alat lagi, kita harus meminta karyawan-karyawan kita untuk back to work. Jadi prosesnya bertahap,” jelas Iwan dalam kesempatan yang sama.
Perseroan pun memproyeksikan total penjualan emas pada tahun 2026 hanya menyentuh angka 65 ribu ons – atau menyusut 71,4% secara tahunan dari 227 ribu ons yang terjual pada 2025.
Doup belum beroperasi, UNTR fokus tiga aksiUNTR sebenarnya telah memiliki konsesi baru, Proyek Doup di Sulawesi Utara, yang dikelola PT Arafura Surya Alam (ASA). Proyek ini baru rampung diakuisisi dari PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) pada Februari 2026.
Namun, UNTR memproyeksikan bahwa tambang Doup baru akan resmi beroperasi secara komersial pada 2029 mendatang, karena masih banyak persiapan yang harus dilakukan.
Iwan menjabarkan bahwa di tahun 2026, UNTR akan berfokus pada tiga hal: penyelesaian perizinan, termasuk feasibility study dan AMDAL; persiapan fasilitas pemrosesan; serta pembebasan lahan penambangan secara bertahap.
“Fokus kita untuk tahun 2026 – 2028 ke depan adalah untuk penyelesaian pembangunan infrastruktur processing plant di ASA ini. Kita harapkan tambangnya bisa mulai berproduksi menghasilkan dan menjual emas di tahun 2029 nanti,” ungkap Iwan.
Harapan di semester II: Revisi RKABTantangan kinerja UNTR hingga akhir semester I 2026 tidak hanya datang dari lini bisnis tambang emas. Bisnis utamanya, penjualan alat berat, juga lesu akibt dampak penurunan RKAB batu bara nasional.
UNTR juga mengalami pelemahan kinerja tambang batu bara melalui PT Tuah Turangga Agung (TTA). Meski penjualan batu bara termal naik 14%, penjualan batu bara metalurgi ambles 18%.
Hendra Hutahean, Direktur UNTR, menyebutkan bahwa hal ini juga merupakan dampak dari pemotongan RKAB 2026 menjadi hanya 7,4 juta ton.
Namun, ia mengumumkan bahwa Perseroan telah mengajukan revisi RKAB kepada pemerintah, dan mengantongi izin kenaikan.
“Kita sudah dapat persetujuan untuk revisi menjadi sekitar 9,6 – 9,8 juta ton sales, yang akan kita selesaikan di tahun 2026 ini,” jelas Hendra.
Selain revisi RKAB TTA, beberapa perusahaan sekuritas juga menangkap sinyal perbaikan kinerja UNTR di paruh kedua tahun 2026 berkat persetujuan revisi naik RKAB industri batu bara.
“Kita optimis bahwa UT akan dapat memanfaatkan pemulihan dan peluang yang ada untuk mencatatkan kinerja usaha yang lebih baik lagi ke depannya,” tegas Iwan.
Hingga akhir semester I 2026, UNTR mencatatkan pendapatan merosot 15% menjadi Rp58,3 triliun, dengan laba bersih anjlok hingga 88%.
Anjloknya laba terutama disebabkan non-recurring items Rp3,3 triliun dari pembayaran denda terkait kegiatan tambang nikel Stargate di kawasan hutan, serta penurunan nilai atas investasi UNTR di bisnis geothermal Supreme Energy Rantau Dedap.
“Performance dari net capacity Supreme Energy Rantau Dedap tercatat sekitar 50 – 52 MW, yang memang lebih kecil dari ekspektasi sebelumnya, di sekitar 90 MW,” jelas Direktur UNTR Vilihati Surya. (ZH)