Dolar melemah 0,07%, ekspektasi kenaikan suku bunga menguat
Senin, 07 September 2026
CALIFORNIA — Dolar AS berada di posisi tertekan pada perdagangan Senin (7/9), meski ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) meningkat.
Ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran tekanan inflasi yang lebih luas dan berpotensi mendorong bank sentral global memperketat kebijakan secara bersamaan.
Dilansir dari Reuters, perubahan sentimen terhadap yen Jepang serta kekhawatiran mengenai utang AS yang terus meningkat dan ketidakpastian kebijakan turut membebani dolar.
Pergerakan mata uang relatif terbatas pada awal perdagangan Asia karena pasar AS tutup untuk libur nasional.
Dolar juga kesulitan mempertahankan penguatan singkat yang diperolehnya setelah laporan ketenagakerjaan AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan pada Jumat.
Euro naik tipis menjadi US$1,1618, sedangkan pound sterling relatif tidak berubah di US$1,3519.
Terhadap sekeranjang mata uang, indeks dolar turun 0,07% menjadi 99,09, tidak jauh dari level terendah baru-baru ini di 98,558.
Trader kini memperkirakan peluang sekitar 57% The Fed menaikkan suku bunga pada bulan ini setelah rilis data nonfarm payrolls.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis Jumat.
"Data CPI yang tinggi hampir pasti akan memastikan kenaikan suku bunga pada September dan menopang dolar AS. Sebaliknya, data yang lebih rendah akan memperkuat alasan untuk mempertahankan suku bunga dan membuat dolar AS rentan terhadap perubahan ekspektasi ke arah kebijakan The Fed yang lebih dovish," kata Elias Haddad, Kepala Strategi Pasar Global BBH.
"Meski kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi kepastian, kami meragukan dolar AS akan mencatat level tertinggi baru dalam siklus ini. Pengetatan kebijakan oleh bank sentral utama lainnya membatasi perbedaan kebijakan moneter," ujarnya.
Tekanan inflasi akibat harga minyak yang masih tinggi menjadi salah satu alasan utama Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan menaikkan suku bunga menjadi 2,75% pada Kamis.
Pasar berjangka juga memperkirakan peluang 75% untuk kenaikan berikutnya menjadi 3% pada Desember.
Pasar juga memperkirakan peluang 75% Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 18 September. Peluang kenaikan berikutnya pada Desember diperkirakan mencapai 60%.
Sentimen Terhadap Yen Berubah?
Yen menguat lebih dari 0,2% menjadi 155,88 per dolar pada Senin, melanjutkan penguatan setelah penasihat ekonomi Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memperkirakan BoJ akan menaikkan suku bunga bulan ini.
Mata uang Jepang tersebut telah menguat lebih dari 2% pada pekan lalu, didorong sejumlah faktor, termasuk unwinding carry trade dan ekspektasi repatriasi modal yang dapat meningkatkan permintaan terhadap yen.
Eric Robertsen, Kepala Riset Global sekaligus Kepala Strategi Standard Chartered, mengatakan carry trade masih menjadi salah satu strategi makro dengan kinerja terbaik sepanjang tahun ini meski biaya pinjaman global meningkat.
Namun, "lonjakan terbaru" penguatan yen menjadi "ancaman potensial terhadap kinerja carry trade".
"Jika JPY terus menguat, hal ini dapat menandakan bahwa kenaikan suku bunga JPY dan dolar AS mulai memicu perubahan alokasi aset," kata Robertsen.
Di pasar mata uang lainnya, dolar Australia menguat 0,12% menjadi US$0,7208.
Sementara itu, dolar Selandia Baru relatif stabil di US$0,5880.
Bitcoin bertahan di atas level US$80.000 dan terakhir berada di US$80.145,95.
Aset kripto tersebut belakangan mendapat dukungan karena investor melakukan diversifikasi dari dolar AS ke aset lainnya. (DK)